MAUMERE, FLORESPOS.net-Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan angka kemiskinan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama di tahun 2024 lalu.
Bulan Maret 2024 rilis BPS NTT menyebutkan angka kemisminan di Provinsi NTT mencapai 19,02 persen dan pada bulan Maret tahun 2025 angka kemiskinan turun menjadi 18,6 persen.
“Ini tren bagus berkat kerja-kerja para bupati,walikota, gubernur bersama DPRD, aparat birokrasi dan semua pihak,” sebut Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Kamis (12/2/2026).
Laka Lena menambahkan, bulan September tahun 2025 angka kemiskinan ini kembali turun menjadi17,5% pada bulan September 2025, turun 1,1% atau sekitar 100 ribu lebih orang bisa turun kemiskinannya.
Angka kemiskinan turun 1,52 persen dibanding bulan September 2024 dimana tercatat sebanyak 1,03 juta orang pada September 2025, berkurang 57,09 ribu orang dibanding Maret 2025.
“Tetapi gara-gara anak sekolah di Ngada meninggal lidah saya kelu untuk ngomong ini sebagai prestasi Meninggalnya karena tidak bisa tersentuh oleh semua pranata politik, pranata sosial budaya, agama, semuanya,” ucapnya.
Selain itu tambah Laka Lena, angka pertumbuhan ekonomi NTT juga lumayan bagus sebab kalau secara nasionalnya angka pertumbuhan ekonominya 5,11 persen, NTT pertumbuhan ekonominya 5,05, sedikit di bawah nasional.
Dirinya mengajak segenap kepala daerah, DPRD dan birokrasi untuk terus bekerja dengan giat dan jangan menyerah agar bisa menekan angka-angka kemiskinan yang ada di NTT.
“Bila obligasi daerah sudah disahkan menjadi undang-undang maka kita mempunyai peluang untuk mencari dana guna membangun daerah kita masing-masing,” ucapnya.
Kepala BPS NTT, Matamira B Kale, menyebutkan bahwa bahwa garis kemiskinan perkapita Provinsi NTT pada Maret 2025 tercatat sebesar Rp549.607 atau meningkat 2,93 persen dibandingkan pada September 2024.
Komposisi garis kemiskinan 75,75 persen bersumber dari komoditas makanan, dan sisanya 24,25 persen komoditas bukan makanan.
Garis kemiskinan di wilayah perkotaan lebih tinggi dibandingkan wilayah pedesaan dimana komoditas yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan yaitu makanan dalam hal ini beras dengan kontribusi sebesar 28,71 persen.
Selain itu, rokok kretek filter 7,11 persen, telur ayam ras 2,96 persen, kopi bubuk dan kopi instan 2,07 persen dan ikan kembung 2,02 persen.
Sementara untuk komoditas bukan makanan, di daerah perkotaan, yaitu Perumahan sebesar 10,48%, pendidikan 2,52 persen, bensin 2,17 persen, listrik 1,85 persen dan perlengkapan mandi 1,82 persen. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










