Sembari mengambil gambar, Udin menceritakan sejarah rumah ini dan harapannya sebagai sang juru pelihara tentu kepada pemerintah dan pihak terkait lainnya.

Udin juga menceritakan sering merasakan aura Bung Karno pada bulan Soekarno terutama jelang 1 Juni Hari Lahir Pancasila, Hari Lahir Bung Karno 6 Juni 1901 dan tanggal wafat Bung Karno 21 Juni 1970.
“Saya sering rasakan itu terutama setiap jelang Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Bukan saya saja, ada pengunjung juga pernah rasakan itu,” katanya.
Udin mengatakan ia mendapatkan informasi pada perayaan Harla Pancasila 1 Juni 2025, pemerintah tak lagi mengadakan parade kebangsaan seperti tahun sebelumnya yang dilaksanakan setiap 31 Mei yang selalu menyinggahi situs rumah pengasingan.
Pada tahun ini perayaan Hari Lahir Pancasila hanya bersifat upacara bendera di lapangan Pancasila dan parade terbatas.
“Saya diinformasikan hanya menyiapkan tempat ini karena pak Gubernur NTT akan singgah di sini sebelum menjadi Irup Harla Pancasila di lapangan Pancasila,” kata Udin.
Meski demikian, Udin berharap kepada pemerintah baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah jangan melupakan sejarah rumah ini.
Rumah ini menjadi bagian penting dalam jejak sejarah Bung Karno di Kota Ende bersama Taman Renungan, Serambi Soekarno di Biara St Yosef milik Kongregasi SVD, Gereja Katedral, Masjid Arabitha, Gedung Imaculata dan makam Ibu Amsi.
Di penghujung ngobrol kami, Udin menyelipkan harapan kepada pemerintah agar setiap tanggal penting terkait Bung Karno yaitu 1 Juni, 6 Juni dan 21 Juni digelar doa kebangsaan di situs rumah pengasingan Bung Karno.
“Selama ini dari pemerintah tidak pernah menggelar doa di sini, biasanya hanya orang- orang dari luar yang doa secara pribadi,” kata Udin.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










