RUTENG, FLORESPOS.net-Keuskupan Ruteng via lembaga Caritas tidak menutup mata atas pelbagai kesulitan yang dialami umat dan masyarakat lainnya dengan memberikan perhatian berupa bantuan-bantuan nyata.
Sebagai garda terdepan pelayanan kasih gereja, Caritas hadir dalam pengurangan risiko bencana dan tanggap darurat di wilayah Keuskupan yang membawai dua kabupaten, yakni Manggarai dan Manggarai Timur di Flores, NTT.
Kepada wartawan di Ruteng, Direktur Caritas Puspas Keuskupan Ruteng, Kamis (11/12/2025) mengatakan, lembaganya hadir untuk memastikan bahwa setiap warga yang terdampak bencana mendapat pendampingan cepat dan terukur.
“Dalam situasi yang darurat, Caritas kerja sama dengan paroki dan kelompok umat basis gerejawi (KBG) guna merespons cepat dan efektif,”katanya.
Respons cepat diikuti dengan pemberian bantuan berupa material yang diperlukan dan juga diikuti dengan pemberian dukungan moril kepada keluarga-keluarga tersebut.
Sepanjang tahun 2025, kata Romo Beben, Caritas Ruteng telah membantu 17 keluarga yang rumahnya terbakar dan terkena longsor.
Proses bantuan dimulai ketika pengurus KBG melaporkan kejadian tersebut kepada Seksi Caritas Paroki untuk dilakukan asesmen awal.
Hasil asesmen kemudian dikirimkan secara resmi ke Caritas Ruteng sebagai dasar pengambilan keputusan.
Selanjutnya, Caritas Ruteng bersama Paroki menyalurkan bantuan, baik berupa uang tunai maupun bahan dan perlengkapan rumah tangga yang dibutuhkan.
Salah satunya dialami oleh Ibu Merliana Sufanti, anggota KBG St Sisilia, Paroki St Mikael Kumba, yang rumahnya terbakar. Bantuan telah diberikan kepadanya.
Selain respon bencana, perhatian Caritas juga menjangkau umat yang harus berjuang dengan sakit serius.
Banyak pasien harus mendapatkan perawatan medis di luar daerah, seperti di Kupang, Bali, dan Pulau Jawa.
Dalam banyak kasus, beban biaya transportasi menjadi kendala utama.
“Caritas membiayai tiket pasien pergi dan pulang, baik melalui pesawat maupun kapal laut,” katanya.
Karena itu, lanjutnya, kiranya para Ketua KBG selalu berinisiatif menyampaikan ke paroki jika ada umat yang mengalami bencana atau membutuhkan biaya pengobatan. Paroki kiranya melanjutkan informasi itu ke Caritas Ruteng.
Caritas juga, dalam kerja sama dengan panitia Festival Lembah Sanpio dan Festival Golocuru, Caritas Ruteng juga menyalurkan bantuan-bantuan.
Bantuan diberikan kepada keluarga penyandang disabilitas di Stasi Nangarawa, Paroki St Yosef Kisol, Matim, dan kepada para penghuni Panti Rehabilitasi Jiwa Renceng Mose, Ruteng.
Kehadiran di ruang-ruang rapuh ini menjadi tanda bahwa pelayanan kasih Gereja tidak dibatasi oleh identitas, kondisi fisik, maupun situasi sosial.
Menurutnya, seluruh karya ini berakar pada spiritualitas belas kasih yang diajarkan Yesus Kristus.
Caritas Ruteng berupaya menghadirkan wajah Gereja yang solider sesuai amanat Injil Matius 25 yang menyatakan, ‘Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian ; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu mengunjungi Aku’.
Pelayanan kasih ini juga merupakan implementasi dari Motto Uskup Ruteng sendiri, ‘Omnia In Caritate- Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih’.
Ditanya dari mana dana dan material bantuan tanggap bencana dan sosial karitatif Caritas Ruteng, Romo Beben menjelaskan, semua itu merupakan buah solidaritas seluruh umat Keuskupan Ruteng. Bantuan yang disalurkan lewat dana aksi puasa pembangunan (APP) yang dikumpulkan setiap masa Pra-Paskah.
Sebanyak 5 persen dari dana APP dialokasikan khusus bagi Caritas Ruteng untuk disalurkan kembali kepada umat yang membutuhkan.
Ketika itu, Romo Beben mengajak seluruh Pastor Paroki, DPP, dan Ketua KBG untuk menganimasi umat agar terlibat aktif dalam gerakan APP.
“Keterlibatan ini merupakan ungkapan iman yang solider dengan sesama. Diberi sesuai dengan kemampuan sebagai wujud nyata menghadirkan Gereja yang peduli, hadir, dan menguatkan,”katanya.
Sebelumnya, Merliana Sufanti dari Paroki Kumba, Ruteng mengatakan, keluarganya sangat merasakan manfaat dari bantuan yang diberikan. Bantuan itu membuat kesulitan dan bebannya menjadi ringan.
“Kami merasakan sekali bantuan, perhatian, dan kasih dari Caritas. Dengan adanya perhatian ini, kami juga merasa tidak sendiri. Dukungan dari Paroki dan KBG sangat menguatkan,”katanya.
Sedangan penerima bantuan Sembako pada Festival Lembah Sanpio, beberapa waktu lalu, Hamid mengatakan, mewakili umat Muslim di wilayah Nangarawa, dirinya menyatakan apresiasi dan terimakasih kepada Keuskupan lewat Caritas.
“Apa yang terjadi ini merupakan bukti nyata dalam persaudaraan lintas iman. Kami merasa dihargai walaupun berbeda keyakinan,” katanya.*
Penulis : Christo Lawudin
Editor : Anton Harus









