Bikin Kapok Pelaku Kebakaran Hutan di Pulau Solor, Mesti Digelar Sumpah Adat Setiap Desa - FloresPos Net

Bikin Kapok Pelaku Kebakaran Hutan di Pulau Solor, Mesti Digelar Sumpah Adat Setiap Desa

- Jurnalis

Rabu, 20 September 2023 - 15:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LARANTUKA, FLORESPOS.net-Kebakaran hutan, semak belukar dan padang rumput terjadi meluas di wilayah Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT.

Hal ini mesti disikapi serius pemangku kepentingan dengan menggelar seremonial sumpah adat di setiap desa. Sumpah adat yang dilakukan secara massif di setiap kampung atau desa sebagai pilihan tepat menimbulkan efek jera bagi pelaku.

“Sumpah adat mengandung kekuatan dan makna mendalam, sugesti dan membikin oknum pelaku jera. Konsekuensi sumpah adat bisa saja menimbulkan petaka kematian bagi pelaku yang berkhianat terhadap alam,” tandas tokoh masyarakat Solor, Ambrosius Ile Niron menanggapi berita Florespos.net, Selasa (19/9/2023) di bawah topik: “Nestapa Kebakaran, Solor “Pulau Batu) Kian Kerontang.”

Ambros Niron pensiunan guru dan mantan Kepala SMP Negeri Satu Atap Satap Wulublolong di Desa Lewohedo, Kecamatan Solor Timur itu lebih jauh meminta Dinas terkait (Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Flotim) membangun kerja sama dengan pimpinan wilayah, para Camat di Solor melaksanakan seremoni gelar sumpah adat.

“Sumpah adat mengandung sanksi adat. Dalam seremoni sumpah wajib dihadiri seluruh lapisan masyarakat setiap desa. Dalam sumpah adat ini pemangku kepentingan sebagai penyelenggara menyiapkan hewan kurban sebagai simbol pertumpahan darah sesuai adat setempat,” saran Ambros.

Baca Juga :  Mahasiswa Jangan Takut Lapor Pelanggaran Pemilu

“Kesakralan adat akan ‘mencari dan menangkap’ sendiri oknum pelaku pembakaran. Pelakunya pasti umur pendek karena dimakan sumpah adat,” katanya.

Secara terpisah Linus Lalun pembaca setia berita kebakaran yang ditayang media ini, juga menyampaikan statement positif melalui komentarnya di bawah berita.

Dia menyatakan, kondisi dan cuaca alam kita saat ini menuju puncak kemarau di bulan September-Oktober selalu terjadi masalah yaitu kebakaran hutan dan semak belukar seperti halnya sudah terjadi di Solor.

Pulau dengan alam gerang sekaligus menyimpan “seribu” kisah bersejarah yang tertutur dari generasi ke generasi itu mesti dilestarikan.

“Di Solor sana ada situs sejarah peninggalan Bangsa Portugis yaitu Benteng Lohayong. Solor juga dikenal sebagai bumi cendana dan sejuta kisah menarik lainnnya,” ujar Linus Lalun.

Linus prihatin, kini Solor dihanguskan si “jago merah”, alam menjadi rusak.

“Sekarang kita butuh kesadaran kolektif dari masyarakat lokal, memerintah serta pemangku kepentingan. Semua bersinergi peduli secara total pada Pulau Solor.”

“Kalau ada gerakan menanam pohon yang menghasilkan air dalam jumlah banyak, niscaya alam yang tandus bisa memberikan kesegaran bahkan menghasilkan sumber mata air. Walaupun butuh waktu yang panjang untuk itu,” pungkas dia.

Baca Juga :  BMK Kemendikbudristek Dukung Festival Genang Era Leworok

Ferry Tasman aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang berdomisili di Kota Kupang kepada media ini Rabu (20/9/2023) menyampaikan apresiasi terhadap berita Florespos.net yang mengulas soal kebakaran hutan di Pulau Solor.

Ferry menyebut sekarang bumi kita semakin panas. Fakta, suhu bumi setiap tahun mengalami kenaikan.

Walau kenaikan suhu bumi hanya nol koma sekian saja, tapi menunjukkan kenaikan suhu permukaan bumi. Dampak dari ketidak seimbangan lingkungan.

Dia menyoroti perilaku bakar-bakar hutan setiap tahun seperti yang terjadi di Solor, memicu dampak ke pemanasan global.

Diakui, akibat pemanasan global permukaan air laut naik dan menimbulkan abrasi, musim tidak lagi menentu, curah hujan berkurang, dan lain-lain.

“Itu semua akibat dari perilaku kita semua dan oknum yang tidak mau merawat bumi. Kalau kita tidak hentikan bakar-bakar hutan maka kita tinggal menunggu waktu datangnya petaka bencana banjir, angin kencang, longsoran, dan bencana alam lainnnya. Ini, ulah manusia tidak menjaga dan melestarikan bumi,” tandas Ferry mengingatkan. *

Penulis: Frans Kolong Muda/Editor: Wentho Eliando

Berita Terkait

Pengurus Baru PPDKAE Kabupaten Ende Resmi Dilantik di Kampus Atma Reksa–Rumah Bersama untuk Inklusivitas
Perpolitikan Indonesia Hadapi Tantangan Money Politic
Jelang Open Turnamen Soekarno Cup, PBVSI Ende Up Grade Lisensi Wasit Voli
Baru Satu Jam Ditindak Petugas Pedagang Kembali Lagi ke Jalan, Ternyata Ini Alasan
Yonif TP 834/Wakanga Mere Resmi “Masuk Rumah” di Nagekeo Lewat Upacara Adat
Alasan Penahanan Tak Jelas, Pemilik Sapi Ajak Pol PP Bertemu Bupati Ende
Serap Aspirasi, Kapolres Ende Kunjungan Kerja di Polsek Maurole
Karantina Sesalkan Penahanan Sapi oleh Pol. PP Ende
Berita ini 78 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:05 WITA

Pengurus Baru PPDKAE Kabupaten Ende Resmi Dilantik di Kampus Atma Reksa–Rumah Bersama untuk Inklusivitas

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:43 WITA

Perpolitikan Indonesia Hadapi Tantangan Money Politic

Sabtu, 23 Mei 2026 - 19:03 WITA

Jelang Open Turnamen Soekarno Cup, PBVSI Ende Up Grade Lisensi Wasit Voli

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:35 WITA

Baru Satu Jam Ditindak Petugas Pedagang Kembali Lagi ke Jalan, Ternyata Ini Alasan

Sabtu, 23 Mei 2026 - 11:43 WITA

Yonif TP 834/Wakanga Mere Resmi “Masuk Rumah” di Nagekeo Lewat Upacara Adat

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Perpolitikan Indonesia Hadapi Tantangan Money Politic

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:43 WITA