Situasi rada panas itu, seakan menghilang dan berubah menjadi sejuk, tatkala pesawat Hercules C 130 yang membawa Sri Paus John Paul II mendarat mulus di Bandara Waioti (sekarang namanya Bandara Frans Seda) pada pukul 14.15 Wita).
Ratusan ribu umat Katolik yang memadati Gelora Samador saat itu mulai histeris seakan tak sabar untuk melihat tokoh kharismatik yang menggembalakan 1,4 Miliar umat Katolik dunia saat itu.
Sri Paus sendiri saat tiba di Bandara diterima oleh Menteri Keuangan RI Prof Dr. J. B. Sumarlin, Gubernur NTT dr. Hendrik Fernandez, Uskup Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD dan sejumlah pejabat pemerintahan dan tokoh agama.
Setelah rehat sesaat di Ruang VIP Bandara Waioti, Sri Paus didampingi Uskup Agung Ende Mgr. Donatus Djagom, SVD menggunakan mobil khusus yang telah disiapkan panitia beranjak dari Bandara menuju Gelora Samador.
Sepanjang kiri kanan jalan yang dilalui Sri Paus saat itu dijejali warga. Warga melambaikan tangan, dan menyerukan Viva Ill Papa (Hidup Paus). Paus menyalami umat dan memberikan berkatnya.
Setiba di Pintu Gerbang Gelora Samador, Sri Paus disambut Ketua Umum Panitia Bapak Daniel Woda Palle, dan Bupati Sikka Bapak Conterius, dan diterima dengan sapaan adat Saing Lepo Tomawoga yang dibawakan oleh Bapak Laurens Say dan penaburan dan pengalungan bunga oleh Nyonya Mien Palle.
Ketika memasuki Gelora Samador Sri Paus disambut 250.000 umat dengan menggemakan pekikan Viva Il Papa-Hidup Paus. Beberapa menit kemudian, Sri Paus tiba di depan Patung Kristus Raja. Sesuai agenda, Sri Paus rehat sebentar untuk memberkati Patung itu dan menandatangi Prasasti. Prasasti ini bertuliskan Bless by His Holiness Pope John Paul II. Maumere, Oct 11,1989.
Setelah memberkati patung Kristus Raja, Sri Paus didampingi Uskup Agung Ende Mgr. Donatus Djagom, SVD menggunakan Mobil Jeep Landrower menyalami umat yang berjubel pada setiap lorong. Sri Paus memberikan berkat. God bless you, kata Sri Paus.










