Warga Manggarai Harus Tetap Waspada, Banyak Kasus Gigitan Dinyatakan Positif Rabies - FloresPos Net

Warga Manggarai Harus Tetap Waspada, Banyak Kasus Gigitan Dinyatakan Positif Rabies

- Jurnalis

Senin, 23 Desember 2024 - 14:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kadis Peternakan Manggarai, drh. Yustina Ladjar

Kadis Peternakan Manggarai, drh. Yustina Ladjar

RUTENG, FLORESPOS.net-Tidak semua hewan penular rabies (HPR) di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menggigit manusia diperiksa sampel otaknya guna memastikan positif rabies atau tidak.

Tetapi, beberapa kasus gigitan yang sampel otak HPR-nya diperiksa di laboratorium Dinas Peternakan Manggarai, hasilnya positif rabies.

Jumlahnya cukup banyak, yakni 11 kasus terbaru yang tersebar di Kecamatan Langke Rembong dan Kecamatan Ruteng.

Menurut Kadisnak Manggarai, drh. Yustina Ladjar yang ditemui wartawan di Ruteng, Senin (23/12/2024), siapapun harus waspada dengan banyaknya kasus gigitan HPR di Manggarai ini.

“Tak semua kasus gigitan memang dilaporkan dan apalagi yang diperiksa sampel otak anjingnya. Yang terjadi di lapangan bisa lebih banyak dibandingkan dengan yang dilaporkan. Karena itu, kita tetap harus waspada,” katanya.

Kasus gigitan yang terlapor dan otak HPR-nya di-rapid tes pada laboratorium yang ada, belakangan ini, banyak datang dari Kecamatan Ruteng dan Langke Rembong.

Dari 11 sampel yang diperiksa, semuanya positif dengan rincian di Kecamatan Langke Rembong, 5 kasus dan lainnya dari Kecamatan Ruteng.

Baca Juga :  NasDem Bagikan 250 Undian Berhadiah Meriahkan HUT 14

Di Kecamatan Langke Rembong, dua minggu lalu, satu kasus gigitan cukup menyita perhatian publik. Seekor anjing menggigit dua orang di Kelurahan Karot. Kasusnya positif rabies.

Dalam kejadian gigitan, publik sudah tahu standar operasionalnya. Korban gigitan di-VAR dan HPR-nya yang pemeliharaannya tertib langsung  diberi vaksin, dan yang berkeliaran secara swadaya dieliminasi.

Kasus Karot, sepekan lalu, telah dilakukan operasi di lapangan. Cukup banyak HPR yang diberi vaksin.

Apakah dengan itu keadaan aman? Belum tentu dan tidak pasti aman.

Sebabnya, tidak semua HPR ditertibkan pemeliharaannya. Kasat mata, HPR masih banyak yang berkeliaran.

Lalu, HPR yang masuk dari wilayah lain juga tak bisa dikontrol.

Kondisi tersebut yang menyulitkan penanganan selama ini sehingga kasus gigitan yang positif tetap selalu ada.

Dikatakan, banyaknya kasus gigitan menuntut penanganan maksimal seperti pemberian VAR baik untuk korban gigitan maupun untuk HPR-nya.

Baca Juga :  Dinkes Sikka Berharap Pembangunan Puskesmas Tuanggeo Bisa Dilanjutkan

Selalu ada soal di sini ketika stok VAR habis terpakai akibat tingginya kasus gigitan.

“Kita di Manggarai tahun ini, ada kejadian VAR untuk HPR habis. Kita terpaksa harus pinjam  dari Ngada dan beberapa kabupaten lain,” katanya.

Kepada masyarakat atau siapapun, Kadis Tuty Ladjar meminta agar semua HPR-nya diikat atau dikandangkan agar tidak digigit hewan lain.

Lalu, kalau ada kasus gigitan agar korbannya dibawa ke sarana dan fasilitas kesehatan pemerintah yang ada guna mendapatkan suntikan VAR.

Dalam banyak kasus meninggal dunia, setelah ditelusuri, ternyata korban gigitan  tidak diberi VAR sama sekali atau diberi VAR, tetapi tidak diberikan secara lengkap.

Warga Kota Ruteng, Agus Jerani mengatakan, untuk tertib memelihara HPR memang harus ada kesadaran mendalam dari pemiliknya. Kalau tidak, HPR-nya dilepas lagi begitu selesai operasi penertiban.

“Kalau kita aman, hewan harus tertib peliharanya. Itu saja yang harus dilakukan jika ingin daerah kita bebas dari rabies,” katanya. *

Penulis : Christo Lawudin

Editor : Anton Harus

Berita Terkait

Kuasa Hukum Korban Desak Polres Sikka Kejar Terduga Pelaku Kekerasan Seksual yang Kabur ke Kalimantan
Jelang Festival Golo Koe 2026, BPOLBF Perkuat Koordinasi Melalui Forum DISKORIA dan Bincang Kepariwisataan
Voli Soekarno Cup 1, Bhayangkara Presisi Polres Ende Raih Kemenangan di Laga Pertama
Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)
Kurangi Ketergantungan Pariwisata, Pembangunan Manggarai Barat 2027 Berbasis Pertanian, Peternakan, Perikanan
Anak Usia Sekolah Dominasi Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Ende, Satlantas Lakukan Ini
Dinkes Temukan Kasus Baru di tahun 2026, 27 Warga Ende Positif HIV/AIDS
Sampah “Siluman” Ketar Ketirkan DLHP Manggarai Barat
Berita ini 196 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:20 WITA

Kuasa Hukum Korban Desak Polres Sikka Kejar Terduga Pelaku Kekerasan Seksual yang Kabur ke Kalimantan

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:13 WITA

Jelang Festival Golo Koe 2026, BPOLBF Perkuat Koordinasi Melalui Forum DISKORIA dan Bincang Kepariwisataan

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:57 WITA

Voli Soekarno Cup 1, Bhayangkara Presisi Polres Ende Raih Kemenangan di Laga Pertama

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:47 WITA

Membangun Jembatan, Merajut Sinodalitas (Catatan di Awal Sidang Pleno FABC 2026)

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:27 WITA

Kurangi Ketergantungan Pariwisata, Pembangunan Manggarai Barat 2027 Berbasis Pertanian, Peternakan, Perikanan

Berita Terbaru