ENDE, FLORESPOS.net-Lembaga pendidikan tinggi Universitas Flores (Uniflor), Kabupaten Ende, NTT, kembali melepas 408 sarjana baru. Acara pelepasan ini melalui prosesi wisuda di Auditorium H.J Gadi Djou, Sabtu (3/6/2023).
Prosesi wisuda kali ini sangat kental bernuansa etnis Lamaholot, khas Kabupaten Flores Timur.
Wisudawan, senat dan tamu kehormatan disambut dengan sapaan adat Flores Timur dan diarak masuk dengan tarian adat. Tarian ini dibawakan oleh Himpunan Mahasiswa Lamaholot (Himalaya).
Penjabat Bupati Flores Timur, Doris Aleksander Rihi hadir sebagai tamu kehormatan dan membawakan sambutan.
Doris Rihi mengatakan pemerintah dan masyarakat Kabupaten Flores Timur menyampaikan terima kasih kepada Universitas Flores telah mengemas acara ini dengan budaya Lamaholot Flores Timur.
Hal ini menjadi kebanggaan kebanggaan pemerintah dan masyarakat karena budaya Lamaholot Flores Timur mendapat tempat di kampus Universitas Flores.
Pada momen ini Doris Rihi juga memberikan gambaran singkat terkait budaya Lamaholot Flores Timur. Salah satu legenda yang masih dijaga dan dilestarikan oleh orang Flores Timur adalah kisah Tonu Wujo atau Dewi Padi.
Orang Flores Timur percaya padi itu adalah penjelmaan dari Tonu Wujo. Untuk menghormati Tonu Wujo maka orang Flores Timur tetap melaksanakan ritual atau seremoni saat musim tanam dan sesudah musim tanam.
Pola pertanian di Flores Timur sebagian besar masih tradisional dan berpatokan pada gejala alam. Orang Flores Timur juga masih menjaga alam dan meperlakukan secara bijak karena alam yang memberikan kehidupan.
Terkait momentum wisuda, kata Doris Rihi, Universitas Flores adalah kampus mediator budaya. Pemkab Flores Timur mendukung visi misi kampus ini agar melahirkan sarjana yang tangguh dan berkarakter.
Di tengah arus globalisasi yang kian pesat seorang sarjana harus menjadi jembatan antara budaya lokal atau tradisional dan budaya modern yang masuk dalam masyarakat.
“Jadikan dirimu sebagai jembatan yang kuat untuk budaya tradisional dan budaya modern. Jadilah pencerah di tengah masyarakat dan jaga karaktermu sebagai mediator budaya,” kata Doris Rohi.
Doris Rihi juga menyampaikan terima kasih kepada Yayasan dan Universitas Flores yang telah membimbing 80 mahasiswa dari Flores Timur yang kini telah meraih gelar sarjana.
“Hari ini dari 408 wisudawan ada 80 orang wisudawan dari Flores Timur. Kami bangga dan menyampaikan terima kasih kepada Yapertif dan Universitas Flores yang telah membimbing mereka hingga hari ini diwisudah jadi sarjana,” katanya.
Rektor Universitas Flores, Dr Simon Sira Padji mengatakan kepada 408 sarjana baru bahwa acara wisuda itu merupakan batas antara dunia akademik dan dunia nyata. Gelar sarjana ini akan menjadi beban yang mesti dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
“Atas nama lembaga saya ucapkan profisiat. Ingat pencapaian hari ini adalaha batas antara dunia akademik dan dunia nyata di masyarakat. Jadilah sarjana yang berkarakter budaya di tengah masyarakat,” katanya.
Rektor juga mengatakan wisuda dengan budaya daerah Kabupaten Flores Timur bertujuan agar mendekatkan kampus dengan Kabupaten Flores Timur.
Kampus Universitas Flores adalah kampus terbuka yang menerima mahasiswa dari semua budaya dan latar belakang.
Pada wisuda periode ini orasi ilmiah dibawakan oleh dosen dari luar negeri yaitu Prof. Dr. Seema M. Parihar, Doktor Geographi Dheli University India.
Hadir pula pada acara wisuda Kepala Bagian Umum LLDIKTI XV Wilayah Provinsi NTT, Abdurahaman Abdullah.*
Penulis: Willy Aran/Editor: Anton Harus










