Dari “Luka” Yang Mendera Hingga Pengharapan tentang Migrasi dan Perantauan Bermartabat - FloresPos Net - Page 4

Dari “Luka” Yang Mendera Hingga Pengharapan tentang Migrasi dan Perantauan Bermartabat

- Jurnalis

Jumat, 4 Juli 2025 - 18:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kehadiran Gereja di pelabuhan deportasi, ladang konflik agraria, dan ruang pengadilan merupakan ekspresi dari iman yang terinkarnasi dalam praktik sosial—menandakan bahwa otoritas moral keagamaan tidak hanya diartikulasikan di altar, tetapi juga diperjuangkan dalam ranah-ranah struktural tempat kekuasaan dan penderitaan bersilangan.

Melalui jaringan pastoral yang terlibat dalam advokasi, regulasi, dan pemulihan martabat korban migrasi, Gereja memainkan peran sebagai agen pendampingan sosial yang responsif terhadap dinamika mobilitas global.

Dengan demikian, Gereja hadir sebagai subjek historis yang berjalan bersama kaum migran bukan hanya untuk menghibur luka, tetapi juga untuk merekonfigurasi struktur ketidakadilan melalui solidaritas dan harapan yang diwujudkan dalam praksis kolektif.

Refleksi Mgr. Siprianus Hormat dalam Perpas XII menyoroti migrasi sebagai ekspresi spiritual sekaligus fenomena sosial yang kompleks—sebuah pencarian akan kehidupan yang lebih bermartabat yang berakar pada iman dan harapan, bukan semata dorongan ekonomi.

Baca Juga :  “Harapan Baru” di Tangan Yohanes Hans Monteiro, Uskup Terpilih Larantuka

Migrasi, dalam hal ini, menjadi bentuk ziarah eksistensial yang menandai pergulatan manusia dengan struktur sosial yang sering kali tidak adil.

Namun, di balik impian itu, realitas yang dihadapi para Pekerja Migran Indonesia, khususnya dari Nusa Tenggara, mengungkap luka kolektif yang belum tersembuhkan: ketiadaan dokumen, eksploitasi, dan ketidakpastian hukum yang mereproduksi kerentanan secara sistemik. Migrasi, alih-alih membebaskan, justru menelanjangi keterbatasan negara dan lemahnya jaringan perlindungan sosial.

Dalam bacaan sosiologis, tubuh-tubuh migran yang kembali tanpa identitas dan jaminan menjadi simbol dari tubuh sosial yang koyak—menantang lembaga keagamaan dan negara untuk merefleksikan ulang tanggung jawabnya dalam menjamin martabat manusia yang bermigrasi.

Baca Juga :  Daftar Skuad Flores United FC Berlaga di Soeratin Cup Kupang

Dalam narasi sosiologi agama, respons Gereja terhadap fenomena migrasi—yang dimulai dari akar komunitas hingga ke ranah global—menunjukkan bahwa institusi keagamaan berperan aktif sebagai agen transformasi struktural.

Melalui pembinaan iman di desa asal, pendampingan lintas batas, dan advokasi hak asasi di negeri tujuan, Gereja tidak hanya menjalankan tugas pastoral, tetapi juga mereproduksi solidaritas transnasional yang berakar pada nilai martabat manusia.

Migran, dalam kerangka ini, tidak dipandang sebagai entitas statistik dalam arus globalisasi, melainkan sebagai subjek moral yang membawa narasi iman dan kerentanan.

Dengan menjadikan wajah Kristus hadir dalam diri setiap migran, Gereja memperluas cakrawala etisnya—menghadirkan teologi yang bergerak dalam praksis sosial dan memperjuangkan keadilan sebagai ekspresi iman yang membebaskan.

Berita Terkait

PWMB Ziarah ke Pusara John Lewar, Wartawan Senior Manggarai Barat
Warga Kabupaten Sikka Hasilkan 48 Ton Sampah Setiap Hari,40 Persennya Merupakan Sisa Makanan
Bupati Sikka Berharap Pers Selalu Bicara Jujur, faktual dan Obyektif
Hari Pers Nasional, Bupati Sikka Undang Wartawan Bahas Penanganan Kebersihan di Kota Maumere
Trash Hero Larantuka Gelar Aksi Bersih Pantai ke-151: Edukasi Masyarakat dan Orang Muda Kurangi Sampah Plastik
𝗝𝘂𝗿𝗻𝗮𝗹𝗶𝘀𝗺𝗲 𝗕𝗲𝗿𝗸𝘂𝗮𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀: 𝗙𝗼𝗻𝗱𝗮𝘀𝗶 𝗞𝗲𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗟𝗶𝘁𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 𝗕𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮
Bupati Sikka Terima 56 Peserta Tur Wisata Literasi dari Dari Mi Al Muhajirin Perumnas Maumere
HPN 2026, PWMB Serahkan Sembako kepada Warga Menjaga
Berita ini 214 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:56 WITA

PWMB Ziarah ke Pusara John Lewar, Wartawan Senior Manggarai Barat

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:38 WITA

Warga Kabupaten Sikka Hasilkan 48 Ton Sampah Setiap Hari,40 Persennya Merupakan Sisa Makanan

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:34 WITA

Bupati Sikka Berharap Pers Selalu Bicara Jujur, faktual dan Obyektif

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:28 WITA

Hari Pers Nasional, Bupati Sikka Undang Wartawan Bahas Penanganan Kebersihan di Kota Maumere

Senin, 9 Februari 2026 - 16:54 WITA

Trash Hero Larantuka Gelar Aksi Bersih Pantai ke-151: Edukasi Masyarakat dan Orang Muda Kurangi Sampah Plastik

Berita Terbaru

PWMB berdoa di pusara mendiang Yohanes

Nusa Bunga

PWMB Ziarah ke Pusara John Lewar, Wartawan Senior Manggarai Barat

Selasa, 10 Feb 2026 - 15:56 WITA