Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas: Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik - FloresPos Net - Page 2

Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas: Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

- Jurnalis

Minggu, 23 Februari 2025 - 19:57 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Michael D. Kabatana

Michael D. Kabatana

Ada empat komunitas utama yang harus bekerja sama dalam menciptakan pendidikan karakter yang holistik.

Pertama, komunitas sekolah, yang melibatkan siswa, guru, staf, dan pengurus yayasan. Kedua, komunitas keluarga, yang terdiri dari orang tua, wali siswa, dan komite sekolah.

Ketiga, komunitas masyarakat, yang mencakup LSM, pengusaha, dan berbagai kelompok sosial. Keempat, komunitas politik, yang melibatkan pejabat birokrasi di bidang pendidikan, mulai dari tingkat dinas hingga kementerian.

Keempat komunitas ini harus saling bersinergi, karena pendidikan karakter bukanlah tanggung jawab satu pihak, melainkan misi bersama yang membutuhkan keterlibatan semua.

Baca Juga :  Kurangi Ketergantungan Pariwisata, Pembangunan Manggarai Barat 2027 Berbasis Pertanian, Peternakan, Perikanan

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa tidak menyerahkan saja tanggung jawab pendidikan karakter kepada sekolah? Bukankah sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang sudah dibiayai untuk itu?

Pertanyaan ini wajar, tetapi jawabannya tidak sesederhana itu. Sekolah memang lembaga formal, tetapi pendidikan karakter yang hanya disalurkan secara formal seringkali tidak menyentuh inti diri seorang anak.

Di sinilah peran keluarga menjadi krusial. Keluarga adalah komunitas pertama dan paling dekat secara emosional dengan anak.

Pendidikan karakter dalam keluarga memiliki kekuatan untuk menyentuh hati dan pikiran anak secara mendalam, sesuatu yang mungkin sulit dicapai hanya melalui pendidikan formal.

Baca Juga :  Di Atas Papan Hitam Putih: Memaknai Kehidupan melalui Filosofi Catur

Selain itu, ada aspek-aspek tertentu dalam pendidikan karakter yang tidak bisa sepenuhnya dibahas di sekolah. Misalnya, pendidikan seks.

Topik ini seringkali dianggap tabu untuk dibicarakan di lingkungan sekolah karena dua alasan utama. Pertama, pendidikan seks adalah hak prerogatif orang tua.

Kedua, seks adalah hal yang sangat personal dan sensitif, sehingga tidak mudah didiskusikan secara terbuka dalam setting formal (Kenneth A. Strike dan Jonas F. Soltis: 2007).

Editor : Wall Abulat

Berita Terkait

Technical Delegate PSSI Visitasi Stadion Marilonga Ende, Ini Catatan untuk Pembenahan
Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Pesan Penting Uskup Maumere Saat Tahbiskan Tujuh Imam Baru Ordo Karmel
Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Gebrakan Disnakertrans Sikka: Aula Kantor Camat Mego Jadi Pusat Sosialisasi dan Mini Job Fair
Berita ini 272 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:49 WITA

Technical Delegate PSSI Visitasi Stadion Marilonga Ende, Ini Catatan untuk Pembenahan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:38 WITA

Pesan Penting Uskup Maumere Saat Tahbiskan Tujuh Imam Baru Ordo Karmel

Jumat, 16 Oktober 2026 - 07:46 WITA

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Berita Terbaru

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA

Pembicara dan Petinggi Stipas Kupang pose bersama usai kuliah umum.

Nusa Bunga

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:46 WITA