Mereka dibentuk oleh lingkungan belajar yang memberi ruang bagi empati dan keberanian. Semangat itu sejalan dengan Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bersama PUSPEKA Kemendikdasmen pada 2 Oktober 2026 tentang budaya sekolah yang aman dan nyaman.
Rusprita Putri Utami, S.E., M.A., memaparkan pola peer support Look, Listen, Link: melihat, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghubungkan teman dengan orang dewasa yang dipercaya.
Pelatihan LKLB yang digagas Institut Leimena telah menjangkau lebih dari 12.000 pendidik dan penyuluh agama dari 38 provinsi.
Pesannya jelas: persatuan tidak cukup dideklarasikan, ia harus menjadi kebiasaan sekolah, termasuk bagi generasi muda NTT yang merawat bahasa ibu tanpa meminggirkan bahasa persatuan.
Hoaks: Musuh Baru Persatuan
Jika persatuan bertumpu pada bahasa dan narasi bersama, kebenaran adalah napasnya. Wardle dan Derakhshan (2017) membedakan tiga gangguan informasi: misinformation (keliru tanpa niat menyesatkan), disinformation (sengaja menipu), dan malinformation (benar tetapi dipakai untuk melukai).
Hoaks berbau SARA bekerja berlawanan dengan Sumpah Pemuda: memecah “kita” menjadi “kami” dan “mereka”.
Masalahnya bukan hanya niat jahat segelintir orang. Studi Vosoughi, Roy, dan Aral (2018) menemukan bahwa berita palsu menyebar lebih jauh dan lebih cepat daripada berita benar, terutama karena manusia yang membagikannya, sering kali karena marah atau takut.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










