JAKARTA, FLORESPOS.net-Sejumlah gunung berapi di wilayah Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Fenomena ini membuat para ahli vulkanologi di berbagai negara meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan secara intensif.
Apa Itu Cincin Api Pasifik?
Cincin Api Pasifik, atau dikenal juga sebagai Circum-Pacific Belt, adalah rangkaian zona seismik dan vulkanik sepanjang 40.000 kilometer yang membentang dari pesisir barat Amerika Selatan, melewati Alaska, Jepang, Indonesia, hingga ke Selandia Baru.
Wilayah ini merupakan tempat bertemunya beberapa lempeng tektonik besar, yang menyebabkan seringnya gempa bumi dan letusan gunung berapi. Beberapa gunung yang aktivitasnya meningkat antara lain:
1. Gunung Berapi Great Sitkin, Alaska
Gunung Great Sitkin di Kepulauan Aleutian, Alaska, telah mengalami erupsi non-eksplosif sejak 2021.
Menurut US Geological Survey (USGS), lava terus mengisi kawah puncaknya secara perlahan, membentuk kubah tebal tanpa menghasilkan awan abu vulkanik.
“Lava masih keluar dari kawah puncak Gunung Great Sitkin. Erupsinya lambat, tidak meledak, dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti,” jelas para ilmuwan USGS.
- Kilauea, Hawaii
Meskipun tidak termasuk dalam Cincin Api Pasifik, Kilauea adalah salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Gunung ini berada di atas titik panas (hot spot) di bawah lempeng Pasifik. Saat ini, meski air mancur lavanya berhenti, tekanan magma di bawah permukaan terus meningkat.
Para ilmuwan memperkirakan Kilauea akan kembali meletus antara tanggal 17 hingga 20 Juli. Emisi gas sulfur dioksida pun tetap tinggi, yaitu 1.200–1.500 ton per hari. Kilauea pernah menyebabkan bencana besar pada 2018 ketika letusannya menghancurkan lebih dari 700 rumah di kawasan Leilani Estates.
- Gunung Rainier, Washington
Gunung Rainier adalah salah satu gunung berapi paling berbahaya di Amerika Utara, terutama karena ditutupi oleh gletser besar. Potensi ancaman bukan hanya dari letusan, tetapi juga dari lahar—aliran lumpur vulkanik yang bisa meluncur cepat dan menghancurkan pemukiman seperti Orting dan Puyallup.
Pada awal Juli 2025, Gunung Rainier mengalami gempa bumi terbanyak sejak tahun 2009, dengan 334 gempa kecil dalam dua hari. Meskipun tidak ada tanda deformasi tanah, aktivitas ini menambah daftar ribuan gempa yang terjadi sejak 2020.
“Bahkan erupsi kecil dapat memicu lahar mematikan di Rainier,” menurut laporan USGS tahun 2023.
- Gunung Spurr, Alaska
Gunung Spurr, sekitar 130 kilometer dari Anchorage, belum meletus sejak 1992. Namun, sejak Februari lalu, aktivitas gempa dangkal kembali terdeteksi di bawah gunung ini.
Hingga saat ini, belum ada indikasi pergerakan magma atau emisi gas, namun gunung ini tetap dalam status waspada.
- Gunung Api Bawah Laut Axial Seamount
Gunung Api yang Diam-diam Aktif: Axial Seamount Di lepas pantai Oregon, gunung berapi bawah laut Axial Seamount juga menjadi perhatian para peneliti.
Gunung ini perlahan mengalami inflasi—tanda tekanan magma yang meningkat di bawah permukaan dasar laut. Para ahli memperkirakan gunung ini akan meletus pada tahun 2025.
Namun, karena letaknya jauh di bawah laut, peristiwa ini kemungkinan tidak akan berdampak langsung pada masyarakat dan hanya akan dipantau oleh tim ahli kelautan.
6.Gunung Popocatépetl, Meksiko
Sepanjang 2020-2025, Popocatépetl menunjukkan aktivitas erupsi kecil hingga sedang hampir setiap hari, dengan emisi abu, gas, dan lontaran material vulkanik.
