BAJAWA, FLORESPOS.net-Koperasi Kredit (Kopdit) Setiawan melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025 yang digelar pada Kamis (5/3/20256) di aula John Thom Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT.
Ketua Kopdit Setiawan Yanuarius Pakiding berkomitmen terus membangun ekonomi anggota melalui usaha simpan pinjam. Menurutnya usaha simpan pinjam merupakan unit usaha yang ada di kopdit tersebut.
“Sejak lahir pada tahun 1986, kami terus berkomitmen terhadap nilai dan jati diri koperasi serta berkomitmen meningkatkan ekonomi anggota.”
Penambahan Anggota
Ian Pakiding sapaan Ketua Pengurus Kopdit Setiawan tersebut mengatakan berkat komitmen itu, pertumbuhan anggota koperasi yang berkantor pusat di Kota Bajawa itu terus mengalami peningkatan 11. 590 anggota pada tahun 2025.
Kata dia, angka itu naik dari tahun sebelumnya sebanyak 11. 263 orang pada tahun 2024. “Kita mengalami penambahan anggota sebanyak 500 lebih orang pada tahun 2025,” ujarnya.
Aset, Kopdit Setiawan juga mengalami peningkatan dari 94 milliar lebih pada tahun 2024 meningkat menjadi 99 miliar lebih pada Tahun 2025.
Kata dia, kenaikan angka positif itu berkat kerjasama yang baik antara anggota, manajemen dan pengurus. Meski demikian ia mengakui masih tinggi tingkat kelalaian pengembalian anggota dan simpanan wajib.
Ia menghimbau agar anggota anggota untuk tetap melaksanakan kewajiban.
Setia pada Kewajiban
Sementara Ketua Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Flores Mandiri Elias Cima dalam sambutan meminta segenap anggota Kopdit Setiawan agar menjadi anggota yang militan, dimana setia pada setiap kewajiban.
Salah satunya, katanya, pinjam dengan bijaksana dan disiplin untuk mencicil. Anggota harus berdiri di atas dua kaki, yakni simpan dan menabung, katanya.
Di tengah pertumbuhan lembaga keuangan yang begitu pesat diera sekarang, ia mengajak pengurus Kopdit Setiawan tetap menjaga semangat berkoperasi dimana menepatkan nilai kekeluargaan paling tinggi.
Pesan Pemda
Asisten II Setda Ngada, Nicolaus Noywuli mewakili Bupati Ngada dalam sambutan mengatakan Koperasi Setiawan harus terus menghadirkan skema pembiayaan yang lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan anggota, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Ia mengatakan, hal yang penting juga adalah penyederhanaan prosedur bagi anggota dengan rekam jejak yang baik perlu dipertimbangkan agar koperasi tetap menjadi pilihan utama masyarakat.
Selain itu, penguatan sistem manajemen resiko dan tata kelola yang profesional harus terus dilakukan untuk menjaga kepercayaan anggota serta perlu mengembangkan pola pendampingan usaha.
“Sehingga pembiayaan yang diberikan benar-benar mendorong usaha produktif, bukan konsumtif semata juga sangat penting selain pemanfaatan teknologi dan sistem administrasi yang lebih modern perlu ditingkatkan agar pelayanan menjadi lebih cepat, transparan, dan efisien.”
Noywuly mengatakan, koperasi harus memperkuat perannya sebagai mitra pembangunan desa, mendukung lahirnya produk unggulan berbasis potensi lokal sejalan dengan semangat One Village One Product. Koperasi yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya akan tetap kuat dan dipercaya.
Ia juga menyampaikan bahwa pinjaman bukan sekedar soal uang yang dicairkan. Pinjaman harus menjadi alat pemberdayaan.
“Setiap pembiayaan yang diberikan harus mendorong produktivitas, memperkuat usaha anggota, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ungkap Noywuli.
Noywuli lebih lanjut mengatakan, koperasi yang kuat bukan hanya yang memiliki aset besar, tetapi yang mampu memastikan bahwa setiap rupiah yang dipinjamkan benar-benar menggerakkan ekonomi anggotanya.
Koperasi tidak semata-mata mengejar keuntungan, tetapi membangun manusia dan memperkuat komunitas.
Dirinya percaya KSP Kopdit Setiawan memiliki pengalaman, jaringan, dan modal sosial yang cukup untuk menjawab tantangan ini. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berinovasi dan konsistensi dalam menjaga integritas.
Saat ini koperasi kredit menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ditengah masyarakat, tumbuh berbagai bentuk lembaga keuangan informal maupun formal, termasuk koperasi harian dan skema pinjaman cepat yang menawarkan kemudahan tanpa banyak persyaratan administrasi.
Menurut Noywuli khususnya pelaku usaha kecil dan keluarga berpenghasilan minim atau harian sering kali membutuhkan akses pembiayaan yang cepat, sederhana, dan tidak berbelit-belit. Ini adalah realitas yang tidak bisa diabaikan.
Koperasi formal seperti Kopdit Setiawan kata dia, harus mampu membaca situasi ini dengan bijak. Di satu sisi, kita tetap menjaga prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta perlindungan terhadap dana anggota.
Namun disisi lain, lanjutnya koperasi juga dituntut untuk menghadirkan layanan yang adaptif, responsif, dan memudahkan. Koperasi katanya , tidak boleh kalah cepat, tidak boleh kalah dekat, dan tidak boleh kalah memahami kebutuhan anggotanya sendiri. *
Penulis : Wim de Rosari
Editor : Wentho Eliando









