ENDE, FLORESPOS.net-Bupati Kabupaten Ngada, Provinsi NTT, Andreas Paru hadir di tengah mahasiswa Uniflor pada kegiatan talkshow, Jumat (19/4/2024) pagi.
Bupati Ngada hadir sebagai narasumber tunggal berbicara, membagikan pengalamannya dan memberikan motivasi kepada ratusan mahasiswa yang hadir.
Ia berbicara seputar sepak terjang kepemimpinannya di tanah Ngada sambil memberikan motivasi kepada generasi Z sesuai tema yang diberikan yaitu ” Menciptakan Leadership Unggul Generasi Z di Era Globalisasi”.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Uniflor, Dr. Reyna Virginia Nona, S.E., M.M.A, dan talkshow dipandu oleh dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uniflor, Dr. Rafael Octavianus Byre.
Sebelumnya Bupati Andreas Paru bersama Ny. Cecilia Paru hadir di Auditorium H.J Gadi Djou kampus Uniflor diterima oleh Ketua Yapertif, Dr. Laurentius Gadi Djou dan jajaran civitas akademika Uniflor serta tarian adat dari mahasiswa.
Bupati Ngada pada kesempatan itu menceritakan perjalanan hidupnya sejak tamat STM dan menjadi pendamping desa di Lembata.
Setelah itu menjadi anggota Polri dan bertugas sekitar 40 tahun lebih di Tanah Papua lalu memutuskan pulang kampung ke Ngada dan menjadi orang nomor satu di daerah itu.
Bupati Andreas mengatakan semua itu dilaluinya dengan komitmen yang kuat dan disiplin. Menjadi pemimpin itu modalnya disiplin, jujur dan inovasi atau memiliki integritas. Jika seseorang memiliki itu sejak kecil maka ia akan bisa menjadi seorang pemimpin.
Bupati Andreas menekankan hal tersebut kepada ratusan mahasiswa. Ia berharap mahasiswa harus mempersiapkan diri dan memiliki modal itu sebelum ke dunia kerja.
“Mahasiswa harus disiplin dan jujur atau berintegritas, itu menjadi panduan ke dunia kerja,” kata Bupati Andreas.
Selain itu menjadi pemimpin harus menjadi teladan atau contoh bagi yang lain. Jika memiliki itu maka segalah program yang dicanangkan akan berjalan atau diikuti oleh orang lain.
“Seperti di Ngada, saya buat program dan omong tentang pertanian maka saya harus memberikan contoh kepada masyarakat. Saya punya kebun di sana,” katanya.
Saat disentil oleh host terkait latarbelakangnya dari anggota Polri dan apakah itu bisa memengaruhi gaya kepemimpinannya, Andreas Paru tegas mengatakan polisi bisa jadi politisi dan jadi bupati. Meski demikian politik tidak bisa mengubah karakternya.
Ia belajar banyak tentang disiplin dan jujur serta tegas saat puluhan tahun mengabdi sebagai anggota Polri. Dari pengalaman ini integritasnya dibentuk dan menjadi modal baginya saat memutuskan maju pada Pilkada dan menahkodai Kabupaten Ngada.
“Integritas saya sudah terbentuk dari dulu saat bertugas sebagai polisi. Jadi pemimpin harus memiliki integritas,” tegasnya.
Andreas Paru juga mengatakan selama kurang lebih tiga tahun memimpin banyak hal yang telah dilakukannya dalam berbagai bidang baik di bidang pertanian, perikanan, peternakan, pariwisata dan lainnya yang terencana dalam program Tante Nela Paris.
Satu keberanian yang dilakukannya pada dua tahun lalu yaitu tidak merumahkan tenaga kontrak di Kabupaten Ngada pada hal ada Intruksi dari Kemendagri. Sebagian besar bupati di daratan Flores mengeksekusi Intruksi tersebut.
Bupati Andreas mengatakan alasannya tidak memberhentikan tenaga honorer karena akan menambah angka pengangguran.
Pemerintah Kabupaten Ngada tidak memberhentikan 2.742 tenaga honorer tetapi mengambil kebijakan dengan melakukan penyesuaian dengan keuangan daerah. Saat ini ratusan tenaga honorer sudah lolos P3K dan sebagiannya sedang mengikuti tes.
Terobosan lain yang dilakukannya yaitu menghadirkan Alfamart di Ngada memanfaatkan lahan tidur dan kosong milik pemerintah lalu daerah mendapatkan dampak dari sewa lahan tersebut dalam batas waktu sesuai kesepakatan kontrak.
Bupati Andreas juga menggandeng pihak swasta merenovasi stadion Lebijaga dan sukses menyelenggarakan Soeratin Cup regional NTT tahun 2023 lalu.
Diakhir talkshow itu, Bupati Ngada menyampaikan terima kasih kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uniflor yang telah menghadirkannya acara ini.
Ia juga memberikan bingkisan berupa buku Tante Nela Paris kepada para dosen dan mahasiswa. *
Penulis: Willy Aran I Editor: Wentho Eliando










