Oleh: Walburgus Abulat
OBJEK wisata Pantai Sengari, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu 12 Oktober 2024 ramai dikunjungi warga dan wisatawan lokal (wislok).
Ada belasan di antara ratusan pengunjung diketahui bekerja pada salah satu lembaga usaha yang berlokasi dekat pantai itu.
Ada juga beberapa pengunjung diketahui merupakan siswa berasal dari salah satu lembaga pendidikan menengah atas dari Kota Reo. Belasan warga lainnya merupakan wisatawan lokal (wislok) yang datang dari pelbagai daerah di Flores.
Ada juga di antara pengunjung mengenakan jilbab yang kemudian diketahui bernama Irawati (21 tahun) asal Sengari, Salsa dan Nur asal Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok.
Mereka menikmati keindahan Pantai Sengari. Pantai Sengari dilatari keindahan panorama alam Serise, Desa Satarpunda, Kabupaten Manggarai Timur, dan keindahan Muara Kali Wae Pesi perbatasan Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

Ada di antara pengunjung yang mandi di air laut. Ada juga yang bermain bola. Tak sedikit di antara mereka menikmati keindahan pantai sambil berselfie.
Suasana sore itu di pantai yang letaknya sekitar 2 km dari Pelabuhan Kedindi, atau 5 km dari Kota Reo sungguh memanjakan pengunjung.
Selain keindahan objek wisata, pengunjung juga dimanjakan dengan pemandangan keindahan sunset. Sinar matahari yang kuning keemasan memberikan efek keindahan plus bagi siapa saja yang menyambangi objek wisata di jalur pantura Flores saat itu.
Di tengah keindahan panorama ini, ada juga situasi yang mengundang hati terenyuh saat itu. Betapa tidak. Tak jauh dari suasana menikmati keindahan di objek wisata ini, tampak seorang perempuan berpakaian lusuh.
Perempuan yang mengenakan sepatu berwarna hitam itu menyusuri pantai Sengari. Ia memungut puntung rokok dan remah-remah nasi sisa yang dibuang oleh beberapa pengunjung di salah satu tempat sampah.
Kondisi ini menarik perhatian pengunjung, termasuk penulis. Pengunjung merasa terharu karena oknum warga yang kemudian diketahui berstatus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ini beberapa kali memasukkan remah-remah nasi ke dalam mulutnya.
Tak tega melihat situasi itu, penulis dan beberapa pengunjung mendekati oknum warga itu dan mencoba menawarkan makanan ringan seperti aneka jenis kue dan air minum. Tawaran itu diterima oknum warga itu.
Karena aksi oknum ODGJ ini disaksikan banyak orang, maka tak sedikit juga di antara pengunjung menawarkan makanan ringan kepadanya. Ada yang memberikan pentolan bakso. Ada juga yang memberikan rokok dan recehan rupiah.
“Siapa namamu?’ tanya penulis. ‘Berta”, jawab oknum warga itu. Setelah memperkenalkan diri, penulis menawarkannya untuk berpose bersama.
Penulis juga berupaya membujuk oknum ODGJ ini untuk berkenan tinggal di salah satu Panti Penyandang Disabilitas Santa Dymphna Maumere asuhan Suster Lucia, CIJ. “Apa Ade berkenan tinggal di Panti Asuhan Suster Lucia, CIJ di Maumere,” penulis mencoba merayunya beberapa kali.

Rayuan penulis tak digubrisnya. Oknum ODGJ ini tetap fokus duduk dekat salah satu perapian tempat sampah di Pantai Sengari dan mencoba menyalakan puntungan rokok.
Ia juga asyik menikmati suguhan kue yang diberikan pengunjung dan menenggak minuman segar. Ia terlihat menikmati situasi yang ada, dan mengabaikan kondisi pakaiannya yang lusuh yang dikenakannya saat itu.
Merasa Iba
Beberapa pengunjung di antaranya Theresia Muliana, Rosalia Nartin, Riski Masdun, Felisitas Vilia Maretha Masdun, Lerika, Nurlia Indah, Mirel, Grisel; Hil Demu, Fredrik, Antonius, Sefrianus, Irawati, Nur, dan Salsa mengaku prihatin dan merasa iba dengan kondisi dan situasi yang dialami ODGJ ini.
“Kami merasa iba dengan situasi yang dialami ODGJ ini. Ia beberapa kali mengumpulkan remah-remah nasi dan memasukkan di mulutnya. Kami tergerak hati untuk membantunya,” kata Theresia Muliana warga Kelurahan Mata Air Reok diamini para pengunjung lainnya.
Salah seorang pengunjung bernama Irawati (21 tahun) asal Sengari kepada media ini menjelaskan bahwa oknum yang bernama Berta itu berasal dari Sengari. “Saya masih keluarga dengan ODGJ ini,” kata Irawati.
Irawati menambahkan, pihak keluarga telah berupaya mengobati ODGJ ini, namun pelbagai upaya pengobatan yang diberikan belum memberikan kesembuhan baginya.
“Setiap hari Tanta Berta melakukan aksi memungut puntung rokok dan remah-remah nasi di objek wisata ini. Tadi, saya dan beberapa teman saya yang mengunjungi Pantai Sengari memberikan pentolan bakso dan makanan ringan,” kata Irawati.
Siap Menerima ODGJ Asal Sengari
Pemimpin Panti Santa Dymphna Maumere, Suster Lucia, CIJ yang dihubungi terpisah melalui pesan WhatsApp (WA) menyatakan kesiapannya untuk menerima dan merawat pasien ODGJ asal Sengari, Kecamata Reok itu.
“Waduh…Semoga ada yang antar pasien ini ke Panti Dymphna. Kami siap merawat pasien ini,” kata Suster Lucia melalui pesan WAnya yang diterima media ini, Sabtu (12/10/2024) malam pukul 20.30 Wita.
Panti Santa Dymphna Maumere dirikan oleh Suster Lucia pada tahun 2004. Sejak itu hingga tahun 2024 ini, panti ini telah dan sedang merawat lebih dari 500 ODGJ.
Selama menjalani perawatan, para ODGJ diberikan aneka terapi penyembuhan oleh puluhan perawat dan tenaga psikologis yang diperkerjakan oleh Suster Lucia, CIJ.
Berkat pendampingan yang serius dari Suster Lucia, CIJ; para karyawan dan tenaga kesehatan maka ada banyak ODGJ yang mengalami penyembuhan.
Ada beberapa ODGJ yang sembuh diberi kesempatan untuk bekerja di Panti, dan ada pula yang melanjutkan pendidikan ke jenjang Universitas. Ada di antara mereka yang melanjutkan pendidikan ke jenjang Universitas mengukir prestasi akademik gemilang dengan meraih lulusan pujian atau cum laude.
Itulah secuil pengalaman perjumpaan dengan salah satu ODGJ yang mengumpulkan remah-remah nasi di Pantai Sengari, Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai yang menyentuh kalbu.
Kiranya pengalaman kemanusiaan ini menjadi perhatian bersama kita dalam upaya merawat, menyembuhkan dan memanusiakan ODGJ ini.
ODGJ ini layak diperhatikan karena ia merupakan salah seorang anak bangsa, baik sebagai warga negara, maupun insan umat yang beragama. *
Penulis adalah Wartawan Florespos.net dan Penulis Buku Karya Kemanusiaan Tidak Boleh Mati
Editor : Wentho Eliando










