Dari “Luka” Yang Mendera Hingga Pengharapan tentang Migrasi dan Perantauan Bermartabat - FloresPos Net - Page 7

Dari “Luka” Yang Mendera Hingga Pengharapan tentang Migrasi dan Perantauan Bermartabat

- Jurnalis

Jumat, 4 Juli 2025 - 18:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kecenderungan anak muda untuk terjebak dalam narasi palsu tentang keberhasilan migrasi merefleksikan ketimpangan informasi dan lemahnya formasi identitas religius yang mampu menjadi kompas moral.

Maka, strategi Gereja—melalui pencegahan sejak dini, pembekalan keterampilan hidup, dan pembinaan rohani yang kontekstual—dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan kohesi sosial dan membangun subjek religius yang resilien di tengah hegemoni nilai-nilai pasar.

Keterlibatan tarekat religius dalam proses ini memperluas horizon pastoral, menghadirkan spiritualitas yang membumi dan jaringan pendampingan yang melintasi batas geografis.

Dengan demikian, Gereja memainkan peran ganda: menjaga integrasi sosial dan merawat spiritualitas kaum muda dalam lanskap migrasi yang kompleks dan terus berubah.

Baca Juga :  Dum Truck Terjun ke Jurang, 8 Orang Warga Nagekeo Dilarikan ke Rumah Sakit Aeramo

Seruan kolektif para uskup dalam Perpas XII ini menegaskan kembali peran sakral Gereja sebagai agensi moral yang berfungsi tidak hanya dalam ruang ibadah, tetapi dalam medan sosial yang penuh kerentanan dan dislokasi.

Kehadiran Gereja sebagai pelita dan pelindung di tengah arus migrasi mengartikulasikan agama sebagai kekuatan simbolik dan praksis yang membentuk solidaritas, menyembuhkan luka sosial, dan menjamin martabat manusia dalam situasi ketidakpastian struktural.

Baca Juga :  Festival Waiblama Meriahkan Peringatan Hari Sumpah Pemuda

Ketika negara dan masyarakat kadang tak mampu memberi perlindungan yang memadai, Gereja tampil sebagai komunitas transnasional yang membuka ruang pemulihan dan pengakuan—sebuah resting place yang bukan hanya spiritual, tetapi juga sosial-politik, tempat di mana yang terluka didengar dan yang tertindas dipulihkan.

Dalam wajah-wajah migran yang terluka, Gereja membaca kembali teks iman dan sejarahnya sendiri—melihat bahwa ziarah umat bukanlah laku pasif, tetapi gerakan historis menuju dunia yang lebih adil dan berbelas kasih.*

Penulis: Seksi Publikasi Panitia Perpas XII Regio Nusra

Berita Terkait

Dorong Budaya Baca Sejak Dini, MPK Hadir di Hardiknas 2026 di SMPN1 Alok
Bupati Ende Tegaskan Buruh Jangan Takut Laporkan Pelanggaran Ketenagakerjaan ke Pemerintah
Dinas Transnaker Ungkap Alasan Upah Pekerja di Ende Jauh dari UMP
Polemik “Pers Perut Kosong” Berakhir, Odorikus Minta Maaf
Hari Buruh di Flores Timur–Buruh Tulang Punggung Perekonomian dan Pilar Utama Pembangunan
Hari Buruh, Bupati Ende Tekankan Upah, Kenyamanan Pekerja dan Jam Kerja
Masih Banyak Pekerja di Sikka Mendapat Upah Tak Sesuai UMR
Polres Ende Hadirkan Pos Pol Airud di Desa Keliwumbu
Berita ini 248 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:26 WITA

Dorong Budaya Baca Sejak Dini, MPK Hadir di Hardiknas 2026 di SMPN1 Alok

Jumat, 1 Mei 2026 - 18:51 WITA

Bupati Ende Tegaskan Buruh Jangan Takut Laporkan Pelanggaran Ketenagakerjaan ke Pemerintah

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:50 WITA

Dinas Transnaker Ungkap Alasan Upah Pekerja di Ende Jauh dari UMP

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:47 WITA

Polemik “Pers Perut Kosong” Berakhir, Odorikus Minta Maaf

Jumat, 1 Mei 2026 - 16:02 WITA

Hari Buruh di Flores Timur–Buruh Tulang Punggung Perekonomian dan Pilar Utama Pembangunan

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Polemik “Pers Perut Kosong” Berakhir, Odorikus Minta Maaf

Jumat, 1 Mei 2026 - 17:47 WITA