RD. Donnie Migo
Sabtu, 4 November 2023
(Peringatan Wajib St. Karolus Borromeus)
Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,
Hari ini Gereja Katolik memperingati St. Karolus Borromeus, ia berkebangsaan Italia berasal dari Milan, ia dipilih menjadi kardinal dan bapak konsili Trente. Lahir pada abad ke-16 dan mendapatkan gelar kudus pada abad ke-17 tepatnya pada tahun 1610.
St. Karolus Borromeus dikenal sebagai pemimpin yang sangat rendah hati. Hal ini dapat dilihat dari kesederhanaan hidupnya, ia tidak memiliki apa-apa kecuali jubahnya.
Salah satu kecemasannya adalah kalau- kalau karena jabatannya, ia menjadi jauh dari Tuhan.
Satu pengalaman yang juga memperlihatkan kerendahan hatinya, ketika ia menemani seorang anak penggembala dan mengajarkannya berdoa bapa kami dan salam maria.
Ia bahkan rela untuk tinggal bersama orang-orang sakit, melayani dan merawat serta merayakan ekaristi bersama dengan mereka.
Kerendahan Hati Santo Karolus ini terinspirasi dari bacaan Injil Lukas hari ini (14:1.7-11), di mana Tuhan Yesus mengatakan “Apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.”
Tuhan Yesus menyuruh kita untuk pergi duduk di tempat yang paling rendah adalah ajakkan untuk memberikan kesaksian bahwa seorang beriman tidak “gila” akan posisi atau tempat duduk tetapi bersedia untuk duduk bersama dengan mereka yang dianggap rendah dalam masyarakat.
Pilihan untuk duduk di tempat yang paling rendah adalah sebuah keputusan untuk berjuang dengan mereka yang tidak memiliki posisi dalam masyarakat.
Di sana, tuan pesta akan datang dan menyapa kita sebagai “sahabat,” karena hanya dia yang rela berhenti dan menolong saudaranya (Kisah seorang Samaria yang baik hati), dia itu yang layak untuk diajak duduk di tempat terhormat.
Sehingga posisi duduk bukanlah tempat yang kita cari tetapi kesempatan yang dipercayakan atau diberikan kepada kita karena kerendahan hati yang kita miliki.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada Jemaat di Roma juga mengingatkan bahwa salah satu ukuran kerendahan hati adalah tidak menanggapi diri pandai (Roma 11:25).
Kepandaian merupakan suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan tetapi itu belum cukup untuk menjadi bekal bagi seorang dalam beriman, maka dibutuhkan kerendahan hati agar kepandaian itu tidak menjadi boomerang yang mencelakakan dirinya sendiri, melainkan menghantarnya menjadi seorang yang lebih matang dalam mengambil keputusan.
Marilah kita belajar menjadi rendah hati bertolak dari kesaksian Santo Karolus Borromeus dan nasihat dari kedua bacaan suci hari ini.
Kerendahan hati berarti tahu memposisikan diri kita dan melihat kepandaian sebagai kemampuan yang membantu kita untuk menjadi suci. ***
RD. Donnie Migo, Imam Keuskupan Maumere, Mahasiswa Global Programs (Missouri School of Journalism) pada University of Missouri, USA