Pada 2023, aktivitas meningkat dengan kolom abu mencapai ketinggian 6-7 km, menyebabkan peringatan untuk penerbangan dan evakuasi terbatas di komunitas sekitar.
Hingga Juli 2025, erupsi strombolian (letusan kecil berulang) terus terjadi, dengan status siaga yang ditingkatkan oleh otoritas Meksiko.
- Gunung Shiveluch, Rusia
Berada di Semenanjung Kamchatka, Rusia, bagian dari busur vulkanik Cincin Api Pasifik, pada 2020-2023, Shiveluch mengalami erupsi berulang dengan aliran piroklastik dan kolom abu setinggi 10 km, menjadikannya salah satu gunung api paling aktif di Rusia.
Pada 2024, aktivitas meningkat dengan letusan besar yang menghasilkan aliran lava dan abu yang menyebar hingga ratusan kilometer, memengaruhi penerbangan di wilayah Pasifik utara.
8.Gunung Villarrica, Chili
Pada 2020-2022, Villarrica menunjukkan peningkatan aktivitas seismik dan emisi gas, dengan letusan kecil yang menghasilkan danau lava di kawah puncak.
Pada 2023-2024, erupsi strombolian terjadi, dengan lontaran lava dan abu vulkanik, menyebabkan peningkatan status kewaspadaan.
Hingga 2025, aktivitas vulkanik tetap tinggi, dengan peringatan untuk penduduk dan wisatawan di sekitar gunung.
- Gunung Sakurajima, Jepang
Berada di Pulau Kyushu, sepanjang 2020-2025, Sakurajima mengalami letusan kecil hingga sedang secara rutin, dengan kolom abu mencapai 3-5 km.
Pada 2024, aktivitas meningkat dengan erupsi yang lebih sering, menghasilkan abu vulkanik yang mengganggu wilayah perkotaan di Kagoshima.
Bagaimana dengan gunung api di Indonesia?
Indonesia, sebagai bagian dari Cincin Api Pasifik, merupakan wilayah dengan aktivitas vulkanik dan seismik tertinggi di dunia dengan 127 gunung berapi aktif.
Letak geografis Indonesia di pertemuan tiga lempeng tektonik utama—Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik—membuatnya rawan terhadap letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami.
Dalam lima tahun terakhir (2020-2025), sejumlah gunung berapi di Indonesia menunjukkan peningkatan aktivitas atau mengalami letusan.
1. Gunung Merapi di Yogyakarta
Gunung Merapi salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, dijuluki “Gunung Berapi Dekade” oleh Asosiasi Internasional Vulkanologi karena aktivitasnya yang tinggi.
Pada tahun 2020-2021, Gunung Merapi mengalami beberapa kali erupsi dengan letusan freatik dan aliran lava pijar.
Awan panas dan abu vulkanik menyebar hingga radius 5 km, memaksa evakuasi warga di sekitar lereng gunung.
Pada 2022, aktivitas vulkanik meningkat dengan guguran lava dan awan panas yang terjadi hampir setiap minggu, terutama di sisi barat daya dan tenggara.
Hingga 2025, Merapi tetap berada pada status Siaga (Level III) dengan aktivitas vulkanik yang fluktuatif, termasuk guguran lava dan emisi gas vulkanik.
- Gunung Semeru, Jawa Timur
Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini dikenal dengan aktivitas erupsi yang hampir konstan. Pada Desember 2021, Semeru meletus besar, menghasilkan awan panas dan lahar dingin yang menghancurkan desa-desa di sekitar Lumajang.
Sepanjang 2022-2023, aktivitas vulkanik berupa letusan kecil dan awan panas terus terjadi, dengan status Waspada (Level II) hingga Siaga (Level III).
Pada 2024, peningkatan aktivitas seismik dan emisi abu vulkanik membuat pemerintah melarang aktivitas pendakian dan membatasi aktivitas dalam radius 8 km dari puncak.
- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda
Gunung berapi muda yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau pada 1883 ini mengalami erupsi kecil secara berkala, menghasilkan abu vulkanik dan lontaran lava ke laut.
