LARANTUKA, FLORESPOS.net-Nara Teater menggelar Pentas Tur “Ibu Tanah” selama tahun 2025 di Pulau Adonara, Pulau Solor, Flores daratan, Kabupaten Flores Timur dan Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pentas Tur pertama berlangsung di Desa Nayubaya tepatnya di lapangan Voli SDI Basrani pada 17 Juli 2025 pukul 19.30 WITA. Setelah Desa Nayubaya, Nara Teater akan melanjutkan pentas tur ke Solor dan Lembata.
“Nara Teater akan pentas tur pertama di lapangan voli SDI Basrani Desa Nayubaya, Pulau Adonara pada Kamis, 17 Juli 2025 pukul 19.30 waktu setempat,” kata Ketua Nara Teater Rin Wali dalam keterangan yang terima Florespos.net, Senin (14/7/2025).
Rin Wali mengatakan, Pentas Tur pertama di Desa Nayubaya, Nara Teater akan pentas teater dengan judul ‘Ibu Tanah’. Kata Rin Wali, pentas “Ibu Tanah” adalah kesempatan dimana teater bersua dengan masyarakat.
“Kami sebagai pemain dan seluruh pendukung pentas bergembira bisa hadir, bertemu masyarakat dalam peristiwa teater. Apa yang kami gali dan rancang-bangun dapat hadir kepada penonton. Teater adalah peristiwa pertemuan. Di sana, kita saling membaca dan memperkaya. Melihat hidup dengan perspektif yang lebih beragam,” jelasnya.
Silvester Petara Hurit, Sutradara sekaligus pendiri Nara Teater menjelaskan, pentas kali ini merupakan hasil dari sejumlah pembacaan Nara Teater terhadap jejak-jejak kolonial yang mengadu-domba masyarakat. Masyarakat harus dibikin terbelah.
Perbedaan ditajam-tajamkan supaya tercipta konflik dan melemahkan perlawanan masyarakat terhadap penindasan dan dominasi kolonial.
Karya “Ibu Tanah”, kata Silvester Hurit, lahir dari pelacakan mitos, pendudukan Majapahit dan Ternate, kedatangan kolonial Eropa, kebijakan dan strategi kolonial, eksploitasi sumber daya, pelemahan terhadap kepemimpinan tradisional, siasat adu-domba dan sekian model eksploitasi hari ini.
Silvester Hurit mengatakan, sebagai kelompok yang sudah malang-melintang mementaskan karya-karyanya di sejumlah event nasional, Nara memilih Nayubaya karena pengalaman historis dan pentingnya “baya”(persekutuan) dalam budaya Lamaholot.
Masyarakat akan lebih kuat dan mawas jika belajar dari pengalaman sejarahnya baik itu pengalaman luka, trauma maupun peristiwa heroik masa lalunya.
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus
Halaman : 1 2 Selanjutnya











