LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Special Advisor South East Asia Flinders Australia, DR. Pryambudi Sulistiyanto, berpendapat baiknya keluarkan Myanmar pada KTT ASEAN 2023, di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), karena di negara tersebut masih terjadi konflik.
Pertemuan hari pertama berlangsung di Flamingo Bajo Hotel Labuan Bajo, Sabtu (6/5/2023). Priyambudi saat itu bicara terkait apa yang diharapkan dari Keketuaan Indonesia di ASEAN Tahun 2023.
Ketika itu Priyambudi berpendapat agar posisi Myanmar pada pertemuan Labuan Bajo (KTT ASEAN/ASEAN Summit 2023) digantikan Timor Leste.
Myanmar dikeluarkan dan diganti Timor Leste, karena di negara itu masih terjadi konflik, komentarnya.
ASEAN Summit/KTT ASEAN ke-42 Tahun 2023 di Labuan Bajo, ibu kota Manggarai Barat, berlangsung 3 hari, yaitu 9-11 Mei.
Pertemuan yang diselenggarakan Migrant CARE Jakarta merupakan side event KTT ASEAN/ASEAN Summit 2023.
Pertemuan di Flamingo Bajo Labuan Bajo, ini untuk memastikan agenda perlindungan pekerja migran dalam keketuaan Indonesia di ASEAN Tahun 2023.
Tujuan kegiatan di Famingo Bajo Hotel ada dua. Pertama, menghimpun berbagai masalah dan kerentanan pekerja migran di kawasan Asia Tenggara serta kerangka interseksionalitasnya dan merumuskan langkah apa yang seharusnya dilakukan oleh ASEAN.
Kedua, menghimpun pandangan dan usulan mengenai agenda perlindungan pekerja migran dalam keketuaan Indonesia di ASEAN Tahun 2023 berdasar modalitas yang dimiliki oleh ASEAN.
Pada pertemuan Flamingo Bajo Hotel selama 3 hari itu, 6-8 Mei 2023, Priyambudi adalah salah satu pembicara.
Sesuai krangka acuan pertemuan yang diterima Florespos.net, pembicara lain, yakni DR. Dinna Prapto Raharjo, DR.Sylvi Yazid, Wahyu Susilo, Hanum-FORUM Asia, William Gois, Yartini Sulitiyawati, Savitri, Arina, Jeremy, DR. Indriaswati Dyah Saptaningrum, Soe Min Than, dan Awan Prasetya.
Pada pertemuan itu, para pembicara ada yang hadir fisik langsung di Flamingo Bajo Hotel Labuan Bajo Mabar NTT, ada yang zoom, termasuk DR.Priyambudi Sulistiyanto.
Sedangkan moderator pertemuan hari pertama Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant CARE Jakarta. *
Penulis: Andre Durung/Editor: Wentho Eliando










