LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Pemerintah harus segera membangun jalan Golo Mori-Ceremba, wilayah selatan Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Demikian Hasanudin, Sekretaris Fraksi Harapan Baru DPRD Mabar kepada media ini usai sidang paripurna 14 dewan setempat di Labuan Bajo, Senin (14/7/2025).
Kata Hasan, sapaan akrab Hasanudin, selain alasan demi keadilan pembangunan wilayah, juga karena Golo Mori-Ceremba belum ada jalan yang dilalui kendaraan bermotor. Golo Mori bagian selatan Kecamatan Komodo, Ceremba juga bagian selatan Kecamatan Sano Nggoang.
Di sisi lain, kedua wilayah bertetangga itu sama-sama punya potensi pariwisata kelas dunia. Kekuatan daya tarik wisata Golo Mori antara lain alam, termasuk laut dan pantainya, juga budaya.
Demikian pula wilayah selatan Kecamatan Sano Nggoang, termasuk Ceremba dan sekitar. Potensi wisatanya berada pada kekuatan alam, budaya,termasuk telaga raksa alam “Danau Sano Nggoang”.
Namun sayangnya hingga saat ini belum ada jalan raya untuk dilewati kendaraan bermotor/bermesin. Padahal ada sekitar 7 desa di selatan Kecamatan Sano Nggoang itu yang justru sangat dekat dengan Golo Mori, antara lain Desa Wae Sano, Mata Wae, Golo Sengang, dan Desa Pulau Nunjung. Anak kampung desa-desa itu antara lain Ceremba, Paku, Bokak Rangga, Naga, Nunang, termasuk Paroki Nunang.
Penduduk 7 desa itu apabila datang atau pulang dari Labuan Bajo, lebih dekat melalu Golo Mori. “Mereka kalau datang ke Golo Mori mungkin sekitar satu jam jalan kaki atau tunggang kuda sudah sampai,” kata Hasan.
“Ke Labuan Bajo juga dekat. Sekarang Golo Mori-Labuan Bajo dengan mobil atau sepeda motor hanya sekitar setengah jam saja, jalannya hotmix,” kata Hasan lagi.
Tetapi selama ini, lanjut Hasan, kalau warga selatan Sano Nggoang, seperti Ceremba dan lain-lain, bila ke Labuan Bajo atau ke Golo Mori dengan mobil atau sepeda motor mau tak mau tempuh perjalanan panjang, makan waktu berjam-jam karena putar-putar.
Mereka dari selatan ke utara Kecamatan Sano Nggoang, lalu putar di Kecamatan Mbeliling baru masuk di timur Kecamatan Komodo sebelum tiba Labuan Bajo. Kemudian putar lagi ke selatan Kecamatan Komodo sebelum masuk Golo Mori.
Tidak hanya alasan-alasan itu agar segera dibangun tuntas jalan Golo Mori-Ceremba, tetapi ada pertimbangan lain, yaitu pelayanan Gereja Katolik. Di antaranya Stasi Lo’ok di Desa Golo Mori bagian dari Paroki Nunang di selatan Kecamatan Sano Nggoang.
Kemudian, tidak menutup kemungkinan ruas Golo Mori-Ceremba kelak nanti akan jadi jalan poros selatan trans Flores, Labuan Bajo-Larantuka Kabupaten Flores Timur.
“Ini semua alasan saya yang mendesak Pemerintah segera bangun tuntas jalan Golo Mori-Ceremba,”ujar Hasan.
Hasan melanjutkan, dia tidak sependapat dengan jawaban Pemkab Pemkab Mabar pada sidang paripurna dewan setempat ke 14 sesaat sebelumnya.
Jawaban Pemkab Mabar itu terkait pembangunan jalan Golo Mori-Ceremba diusulkan melalu program nasional Inpres Jalan Daerah (IJD) kepada Pemerintah Pusat melalu Kementerian PUPR.
“Itu kan hal yang belum pasti dikabulkan Pempus,” Ketus Hasan yang juga Plt. Ketua Perindo Mabar itu.
Sebelumnya pada rapat paripurna DPRD Mabar ke 14 dengan agenda jawaban pemerintah atas pemandangan umum Fraksi-Fraksi DPRD Mabar terhadap pengantar nota keuangan atas rancangan perubahan APBD Mabar 2025 antara lain mengatakan, pembangunan jalan Golo Mori-Ceremba dan ruas jalan Mamis-Warsawe, Pemda Mabar berubah pengusulan melalu program nasional Inpres jalan Daerah (IJD) Tahun 2025 ke Pemerintah Pusat melalu Kementerian PUPR dengan harapan dapat terakomodir.
Jawaban Pemkab Mabar dibacakan Sekda Fransiskus Sales Sodo. Paripurna di ruang rapat utama DPRD Mabar itu dipimpin Ketua Dewan Benediktus Nurdin. Hadir wakil rakyat dan jajaran Pemkab Mabar. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










