Tak Kunjung Dibangun, Warga Dua Desa di Sikka Andalkan Jembatan Bambu Buat Melintas Meski Beresiko - FloresPos Net

Tak Kunjung Dibangun, Warga Dua Desa di Sikka Andalkan Jembatan Bambu Buat Melintas Meski Beresiko

- Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 - 16:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAUMERE, FLORESPOS.net-Empat buah batang bambu berukuran besar diletakan melintang di atas kali Kopa Kemak (telapak kaki raksasa) sepanjang sekitar 20 meter dengan pegangan dari kayu untuk memudahkan warga berpegangan saat melintas.

Beberapa batang kayu dipaku untuk merekatkan lantai bambu supaya tetap rapat agar memudahkan bagi warga yang melintasinya.

Marta Hia, warga Dusun Lewomudat, Desa Waipaar pagi itu Selasa (17/3/2026) terlihat menyeberangi jembatan dengan perlahan seraya memanggul karung berisi hasil kebun di punggungnya.

“Saya harus melewati jembatan ini dan berjalan sejauh kurang lebih dua kilometer supaya bisa menjual hasil kebun di pembeli yang ada di Desa Ojang,” ujar Martha.

Meski merasa was-was namun Martha mengaku harus menyeberangi kali melewati jembatan bambu sebab jembatan itu merupakan satu-satunya untuk bisa ke Desa Ojant atau Desa Waipaar.

Tidak Ada Pilihan Lain

Marta dan warga dua dusun di dua desa yang bersebelahan ini terpaksa menggunakan akses jembatan yang dibangun darurat oleh warga sebab tidak ada pilihan lainnya.

Warga Dua Desa di Sikka Andalkan Jembatan Bambu Buat Melintas Meski Beresiko

“Pasti takut menyeberang apalagi saya sudah tua sehingga harus lebih berhati-hati saat melintas di jembatan. Kadang jembatannya suka licin apalagi saat musim hujan karena bambunya basah kena air,” ucapnya.

Baca Juga :  Bupati Nagekeo Minta Pelayanan Kesehatan yang Baik untuk Semua

Warga Desa Ojang Marianus Daud menilai, masyarakat seolah hanya dijadikan obyek politik lima tahunan tanpa ada realisasi pembangunan yang nyata dari pemerintah.

“Setiap lima tahun kami seperti dibohongi. Kami selalu dijanjikan tapi sampai saat ini tidak ada buktinya,” sesalnya.

Senada, Emanuel Goban warga lainnya mengaku kesal karena tingginya partisipasi suara warga dalam pemilihan anggota legislatif tidak sebanding dengan perhatian terhadap kondisi jalan dan jembatan di wilayah mereka.

“Suara di sini banyak, tapi kondisi kami tetap begini. Tidak ada perubahan berarti,” ungkapnya.

Singgung Keberadaan Dua Anggota DPRD

Warga juga menyinggung keberadaan dua anggota DPRD Sikka Dapil 4 dari fraksi Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Golongan Karya yang berasal dari Kecamatan Talibura.

Warga berharap para wakil rakyat di Dapil Sikka 4 dapat lebih aktif menyuarakan kebutuhan masyarakat, khususnya terkait perbaikan infrastruktur dasar

“Kami minta agar pembangunan tidak lagi berhenti pada janji politik, melainkan diwujudkan dalam langkah nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat,” tegas Emanuel.

Baca Juga :  Wartawan Perlu Menjaga Profesionalisme

Wakil Ketua BPBD Ojang Wilibordus Burak membenarkan jembatan sederhana itu dibangun secara swadaya oleh warga agar aktivitas masyarakat, terutama anak-anak sekolah, tetap berjalan.

Air Sering Meluap

Wilibordus menyebutkan tidak ada jembatan permanen sehingga warga berinisiatif membangunnya sendiri agar bisa menyeberangi kali selebar kurang lebih 20 meter tersebut.

Warga Dua Desa di Sikka Andalkan Jembatan Bambu Buat Melintas Meski Beresiko

“Saat musim hujan, air sering meluap dan membuat warga tidak dapat menyeberang. Ini jembatan satu-satunya yang menghubungkan Desa Ojang dan Desa Waipaar,” terangnya.

Wilibordus menjelaskan, jembatan tersebut menjadi satu-satunya akses bukan saja bagi warga tetapi bagi anak-anak dari Dusun Lewomudat yang setiap hari harus menyeberang untuk bersekolah di SDN Kolit, Desa Ojang.

Lanjutnya, sebelum ada jembatan. bila terjadi hujan lebat di hulu dan debit air kali meningkat serta arus air sangat deras anak-anak tidak bisa sekolah sehingga warga pun bangun jembatan bambu.

Meski membantu mobilitas warga, Wilibordus mengakui kondisi jembatan darurat itu sangat terbatas dan berisiko, terutama saat debit air meningkat yang bisa saja menghanyutkan jembatan dan mengancam keselamatan warga yang melintas apalagi anak-anak.

“Kami berharap pemerintah daerah bisa memperhatikan kondisi ini. Jembatan permanen sangat dibutuhkan karena ini menyangkut keselamatan masyarakat dan masa depan pendidikan anak-anak,” harapnya. *

Penulis : Ebed de Rosary

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton
Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat
Sajikan Kopi Juria Colol, Rumah Wunut Buka Cabang di Maumere, Dukung Misi Lingkungan dan Kemanusiaan LSM ILMU
Reses di Ende, Oktovianus Moa Mesi Serahkan Hand Traktor Bantuan Julie Laiskodat ke Petani
Disnakertrans Sikka Gelar Mini Job Fair di Waigete, Fasilitasi Warga Jadi Pekerja Resmi
STIPAS Sirilus Ruteng Gelar Seminar Nasional: Mendesain Pendidikan Tinggi Berdampak Pada Era Masyarakat 5.0
Patris Lali Wolo Sebut Anggaran Jembatan Pomakeke Aeramo Sudah Ada, Tapi Tidak Dieksekusi Pemprov NTT
Cegah Bullying dan Judol, Tim Polres Ende Sosialisasi di SMAN 1 Ende
Berita ini 96 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:15 WITA

Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:11 WITA

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:57 WITA

Sajikan Kopi Juria Colol, Rumah Wunut Buka Cabang di Maumere, Dukung Misi Lingkungan dan Kemanusiaan LSM ILMU

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:16 WITA

Disnakertrans Sikka Gelar Mini Job Fair di Waigete, Fasilitasi Warga Jadi Pekerja Resmi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:52 WITA

STIPAS Sirilus Ruteng Gelar Seminar Nasional: Mendesain Pendidikan Tinggi Berdampak Pada Era Masyarakat 5.0

Berita Terbaru

Feature

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WITA

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA