Eksistensi Warisan Budaya–Merawat Identitas Bangsa - FloresPos Net

Eksistensi Warisan Budaya–Merawat Identitas Bangsa

- Jurnalis

Jumat, 5 Desember 2025 - 17:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Karolus Banda Larantukan

PADA beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 21 hingga 24 November 2025, penulis ikut terlibat berdasarkan rekomendasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur untuk mengikuti kegiatan Sertifikasi Kompetensi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang diadakan oleh direktorat Bina SDM, Lembaga dan Pranata Kebudayaan–Kementerian Kebudayaan di Jakarta.

Hampir 150 peserta dari berbagai daerah di pelosok nusantara hadir dan mengikuti kegiatan dimaksud. Sertifikasi Kompetensi TACB ini menjadi penting ketika selama tiga hari tersebut diberikan pembekalan dan ujian tertulis maupun wawancara oleh direktorat terkait cagar budaya.

Sesungguhnya landasan untuk kegiatan ini adalah bagaimana bangsa ini yakni orang-orangnya baik di daerah maupun nasional mampu melestarikan warisan budaya bangsa ini, agar manusia-nya tetap berkarakter, memiliki jati diri yang kokoh dan mampu merawat identitas diri dan bangsa sebagai ingatan kolektif yang kokoh.

Baca Juga :  Menanti Hak Angket DPR Pasca Pemilu 2024

***

Di tengah laju modernisasi yang kian tak terbendung, warisan budaya sering kali menemukan dirinya terdesak di sudut-sudut ingatan.

Rumah-rumah dan gedung-gedung beton tumbuh menggantikan rumah adat, bahasa daerah perlahan memudar di tengah dominasi bahasa global, dan ritual-ritual leluhur dianggap usang oleh generasi yang tumbuh bersama teknologi.

Di sinilah pertanyaan mendasar muncul: masihkah kita memandang warisan budaya sebagai jantung identitas bangsa, ataukah ia tinggal menjadi artefak masa lalu yang kehilangan makna?

Baca Juga :  Pendidikan Karakter Berbasis Komunitas: Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Warisan budaya bukan sekadar peninggalan ke-benda-an atau tak benda yang bersifat romantik. Ia adalah rekaman nilai, pengetahuan, dan cara pandang suatu komunitas dalam menjawab tantangan kehidupan.

Di dalam tenun ikat, misalnya, tersimpan kisah kosmologi, struktur sosial, hingga relasi manusia dengan alam. Pada rumah adat, termuat filosofi hidup bersama, pembagian peran, dan penghormatan terhadap leluhur.

Melalui bahasa dan Koda, pepatah, dan nyanyian rakyat, sebuah bangsa mewariskan kebijaksanaan lintas generasi tanpa harus menuliskannya di atas kertas.

Namun, tantangan terbesar warisan budaya hari ini justru lahir dari paradoks kemajuan itu sendiri. Pembangunan yang tidak berpijak pada kesadaran historis melahirkan bentuk-bentuk perusakan yang halus namun sistematis.

Berita Terkait

Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban
Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores
Piala Dunia, ‘Keabadian’ Misi Jules Rimet dan Epistemologi Rerum Novarum
Membangun Bisnis Ramah Keanekaragaman Hayati Berbasis Masyarakat Lokal
Logistik Perintis Lumpuh, Program Strategis Nasional MBG dan KDMP Terancam Gagal
Demokrasi Desa yang Bermartabat
Paradoks Jalan Swadaya dan Ancaman Sistem Transportasi Nasional
Turun dari Gunung Tabor, Menjaga Rumah Bersama
Berita ini 171 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:49 WITA

Membayar Pajak Versus Koruptor: Menjaga Napas dan Jiwa Peradaban

Senin, 20 Juli 2026 - 11:48 WITA

Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:05 WITA

Membangun Bisnis Ramah Keanekaragaman Hayati Berbasis Masyarakat Lokal

Sabtu, 18 Juli 2026 - 11:53 WITA

Logistik Perintis Lumpuh, Program Strategis Nasional MBG dan KDMP Terancam Gagal

Jumat, 17 Juli 2026 - 13:16 WITA

Demokrasi Desa yang Bermartabat

Berita Terbaru

Nusa Bunga

Sampah “Siluman” Ketar Ketirkan DLHP Manggarai Barat

Selasa, 21 Jul 2026 - 09:08 WITA

Opini

Spillover Effect Labuan Bajo dan Masa Depan Pantura Flores

Senin, 20 Jul 2026 - 11:48 WITA