Frater Sebastianus menjelaskan, setelah tiba waktunya jam 12.0 WITA maka akan ada pemberitahuan dan guru di kelas akan menugaskan siswa 3-4 orang untuk mengambil makanan.
Guru yang bertugas di kelas saat jam pelajaran terakhir diberi tugas untuk memastikan semua anak mendapatkan makanan dan mengarahkan anak-anak berdoa dan mencuci tangan sebelum makan.
“Para guru tersebut juga harus memastikan para siswa menikmati makanan dengan baik, tidak sambil bermain. Memastikan semua makanan harus dimakan sampai habis serta tempat makan dikumpulkan kembali, diikat dan dikembalikan ke TBM,” jelasnya.
Frater Sebastianus mengakui untuk hari Senin dan Selasa,ada satu jam pelajaran yang dikurangi karena dipakai untuk makan bergizi gratis sementara hari Rabu sampai Jumat tidak dipotong jam pelajaran.
Alasannya, hari Jumat jam pelajaran selesai jam 12 siang sehingga setelah selesai jam pelajaran baru dilaksanakan makan bergizi gratis baru siswa bisa pulang.
Sambungnya, sampai hari kedua, Selasa (18/2/2025) makanan tidak mengalami kekurangan hanya ada kendala teknis sedikit Senin (17/2/2025) dimana pengantaran dari dapur ke sekolah agak terlambat sedikit.
“Hari ini pengantaran makanan tepat waktu dimana sebelum jam 11 siang sudah tiba di sekolah sehingga jam 12 siang sudah bisa dibagi ke para siswa,” ungkapnya.
Frater Sebastianus katakan, peralatan makan seperti sendok dan garpu serta air minum anak-anak membawanya dari rumah dan setelah selesai makan dicuci dan disimpan.
Ia mengakui, meski ada makan bergizi gratis, saat jam istirahat pukul 10.00 sampai 10.30 WITA anak-anak tetap ada yang jajan di kantin sekolah dan kantin pun tetap ramai dikunjungi. *
Penulis : Ebed de Rosary (Kontributor)
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2









