Yoma menambahkan, harga sampah yang akan dibeli pengepul yang bekerja sama dengan Bank Sampah G-Lingko bervariasi, sekitar belasan jenis.
Antara lain kardus Rp.1500/kg, botol kaca besar Rp.500/botol, yang kecil Rp. 250/botol, botol air mineral tanpa tutup dan label/merek sekitar Rp. 4500/kg, yang masih punya merek/label Rp. 1500/kg. Kaleng dan aluminium juga diterima. Kaca dan plastik kantong/kresek tidak terima, katanya.
Masih Yoma, DLHP akan menyasari sekolah-sekolah. Berharap mereka akan memungut sampah di jalan atau lingkungan sekolah untuk jual di Bank Sampah G-Lingko. Mereka akan mendapatkan uang dari hasil jualan itu.
“Saya sekarang sedang mendorong seorang anak di Labuan Bajo terkait ini. Dia mulai bergerak mengumpulkan sampah. Mudah-mudahan hasil baik nantinya,” kata Yoma.
Tambah Kadis Vinsen, dengan kehadiran Bank Sampah G-Lingko, para pemulung di TPA Warloka sekarang sudah masuk mobil-mobil sampah milik DLHP Mabar.
Mereka memilah sampah organik-anorganik langsung di atas mobil. Setelah itu langsung ditimbang dan digitalisasi. Sampah yang dibawah ke TPA Warloka hanya residu.
Bank Sampah G-Lingko diresmikan 7 September 2026, uji cobanya sejak Juli 2026. Bank yang terletak di kompleks DLHP Mabar di Labuan Bajo itu dibuka seminggu sekali untuk memberi waktu kepada siapa saja untuk mengumpulkan sampah, katanya lagi. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando









