“Penjajahan langsung (secara fisik) telah berlalu namun ia selalu hadir dalam bentuk dan model baru yang mengekploitasi, memecah-belah dan menciptakan budaya konsumtif dan ketergantungan masyarakat terhadapnya”, jelas Silvester Hurit.
Pada pentas kali ini juga, Silvester Hurit mengatakan, Nara Teater konsen pada narasi-narasi minor, sejarah orang-orang kalah serta tokoh-tokoh yang tak terbaca dalam sejarah dominan.
“Sejarah selalu diproduksi oleh pemenang, oleh kekuasaan. Nara tertarik pada kisah-kisah yang tak umum dan menghadirkannya sebagai fiksi pertunjukan (realitas imaginatif) supaya masyarakat selalu dapat kritis melihat kemungkinan-kemungkinan yang lain dari peristiwa-peristiwa kehidupan,” katanya.
Tujuan pentas ini, kata Silvester Hurit, “adalah supaya kita menjaga tanah kita, laut kita, langit kita. Jangan sampai karena kepentingan pemodal, penguasa, kita mengulangi sejarah penguasaan atas tanah kita.”
“Jualan isunya manis. Ujung-ujungnya adalah penguasaan. Kita jadi korban di tanah kita sendiri. Terkotak-kotak, terpecah-belah. Tersisih dari akses sumber daya dan peluang hidup sebagai pemilik tanah kita,” kata Silvester Hurit.
Pentas Nara Teater kali ini melibatkan para aktor: Rin Wali, Ina Sabu, Elis Kehi, Veonyah, Din Odjan, Zaeni Boli, Hero Maran, Jhon Dasilva, Martin Kabelen, Laus daSilva, Jhon Junior, Minggus, Kayla, Alfa, Shiren. Penata Artistik: Mance RL, Penata Musik: Hani Balun, Multimedia: Ipung, Publikasi: Jhoe.
Semetara Kepala Desa Nayubaya Tarsisius Duru (46) bergembira atas pentas Nara Teater di desanya. “Kami bergembira bisa menonton pentas Nara Teater secara langsung. Di samping menghibur, tentu ada nilai-nilai baik, pesan-pesan baik yang sangat berguna.”
Kata Tarsisius, “Ini jadi peristiwa kerjasama yang penting terutama supaya kita tetap belajar saling mendukung, memperkaya dan menjaga kebersamaan baik hari ini maupun ke depannya.” *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus
Halaman : 1 2










