Sabinus menambahkan, kemajuan teknologi mengubah manusia dari peradaban time series menjadi real time dan di masa kini, semua hal menjadi serba real time. Ia sebutkan, pada masa lampau , bila mau berbisnis anda harus memilikinya sendiri, namun kini kita hidup di era aset-aset konsumtif yang terbuka untuk di gunakan bersama (sharing economy). Supply – demand tidak lagi di lakukan secara tunggal
Menurut dia, kini kita hidup didalam dunia Apps yang pada saat bersamaan dikerjakan oleh puluhan, bahkan ribuan jejaring yang mempercepat disruption. yang artinya kita hidup di jaman semua hal ada aplikasinya.
“Dulu kalau mau sesuatu harus datang antri, tanya orang. Sekarang semuanya lewat apss. Lapar buka aplikasi pilih makanan yang di inginkan.Mau belajar buka aplikasi, mau kerja, cari jodoh, bayar listrik, curhat, semuanya pakai aplikasi,” tuturnya.
Sabinus menyebutkan kondisi ini mempunyai dua makna dimana makna positifnya, hidup jadi praktis, cepat dimana semuanya berada di ujung jari.
Lanjutnya, yang kedua, ita juga harus kritis, kita jadi tergantung pada handphone , hidup kita seakan akan pindah kedalam layar, jarang berkomunikasi langsung, semuanya lewat aplikasi.
Sabinus menambahkan, kita hidup dalam dunia apps , tapi kadang lupa hidup di dunia nyata dan setiap penawaran selalu menyangkut jejaring ribuan pihak, demikian pula dengan permintaan.
Dalam situasi semacam ini, cara kita melihat masa depan menentukan keberhasilan kita dan banyak orang terjebak melihat masa depan dengan lensa masa lalu.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










