Ada empat komunitas utama yang harus bekerja sama dalam menciptakan pendidikan karakter yang holistik.
Pertama, komunitas sekolah, yang melibatkan siswa, guru, staf, dan pengurus yayasan. Kedua, komunitas keluarga, yang terdiri dari orang tua, wali siswa, dan komite sekolah.
Ketiga, komunitas masyarakat, yang mencakup LSM, pengusaha, dan berbagai kelompok sosial. Keempat, komunitas politik, yang melibatkan pejabat birokrasi di bidang pendidikan, mulai dari tingkat dinas hingga kementerian.
Keempat komunitas ini harus saling bersinergi, karena pendidikan karakter bukanlah tanggung jawab satu pihak, melainkan misi bersama yang membutuhkan keterlibatan semua.
Mungkin muncul pertanyaan, mengapa tidak menyerahkan saja tanggung jawab pendidikan karakter kepada sekolah? Bukankah sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang sudah dibiayai untuk itu?
Pertanyaan ini wajar, tetapi jawabannya tidak sesederhana itu. Sekolah memang lembaga formal, tetapi pendidikan karakter yang hanya disalurkan secara formal seringkali tidak menyentuh inti diri seorang anak.
Di sinilah peran keluarga menjadi krusial. Keluarga adalah komunitas pertama dan paling dekat secara emosional dengan anak.
Pendidikan karakter dalam keluarga memiliki kekuatan untuk menyentuh hati dan pikiran anak secara mendalam, sesuatu yang mungkin sulit dicapai hanya melalui pendidikan formal.
Selain itu, ada aspek-aspek tertentu dalam pendidikan karakter yang tidak bisa sepenuhnya dibahas di sekolah. Misalnya, pendidikan seks.
Topik ini seringkali dianggap tabu untuk dibicarakan di lingkungan sekolah karena dua alasan utama. Pertama, pendidikan seks adalah hak prerogatif orang tua.
Kedua, seks adalah hal yang sangat personal dan sensitif, sehingga tidak mudah didiskusikan secara terbuka dalam setting formal (Kenneth A. Strike dan Jonas F. Soltis: 2007).
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










