Krisis Kesehatan Mental Anak Pengungsi Erupsi Lewotobi Diabaikan: Pemda Flores Timur Harus Segera Ambil Tindakan Terukur - FloresPos Net

Krisis Kesehatan Mental Anak Pengungsi Erupsi Lewotobi Diabaikan: Pemda Flores Timur Harus Segera Ambil Tindakan Terukur

- Jurnalis

Jumat, 6 Februari 2026 - 15:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LARANTUKA, FLORESPOS.net-Penanganan dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur dinilai belum menyentuh aspek krusial kesehatan mental anak pengungsi.

Hingga saat ini, fokus respons masih didominasi bantuan logistik dan kesehatan fisik, sementara layanan dukungan psikososial bagi anak belum terlihat berjalan secara sistematis dan terukur.

Hal ini diungkapkan oleh Konradus Sang Angin, Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana, Kesehatan, Perempuan, dan Anak DPC PDI Perjuangan Kabupaten Flores Timur, dalam siaran persnya, Kamis (5/2/2026).

Menurut pria yang lebih dikenal dengan Bung Angin, anak-anak merupakan kelompok paling rentan dalam situasi bencana.

Paparan ketakutan, pengungsian berkepanjangan, ketidakpastian,serta hilangnya rasa aman dapat memicu trauma psikologis, gangguan kecemasan, regresi perilaku, dan hambatan perkembangan jangka panjang.

“Tanpa intervensi dini, dampaknya bisa menetap hingga dewasa,” ungkapnya menjelaskan.

Bung Angin sapaannya katakan, fakta di lapangan menunjukkan masih terbatasnya, layanan konseling anak di lokasi pengungsian dan tenaga psikososial terlatih.

Baca Juga :  Festival Bale Nagi 2024, 3.050 Peserta Berbusana Daerah Ramaikan Karnaval Budaya

Lanjutnya, ruang ramah anak yang aktif, program pemulihan trauma berbasis komunitas dan sekolah darurat juga masih terbatas.

Lebih lanjut, Bung Angin menuturkan bahwa kondisi ini tidak dapat dipandang sebagai isu sekunder.

“Kesehatan mental anak dalam situasi bencana adalah kewajiban layanan dasar, bukan pelengkap,” tegasnya.

Bung Angin menyebutkan, secara hukum, negara dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab langsung untuk melindungi anak dalam situasi darurat.

Hal ini diperkuat oleh UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dimana menegaskan bahwa penanganan bencana wajib melindungi kelompok rentan, termasuk anak-anak.

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, mewajibkan pemerintah memberikan perlindungan khusus bagi anak dalam situasi bencana.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan segala perubahannya menyatakan bahwa negara menjamin hak anak atas perlindungan, pemulihan, dan layanan rehabilitasi.

Baca Juga :  Menengok Revolusi Pertanian Jagung Gekeng Deran di Flores Timur ( 1 )

“Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana juga menekankan pelayanan terhadap kelompok rentan dalam masa tanggap darurat dan pemulihan,” jelasnya.

Untuk itu, selaku Wakil Ketua Bidang Penanggulangan Bencana, Kesehatan, Perempuan, dan Anak DPC PDI Perjuangan Kabupaten Flores Timur.

Bung Angin mengharapkan agar Pemerintah Kabupaten Flores Timur segera mengaktifkan layanan dukungan psikososial anak di seluruh titik pengungsian.

Hal ini kata dia dilaksanakan dengan memperhatikan penempatan tenaga psikolog/pekerja sosial minimal secara berkala serta pembentukan ruang ramah anak standar darurat bencana.

“Libatkan kementerian atau lembaga terkait serta organisasi kemanusiaan nasional serta pelaporan terbuka kepada publik mengenai program pemulihan psikososial anak,” sarannya.

Bung Angin menekankan, penanganan bencana yang mengabaikan kesehatan mental anak adalah kegagalan perlindungan generasi sehingga respons harus ditingkatkan sekarang, bukan nanti. *

Penulis : Ebed de Rosary

Editor : Wentho Eliando

Berita Terkait

Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton
Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat
Sajikan Kopi Juria Colol, Rumah Wunut Buka Cabang di Maumere, Dukung Misi Lingkungan dan Kemanusiaan LSM ILMU
Reses di Ende, Oktovianus Moa Mesi Serahkan Hand Traktor Bantuan Julie Laiskodat ke Petani
Disnakertrans Sikka Gelar Mini Job Fair di Waigete, Fasilitasi Warga Jadi Pekerja Resmi
STIPAS Sirilus Ruteng Gelar Seminar Nasional: Mendesain Pendidikan Tinggi Berdampak Pada Era Masyarakat 5.0
Patris Lali Wolo Sebut Anggaran Jembatan Pomakeke Aeramo Sudah Ada, Tapi Tidak Dieksekusi Pemprov NTT
Cegah Bullying dan Judol, Tim Polres Ende Sosialisasi di SMAN 1 Ende
Berita ini 239 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:15 WITA

Kekeringan ‘Memaksa’ Manggarai Barat Kehilangan Produksi Padi 423,4 Ton

Selasa, 27 Oktober 2026 - 20:11 WITA

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:57 WITA

Sajikan Kopi Juria Colol, Rumah Wunut Buka Cabang di Maumere, Dukung Misi Lingkungan dan Kemanusiaan LSM ILMU

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:16 WITA

Disnakertrans Sikka Gelar Mini Job Fair di Waigete, Fasilitasi Warga Jadi Pekerja Resmi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 16:52 WITA

STIPAS Sirilus Ruteng Gelar Seminar Nasional: Mendesain Pendidikan Tinggi Berdampak Pada Era Masyarakat 5.0

Berita Terbaru

Feature

Menjaga ‘Tungku Perjumpaan’

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WITA

Blasius Apen, Kepala Bidang (Kabid) Produksi Tanaman Pangan (PTP) pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Mabar

Nusa Bunga

Puso, 100 Hektar Tanaman Padi dan Jagung di Manggarai Barat

Selasa, 27 Okt 2026 - 20:11 WITA