ENDE, FLORESPOS.net-Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Ende, Provinsi NTT, Mohamad Sharir langsung merespon keluhan warga terkait kekurangan minyak tanah subsidi di beberapa wilayah di Kota Ende.
Mohamad Sharir memanggil agen minyak tanah untuk memastikan pendistribusian minyak dari Depot Pertamina ke pangkalan menyusul ada keluhan dari warga yang kesulitan mendapatkan minyak tanah subsidi.
Disaksikan media ini, Jumat (21/7/2023) di kantor Dinas Perdagangan Ende, Kepala Dinas Perdagangan menggelar pertemuan singkat dengan perwakilan agen minyak tanah.
Mohamad Sharir meminta agen mengecek di wilayah pelayanan masing-masing setelah ada keluhan dari warga.
Dia menegaskan bahwa agen mesti cek ke lapangan agar masalah kelangkaan minyak tanah tidak terjadi lagi di Ende seperti tahun sebelumnya.
“Kita langsung cek agar tidak terjadi seperti tahun kemarin,” katanya.
Mohamad Sharir juga mengatakan bahwa pihaknya juga terus memantau di lapangan dan hingga saat ini belum ditemukan masalah kekurangan minyak tanah.
“Kami juga cek lapangan dan hingga saat ini tidak ada masalah. Agen distribusi ke pangakalan tepat waktu atau sesuai dengan jadwal,” katanya.
Saat pertemuan singkat itu perwakilan agen juga menyampaikan distribusi minyak tanah ke pangakalan sesuai dengan jadwal dan berjalan lancar.
“Saat ini tidak ada masalah dan jika ada informasi maka kami akan cek di jalur pelayanan kami masing- masing,” kata perwakilan agen.
Pihak Pertamina Terminal BBM Ende yang diwakili Wakil Fuel Terminal Manager, Vian Rafsanjani dikonfirmasi Florespos.net, Jumat (21/7/2023) siang mengatakan saat ini stok minyak tanah di Terminal BBM Ende masih aman.
Setiap hari, kata dia, Pertamina Ende menjual sekitar 40-50 KL untuk tiga kabupaten di wilayah pelayanannya.
“Stok sekarang 750 KL dan itu sangat aman untuk beberapa hari kedepan. Penjualan perhari 40-50 KL dan lancar pengambilan dari agen,” katanya.
Sebelumnya pada Kamis (20/7/2023), warga dari Kelurahan Paupire di sekitar Jalan WZ. Yohanes dan Kompleks Bhoanawa, Kelurahan Mbongawani, mengaku kesulitan mendapatkan minyak tanah.*
Penulis: Willy Aran/Editor: Anton Harus










