RUTENG, FLORESPOS.net-Peduli dengan lingkungan hutan kawasan selatan Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, para siswa SMAK St. Fransiskus bersama JPIC Keuskupan Ruteng menanam anakan pepohonan, Senin (25/3/2024).
Aksi penanaman pohon kayu jenis Sa’u (kayu lokal pelindung air dan buahnya menjadi makanan lezat burung-burung) dipimpin Kasek RD. Ferdy Usman bersama Koordinator JPIC Keuskupan, RD. Marthin Chen dengan titik di kawasan yang bekas kebakaran di Golo Lusang.
Penanaman pohon diawali dengan ibadat ekologis yang dipimpin Romo Chen yang diikuti para siswa dan guru-guru. Sebanyak 200 anakan kayu Sa’u ditanam.
Ketika itu, Romo Chen mengatakan, Tuhan telah menciptakan alam semesta dengan sangat indah dan harmonis. Kitab Kejadian melukiskan hal ini dalam Kitab Suci dalam puisi liturgis kisah penciptaan dalam fase kosmis yang serasi (Kej 1:1-2:4a).
“Sayangnya, kosmos yang indah dan harmonis ini kini telah rusak oleh ulah manusia,” ujar Romo Chen.
Sambil mengutip ensiklik Laudato Si Paus Fransiskus, Romo Chen menyebut mental konsumtif dan mental membuang (barang sisa) sebagai akar antroposentris dari kerusakan lingkungan hidup.
Menurut Direktur Puspas Keuskupan Ruteng ini, diperlukan pedagogi ekologis masif baik dalam keluarga maupun sekolah.
Dengan itu, sejak dini anak dan remaja dididik untuk menyadari ketergantungan manusia pada alam dan tanggungjawabnya untuk melestarikannya.
Kegiatan ekologis di sekolah adalah hal yang sangat diapresiasi dan urgent. Dengan itu, sejak dini anak-anak sekolah merasakan keharmonisannya dengan alam dan ketakjubannya atas karya agung penciptaan Sang Khalik.
Kepala SMAK St. Fransiskus, RD. Ferdy Usman mengatakan, apa yang dilakukan ini merupakan wujud nyata keterlibatan sekolah dalam melestarikan alam dan lingkungan.
“Kita harus buat sesuatu untuk alam ini agar tetap lestari,” katanya.
Dikatakan, aksi ekologis ini dilakukan oleh kelompok pencinta alam Xaverian. Kelompok ini terdiri dari siswa dan guru-guru yang memiliki minat dan keprihatinan ekologis.
Kekurangan air di Kota Ruteng mungkin akibat rusaknya hutan. Apa yang dilakukan kiranya berkontribusi untuk menghutankan lagi hutan yang rusak.
Selain itu, penghijauan ini juga merupakan bentuk nyata keikutsertaan SMAK Fransiskus dalam gerakan Tahun Pastoral Ekologi Integral 2024 Keuskupan Ruteng.
Ketika itu, Ketua Komisi Liturgi, RD. Andy Jeramat mengatakan, apreasiasi atas apa yang dilakukan sekarang ini. Ibadat ekologis kreatif yang dikemas dalam doa, nyanyi dan tari dituntun untuk sungguh bersatu dengan alam dan memuliakan Sang Pencipta.
“Spiritualitas ekologis ini yang perlu dikembangkan dalam gerakan ekologis sekarang ini,” katanya.
Seorang siswa, Maria mengatakan, amat gembira karena terlibat dalam kegiatan ekologis sekarang. Kegiatan ini sangat bagus untuk orang muda.
“Senang sekali ikut kegiatan hari ini. Ibadatnya menyentuh. Aksi penghijauannya bagus sekali agar orang muda mencintai dan menjaga alam,” katanya. *
Penulis: Christo Lawudin I Editor: Wentho Eliando