Pada 2023, aktivitas meningkat dengan letusan strombolian (letusan kecil berulang) dan emisi abu setinggi 2-3 km, menyebabkan peringatan untuk kapal-kapal di sekitar Selat Sunda.
Hingga 2025, aktivitas vulkanik tetap tinggi dengan status Waspada (Level II), dengan potensi tsunami kecil akibat longsoran material gunung.
- Gunung Sinabung, Sumatra Utara
Gunung Sinabung sempat tidak aktif selama ratusan tahun sebelum meletus kembali pada 2010. Pada 2020-2021, Sinabung mengalami erupsi berulang dengan kolom abu mencapai 5-7 km, menyebarkan abu vulkanik hingga ke Medan.
Pada 2022, aktivitas menurun, tetapi masih terjadi letusan kecil dan guguran lava, dan hingga 2025, Sinabung tetap dipantau dengan status Waspada (Level II) karena potensi erupsi mendadak.
- Gunung Ibu, Maluku Utara
Gunung yang berada di Pulau Halmahera, Maluku Utara ini sangat aktif dengan sejarah letusan yang cukup sering. Pada 2020-2023, Gunung Ibu menunjukkan peningkatan aktivitas dengan letusan kecil, emisi abu, dan guguran lava.
Pada 2024, terjadi erupsi signifikan dengan kolom abu setinggi 5 km, menyebabkan status Siaga (Level III) diberlakukan. Hingga 2025, aktivitas vulkanik berupa letusan kecil terus berlangsung.
- Gunung Lewotobi Laki-Laki, Flores, Nusa Tenggara Timur
Pada 2023-2024, Lewotobi Laki-Laki mengalami peningkatan aktivitas dengan letusan kecil, emisi abu, dan aliran lava pijar.
Pada awal 2025, erupsi besar terjadi, menghasilkan kolom abu setinggi 10 km dan menyebabkan status Awas (Level IV). Warga dievakuasi dari radius 7 km.
Mengapa Aktivitas Vulkanik Meningkat?
Peningkatan aktivitas gunung berapi di Indonesia dalam lima tahun terakhir dipicu oleh dinamika lempeng tektonik di Cincin Api Pasifik.
Proses subduksi, di mana lempeng Indo-Australia menunjam di bawah lempeng Eurasia, menghasilkan magma yang memicu letusan.
Selain itu, akumulasi energi di zona subduksi yang belum terlepas selama bertahun-tahun (dikenal sebagai seismic gap) juga berkontribusi pada aktivitas vulkanik dan seismik yang tinggi. Menurut para ilmuwan, peningkatan aktivitas ini bukan hal aneh.
Cincin Api Pasifik adalah tempat bertemunya lempeng-lempeng tektonik besar, termasuk Lempeng Pasifik yang menyusup ke bawah lempeng tetangganya. Proses ini menyebabkan tekanan geologi yang luar biasa, memicu gempa bumi dan letusan gunung berapi.
“Gunung berapi ini sangat tidak bisa diprediksi karena terbentuk dari pergerakan alami kerak bumi,” ujar pakar geologi USGS.
Apakah Warga Perlu Khawatir?
Untuk saat ini, para ahli menyatakan tidak ada gunung berapi aktif yang mengancam langsung permukiman penduduk. Semua aktivitas vulkanik masih dalam fase pemantauan, dan belum ada perintah evakuasi dari otoritas terkait.
Namun, pengalaman masa lalu seperti letusan Kilauea tahun 2018 dan potensi lahar dari Rainier menunjukkan bahwa kewaspadaan tetap penting. Teknologi pemantauan terbaru—seperti citra satelit, sensor gas, dan seismograf—membantu para ilmuwan mendeteksi tanda-tanda letusan lebih awal.
Meskipun letusan gunung berapi membawa risiko besar, Indonesia dan juga negara lain dengan gunung api juga memanfaatkan potensi alamnya, seperti tanah subur dan energi geotermal. *
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi
Sumber Berita : Kompas.com










