ENDE, FLORESPOS.net-Upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi anak sekolah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan progres signifikan di Kabupaten Ende, Provinsi NTT.
Hingga akhir Maret 2026 sebanyak 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) telah resmi berdiri dan beroperasi di Kabupaten Ende.
Dari 14 SPPG yang telah beroperasi sebanyak 11 SPPG beroperasi melayani sasaran penerima atau pelajar di Kota Ende dan tiganya berada di kecamatan luar kota.
“Ada 14 SPPG yang sudah beroperasi, 11 dalam kota dan tiga di luar kota yaitu di Loboniki, Kecamatan Kota Baru, Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Nangapanda,” kata Ketua Pelaksana Satgas MBG Kabupaten Ende, Mensi Tiwe kepada Florespos.net, di Kantor Bupati Ende, Senin (30/3/2026) siang.
Mensi mengatakan kebanyakan SPPG beroperasi di kota karena sasaran penerima manfaat MBG lebih banyak berada di kota.
Hingga saat ini pelayanan dari 14 SPPG sudah menyasar sekitar 31 ribu lebih siswa atau penerima manfaat namun masih fluktuatif.
“Penerima manfaat kita mengalami fluktuatif karena ada penambahan skema baru pada tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Satgas MBG Kabupaten Ende dan BGN Korwil Ende melakukan pemetaan lagi”.
Terkait dengan sertifikasi, kata Mensi, berdasarkan manajemen BGN pada saat SPPG sudah beroperasi maka akan diukur pada makanan basah yang disiapkan.
Satgas MBG melalui perangkat terkait seperti Dinas Kesehatan, Balai POM akan melakukan sertifikasi.
Ditanya tentang keluhan dari penerima manfaat atau orangtua terkait makanan dari setiap dapur, kata Mensi, hingga saat ini masih dalam batas normal bahkan ia menyebutkan Ende masih masuk dalam kategori zero masalah.
“Hingga saat ini masih dalam batas normal atau Ende masih dalam kategori zero masalah,” kata Mensi.
Florespos.net, mengikuti perkembangan pelayanan atau penyediaan makanan dari program MBG sejak belasan SPPG mulai beroperasi di Ende.
Keluhan dan kritikan dari orangtua penerima manfaat terlihat di postingan media sosial pada dua pekan lalu saat bulan puasa.
Saat itu hampir sebagian dapur menyediakan makanan berupa kue, buah dan minuman susu. Buah yang diberikan kepada penerima manfaat seperti pisang dikeluhkan karena ada yang kulitnya sudah hitam.
Bahkan ada orangtua yang memosting di media sosial dan menyebutkan kue dari salah satu dapur seperti kue yang dihidangkan saat pesta adat (wuru mana).*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando










