Benedict Anderson (1983) menyebutnya “komunitas terbayang” (imagined community): orang yang tidak saling mengenal merasa satu karena berbagi bahasa dan narasi. Artinya, Sumpah Pemuda bukan peristiwa yang selesai pada 1928, melainkan komitmen yang harus dihidupkan kembali oleh setiap generasi.
Pendidikan sebagai Matahari Kehidupan
Secara filosofis, ikrar pemuda adalah pernyataan eksistensial: manusia adalah ada yang selalu memberi dan saling melengkapi, makhluk yang mampu meng-ada bagi yang lain (Sobe, 2021).
Meminjam gagasan Aristoteles, kebaikan bersama (bonum commune) dapat dipandang sebagai puncak pencarian manusia (Arendt, 1958:23). Di tengah kerumitan hidup bersama, pendidikan menjadi salah satu kuncinya.
Penulis menyebut pendidikan sebagai matahari: tanpanya, kehidupan kehilangan arah. Ia juga bagaikan pedang yang terus diasah, berguna bila dipakai dengan benar dan berbahaya bila disalahgunakan.
Pendidikan orang muda bukan sekadar persiapan untuk hidup nanti, melainkan sudah merupakan kehidupan itu sendiri (Knight, 1982:66). Ki Hadjar Dewantara (1962) menekankan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga sebagai satu kesatuan.
Dalam kerangka itu, pendidikan karakter membentuk watak yang mewujud dalam kebiasaan sehari-hari, agar peserta didik berakhlak mulia, tangguh, dan toleran.
Teladan Pemuda dan Sekolah yang Merangkul
Jika pemuda 1928 berikrar lewat kongres, pemuda hari ini berikrar lewat karya. Neha Shukla menggerakkan sains dengan empati, Radhika Goyal mendorong literasi digital perempuan, Brigitta Gunawan memperjuangkan konservasi laut, Jerome Polin membuat matematika terasa dekat, dan Maudy Ayunda mengampanyekan literasi serta berpikir kritis.
Editor : Wall Abulat
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya










