UNESCO (2021) menegaskan prinsip pengawasan manusia, transparansi, dan tanggung jawab dalam etika AI.
Di sinilah dua daya batin dibutuhkan. Akal budi bertanya: dari mana data ini dan adakah buktinya? Suara hati bertanya hal yang tidak dapat dijawab mesin: apakah ini pantas, adil, dan tidak merugikan sesama?
Perpaduan keduanya dalam tradisi Aristoteles disebut phronesis, kebijaksanaan praktis dalam bertindak. Bagi pelajar, godaan terbesarnya adalah menyerahkan tugas berpikir kepada mesin, padahal kemampuan bertanya dan menimbang hanya menguat bila dilatih.
Maka gunakan AI sebagai pendamping berpikir, bukan pengganti berpikir; verifikasi fakta dan kutipan; akui pemanfaatannya secara jujur; lindungi data pribadi; dan jangan memakainya untuk menipu atau merendahkan orang lain.
Penutup
Pemuda 1928 tidak memiliki internet, tetapi memiliki keberanian berpikir dan hati yang tulus untuk bersatu. Pemuda hari ini memiliki teknologi yang jauh lebih canggih; tantangannya memastikan kecanggihan itu melayani nilai yang sama.
Sumpah Pemuda bukan monumen masa lalu, melainkan mandat yang terus diperbarui. Mari mulai dari jempol, kelas, dan kampung kita sendiri, sebab ikrar itu baru hidup ketika setiap generasi menuliskannya kembali lewat tindakan.
Penulis adalah Pendidik di SMK Santu Antonius Padua Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur dan Staf Lembaga Nusa Bunga Mandiri (LNBM).
Editor : Wall Abulat










