Ia menyebutkan, dengan menggunakan briket maka dapat mengurangi limbah dari kelapa serta memanfaatkan sumber daya alam secara bekelanjutan.
Dampak ekonominya, bisa mendatangkan penghasilan bila dijual serta meniadakan pengeluaran dana untuk membeli minyak tanah atau kayu bakar.
“Penggunaan briket mengindikasikan adanya pemanfaatan energi untuk skala rumah tangga. Memanfaatkan energi terbarukan yang ada di sekitar kita,” ungkapnya.
Simpan Uang dan Pinjam Tanpa Bunga
Pada setiap kelompok dampingan YPPS diperkenalkan model usaha simpan pinjam bernama Savings and Internal Lending Communities (SILC).
Anggota kelompok diajarkan untuk menisihkan pendapatan mereka dari penjualan produk turunan dari kelapa seperti kopra, arang, briket dan lainnya untuk ditabung.
“Seminggu sekali kami berkumpul dan setiap orang membawa uang untuk ditabung.Salah satu yang membuat kelompok petani kelapa tetap bertahan karena adanya SILC,” ungkap Agnes.

Agnes mengakui anggota kelompok terbantu karena selain menabung, mereka juga bisa meminjam dana untuk kebutuhan mendesak tanpa ada bunga yang mencekik leher.
Ia memaparkan, dalam seminggu simpanan bisa mencapai Rp3 juta dan setiap orang bisa meminjam. Nanti setelah itu baru mencicil sesuai jumlah pinjamannya.
“Setelah habis siklusnya, semua dana simpanan dibagi kepada anggota.Jumlah yang diterima sesuai dengan simpanan masing-masing anggota,” ungkapnya.
Agnes menyebutkan, siapa yang simpan lebih banyak maka akan mendapatkan uang lebih banyak sehingga anggota yang menyimpan sedikit akan merasa tersaingi.
Selain itu, setiap minggu setiap anggota wajib menyetorkan dana sosial sebesar Rp5 ribu sehingga dana yang terkumpul bisa diberikan kepada anggota yang mengalami sakit atau ada sedang mengalami kedukaan.
“Sekarang sudah terkumpul dana sosial sebesar Rp2 juta dimana uangnya kami pakai untuk beli beras dan dibagi ke anggota. Nanti sebulan sekali baru dibayar dan keuntungannya masuk ke kas dana sosial,” ucapnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










