LARANTUKA, FLORESPOS.net-Gunung Lewotobi Laki-laki di Kecamatan Wulanggitang dan Kecamatan Ilebura, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali erupsi pada Selasa (16/1/2024) dini hari.
“Terjadi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pada tanggal 16 Januari 2024 pukul 04:58 Wita. Tinggi kolom abu tidak teramati. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 47.3 mm dan durasi sementara ini ± 1 menit 52 detik,” kata Anselmus Bobyson Lamanepa, Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang dalam keterangan tertulis, Selasa (16/1/2024).
Bobyson Lamanepa mengatakan, saat erupsi terjadi guguran dan awan panas guguran namun jarak luncur namun visual tertutup kabut. Pemantauan visual jarak luncur lava pijar sejauh lebih kurang 2500-3000 meter dari kawah arah timur laut.
Selain itu, terjadi gempa 8 kali dengan amplitudo : 37-47.3 mm berdurasi 19-141 detik. Awan panas guguran 6 kali dengan amplitudo 22.2-47.3 mm berdurasi 71-151 detik. Guguran 19 kali dengan amplitudo 7.4-31 mm berdurasi 7-41 detik.
Kata Bobyson Lamanepa, rekomendasi masih tetap sama. Masyarakat sekitar terus mewaspadai potensi banjir lahar dingin pada sungai-sungai berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki jika hujan dengan intensitas tinggi.
Banjir Lahar Dingin
Sementara pada Senin (15/1/2024) malam di wilayah Kecamatan Wulanggitang dan Kecamatan Ilebura terjadi hujan lebat sehingga membawa banjir lahar dingin dan material lainnya dari Gunung Lewotobi Laki-laki.
Banjir lahar dingin dan material itu memang terus mengintai. Karena banjir itu sudah dua kali mengalir melintas hingga wilayah selatan Kecamatan Wulanggitang, tepatnya di Kali Mae dan Kali Waimuring.
Akibat lahar dingin disertai material lain yang terbawa banjir, Jembatan Kali Waimuring yang menghubungkan Desa Nawokote, Desa Waiula, Desa Hewa dan desa-desa lainnya di wilayah selatan, terancam ambruk.
Linus Lanun, warga Tabana, Desa Waiula kepada Florespos.net, Selasa (6/1/2024) mengatakan, jalan dan Jembatan Kali Waimuring dilintasi banjir lahar dingin itu merupakan satu-satunya akses transportasi di wilayah selatan.
Kata dia, tidak ada lagi jalan alternatif. Tumpukan material dibawa banjir lahar dingin berserakan sehingga pengguna jalan terutama roda dua mesti ektra hati-hati melintas di jalan tersebut.
“Kami, warga pantai selatan cemas. Kalau jalan dan Jembatan Kali Waimurung ambruk diterjang banjir lahar dingin, maka akses transportasi dari dan menuju wilayah selatan putus,” kata Linus Lanun.
Dampak lanjutan lainnya, kalau Jembatan Kali Waimuring benar-benar ambruk, maka bisa dipastikan akses transportasi untuk distibusi bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak di wilayah selatan juga bakal terhalang. *
Penulis: Wentho Eliando I Editor: Anton Harus










