Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Tilang One Farm Sukses Bina Anak Muda Bertani Hortikultura - FloresPos Net - Page 2

Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Tilang One Farm Sukses Bina Anak Muda Bertani Hortikultura

- Jurnalis

Sabtu, 18 April 2026 - 10:53 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rofinus menjelaskan,dirinya juga memberikan ilmu terkait bagaimana Teknik budidaya hortikultura dan setelah satu atau dua tahun mahir baru mereka dimotivasi membuka lahan hortikultura sendiri.

Setelah memiliki lahan, para petani tetap didampingi dan difasilitasi untuk mendapatkan sarana dan pra sarana pertanian termasuk akses ke pasar dengan harga jual yang layak.

Saat ditemui di lahan seluas 4,5 hektare miliknya sedang ditanami aneka jenis cabai keriting, cabai besar, cabai rawit, tomat, ketimun, buncis, semangka dan juga bunga kol.

“Kami berhitung panennya di bulan Juni nanti saat itu banyak pesta Sambut Baru dan pernikahan sehingga kebutuhannya akan meningkat. Jenis-jenis tersebut akan laris manis saat bulan-bulan tersebut,” jelasnya.

Baca Juga :  Dua Sekolah Negeri di Kota Ende Terbakar

Rofinus mencontohkan, untuk budidaya tomat maka usia panennya 60 hari dan berapa kali panen tergantung kepada perawatan seperti pemupukan, penyiraman, penyemprotan dan lainnya.

Kalau kita rawat bagus, maka bisa dipanen sampai dengan 20 kali bahkan lebih sehingga kalau akumulasi total tergantung dari jumlah volume atau tegakan yang ditanam.

“Saya kasih contoh seperti tomat yang kita tanam 7 ribu pohon atau tegakan.Hitunglah saja, maksimal 1 pohon panennya 2 kilogram saja maka akan dihasilkan 14 ton tomat,” terangnya.

Rofinus menyebutkan jika harga satu kilogram tomat Rp10 ribu maka bila dikalikan dengan 14 ton hasil produksi maka pendapatan kotor yang didapat Rp140 juta.

Baca Juga :  Quattrick Zainal dan Satu Gol Dahlan Antar Ensel ke Semi Final BEC 2025

Dikurangi dengan biaya pembukaan lahan,biaya sarana produksi pertanian (Saprotan) seperti benih, pupuk dan pestisida) serta biaya tenaga kerja sekitar Rp30 juta sampai Rp40 juta maka dalam rentang waktu 3 sampai 4 bulan keuntungan bersihnya Rp100 juta sampai Rp110 juta.

“Bila harganya anjlok Rp5 ribu per kilogram maka penghasilan kotornya Rp70 juta dan dikurangi biaya produksi dan lainnya Rp30 juta maka dalam waktu 3 sampai 4 bulan didapat keuntungan Rp30 juta sampai Rp40 juta,” ungkapnya.

Penulis : Ebed de Rosary

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Pilkades Ngada, 9 Desa di Golewa Selatan Tengah Masuk Tahap Pencalonan
Penolakan Masyarakat Hukum Adat dan Budaya Amanuban Terkait Klaim Jonathan Nubatonis Sebagai Raja Amanuban
Penjelasan Kuasa Hukum AW Terkait Dugaan Pelanggaran UU ITE oleh Kliennya
POTHP V, “Merayu” Investor Berinvestasi di Parapuar
Hilang Kontak Saat Menuju Pulau Karumpa Selayar,Dua Nelayan Sikka Ditemukan Tim SAR Gabungan
Kesadaran Masyarakat Bayar PBB Masih Rendah, Realisasi PAD Baru Mencapai Rp 58 Miliar Lebih
Cek Kesehatan Gratis PDIP di Pengungsian Lewotobi–Mereka Masih Butuh Bantuan dan Kepastian Huntap
APINDO Ende Berbagi Kasih di Panti ODGJ Samaria, Bawa Bingkisan Barang Kebutuhan Pokok
Berita ini 119 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 21:34 WITA

Pilkades Ngada, 9 Desa di Golewa Selatan Tengah Masuk Tahap Pencalonan

Senin, 21 September 2026 - 21:04 WITA

Penolakan Masyarakat Hukum Adat dan Budaya Amanuban Terkait Klaim Jonathan Nubatonis Sebagai Raja Amanuban

Senin, 21 September 2026 - 21:01 WITA

Penjelasan Kuasa Hukum AW Terkait Dugaan Pelanggaran UU ITE oleh Kliennya

Senin, 21 September 2026 - 19:54 WITA

Hilang Kontak Saat Menuju Pulau Karumpa Selayar,Dua Nelayan Sikka Ditemukan Tim SAR Gabungan

Senin, 21 September 2026 - 19:40 WITA

Kesadaran Masyarakat Bayar PBB Masih Rendah, Realisasi PAD Baru Mencapai Rp 58 Miliar Lebih

Berita Terbaru