REOK, FLORESPOS.net-Ribuan warga Kecamatan Reok dan Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap bertahan di sejumlah tenda pengungsian yang tersebar di sejumlah titik pada dua kecamatan itu. Mereka memilih bertahan karena hingga Minggu (23/8/2026) guncangan gempa terus terjadi. Sejumlah posko membutuhkan bantuan terpal, selimut, dan sembako.
Para pengungsi di antaranya menempati Posko Pengungsian Terpusat di Barang Kolong, Kelurahan Mata Air, Posko Golo Conggo, Desa Ruis Timur; Posko di Kajong dan Sambi Kecamatan Reok Barat; Posko Tureng Desa Nggalak Kecamatan Reok Barat, dan di sejumlah titik yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Reok dan Kecamatan Reok Barat.
Pantauan media ini di Posko Terpusat Barang Kolong, ada sekitar ratusan tenda/terpal dipasang di Lapangan Sepak Bola Kelurahan Mata Air. Di lokasi ini ditempati sekitar 2.545 warga yang terdampak gempa tektonik.
Sementara di Posko Golo Conggo, Desa Ruis Timur juga ditempati ribuan warga terdampak gempa.
Sedangkan di Tureng, Desa Nggalak, Kecamatan Reok Barat warga terdampak gempa secara mandiri membangun tenda di Lapangan sepak bola Tureng. Warga secara suka rela membangun posko menyusul di Kampung ini ada banyak rumah rusak parah.
Warga di Kampung Tureng meminta pemerintah untuk memberikan bantuan terpal dan peralatan tidur seperti selimut.
Sedang Lakukan Pendataan
Camat Reok Rita Udin, SP yang dihubungi melalui telepon seluler, Minggu (23/8/2026) pagi menjelaskan petugas dari kelurahan dan desa di kecamatan yang dipimpinnya sedang melakukan pendataan kerusakan rumah dan jumlah warga yang terdampak gempa.
“Dari pendataan sementara diketahui bahwa warga yang menempati Posko Barang Kolong terdata sekitar 2.545 orang,” kata Camat Rita Udin.
Sementara Bupati Manggarai Herybertus G.L. Nabit yang dihubungi terpisah menegaskan bahwa pihaknya telah meminta kepala desa dan lurah di seluruh Kabupaten Manggarai untuk melakukan pendataan bagi yang menjadi korban terdampak gempa dan yang mengalami kerusakan rumah.
“Pendataan penting dilakukan untuk memudahkan pendropan bantuan atau intervensi pascagempa,” kata Bupati Hery Nabit.
Untuk diketahui gempa tektonik 7,7 scala ritcher menggucang Flores, termasuk Manggarai Raya pada Sabtu 15 Agustus 2026 lalu. Gempa ini hingga Sabtu 22 Agustus 2026 telah menyebabkan 87 warga Flores meninggal dunia dan kerusakan ribuan rumah dan fasilitas umum. *
Penulis : Wall Abulat
Editor : Anton Harus










