Glokalisasi, Pasar yang Terancam dan Nafas Hidup Pedagang Kecil - FloresPos Net

Glokalisasi, Pasar yang Terancam dan Nafas Hidup Pedagang Kecil

- Jurnalis

Selasa, 5 Agustus 2025 - 07:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge

PENOLAKAN terhadap rencana pembangunan Indomaret di kompleks Pasar Inpres Larantuka oleh para pedagang lokal (Senin, 04/08/2025) mencerminkan dinamika sosial yang kompleks. Dinamika semacam ini dapat dianalisis dari berbagai perspektif termasuk sosiologis. Dan, tulisan ini mencoba meneropongnya dari sisi ini.

Dari sudut pandang teori konflik Karl Marx, situasi ini menunjukkan pertarungan antara kekuatan kapitalisme modern yang diwakili oleh jaringan ritel besar dan kelompok ekonomi kecil yang bergantung pada pasar tradisional.

Minimarket seperti Indomaret membawa sistem distribusi dan modal yang jauh lebih besar, sehingga menciptakan persaingan yang tidak seimbang dan berpotensi menyingkirkan pedagang kecil.

Baca Juga :  Wakil Bupati Ignas Uran Sebut Kader Posyandu Garda Terdepan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Dalam konteks ini, penolakan para pedagang merupakan bentuk perlawanan terhadap dominasi ekonomi yang mengancam keberlangsungan hidup mereka.

Dari perspektif sistem dunia Immanuel Wallerstein, masuknya Indomaret ke wilayah Flores Timur dapat dilihat sebagai bentuk ekspansi ekonomi pusat ke daerah pinggiran.

Proses ini sering disebut sebagai glokalisasi, di mana sistem ekonomi global masuk ke ruang lokal tanpa mempertimbangkan struktur sosial dan budaya setempat.

Penolakan pedagang lokal di Larantuka mencerminkan resistensi lokal terhadap penetrasi ekonomi yang dapat menciptakan ketergantungan dan mengikis kemandirian komunitas.

Baca Juga :  Badan Jalan Depan Pasar Inpres Larantuka Jadi Tempat Parkir Kendaraan

Sementara itu, teori interaksionisme simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan Erving Goffman menyoroti bahwa pasar tradisional bukan hanya tempat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang sosial yang sarat makna. Pasar adalah tempat interaksi, simbol identitas, dan budaya lokal.

Kehadiran Indomaret berisiko mengubah pasar menjadi sekadar ruang konsumsi, menghilangkan dinamika sosial yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan komunitas.

Hiruk pikuk pasar, sapaan antar pedagang dan pembeli, serta relasi sosial yang terbentuk di dalamnya adalah bagian dari kehidupan yang tidak tergantikan oleh sistem ritel modern.

Berita Terkait

Kumpulkan 200 Guru Hononer, Melchias Marcus Mekeng Komit Perjuangkan Anggaran Pendidikan dan Nasib Guru
Pemangku Adat Kecewa Terkait Pola Pikir Pejabat Partai dan Pemberian Gelar Raja untuk Jokowi
Kader Kesehatan Puskesmas Riaraja Jadi ‘Jembatan Emas’ Temukan Kasus Suspek TBC Secara Dini
PAN Ende Gelar Rakerda dan Lantik Pengurus DPC, AYO: Ini Rumah Besar untuk Semua
Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026: Hadirkan Harmoni Spiritualitas, Budaya, dan Pariwisata Berkelanjutan
Setelah Soekarno Cup, PBVSI Ende Gelar Turnamen Voli Antar Pelajar Sedaratan Flores-Lembata
Sukses Gelar Soekarno Cup 1, Yosef Badeoda: Ini Akan Jadi Ajang Rutin dari PDI Perjuangan
Dorong Swasembada Pangan, Pemda Nagekeo Monitoring Cetak Lahan Desa Langedhawe
Berita ini 199 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 22:50 WITA

Kumpulkan 200 Guru Hononer, Melchias Marcus Mekeng Komit Perjuangkan Anggaran Pendidikan dan Nasib Guru

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:36 WITA

Pemangku Adat Kecewa Terkait Pola Pikir Pejabat Partai dan Pemberian Gelar Raja untuk Jokowi

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:26 WITA

Kader Kesehatan Puskesmas Riaraja Jadi ‘Jembatan Emas’ Temukan Kasus Suspek TBC Secara Dini

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:17 WITA

PAN Ende Gelar Rakerda dan Lantik Pengurus DPC, AYO: Ini Rumah Besar untuk Semua

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:15 WITA

Festival Golo Koe Maria Assumpta Nusantara 2026: Hadirkan Harmoni Spiritualitas, Budaya, dan Pariwisata Berkelanjutan

Berita Terbaru