MAUMERE, FLORESPOS.net-Kabupaten Sikka merupakan salah satu daerah endemik Demam Berdarah Dengue (DBD) dimana hampir setiap tahun jumlah warga yang terserang DBD masih banyak bahkan ada korban jiwa.
Hingga tanggal 19 Januari 2026 terdapat 26 kasus DBD dengan jumlah korban meninggal sebanyak satu orang dan saat ini sebanyak 10 orang masih menjalani perawatan di Fasilitas Kesehatan (Faskes).
“Untuk DBD kita penanganan tetap jalan seperti biasa untuk pencegahan preventif. Data kita untuk Januari ini sudah ada 26 kasus dengan satu korban jiwa dan 10 orang masih menjalani perawatan,” sebut Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Sikka, Petrus Herlemus, Senin (19/1/2026).
Petrus menjelaskan, tahun 2025 jumlah kasus DBD di Kabupaten Sikka mencapai 353 kasus tanpa kematian dimana jumlah ini turun drastis dari tahun 2024 dengan jumlah kasus mencapai 816 kasus.
Ia mengakui turunnya kasus DBD akibat dari kegiatan promotif dan preventif di 25 Puskemas yang ada di Kabupaten Sikka berjalan dengan baik termasuk koordinasi penanganan lintas sektor.
“Kita dikejutkan dengan Januari ini terdapat satu korban meninggal dari Kecamatan Kewapante, pasiennya telat dibawa ke Faskes. Pasien meninggal di RS TC Hillers rujukan dari rumah sakit St.Gabriel Kewapante,” jelasnya.
Petrus menerangkan telah dilaksanakan rapat koordinasi lintas sektor termasuk dengan Forkopimda dan seluruh institusi yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan dan juga puskesmas.
Ia mengakui untuk seluruh puskesmas ada rekomendasi-rekomendasi yang harus ditindaknlanjuti supaya bisa menekan kasus DBD ini termasuk rekomendasi gerakan kebersihan lingkungan.
Termasuk gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di setiap puskesmas dan juga di setiap wilayah kerja kecamatan baik di tingkat desa maupun kelurahan.
“Harapan kita kesadaran masyarakat tentang kebersihan lingkungan itu lebih optimal lagi karena biasanya sarang nyamuk ada di lingkungan-lingkungan yang kumuh dan genangan air,” ucapnya.
Petrus menegaskan, Dinas Kesehatan memberikan pengumuman melalui mobil setiap pagi dan sore untuk mengedukasi masyarakat serta membagikan abate dan ikan kepala timah untuk setiap masyarakat dan rumah-rumah yang punya penampung air tanpa penutup.
Pihaknya juga telah menggelar rapat koordinasi lagi untuk tindak lanjut dan rapat sebelumnya agar setiap puskesmas bergerak sehingga edukasi dalam masyarakat tetap jalan.
Sebanyak 25 puskesmas rawat inap dan rawat jalan siaga 1×24 jam untuk pelayanan kesehatan selama bulan November sampai dengan Maret nanti.
Ia mengaku telah mengeluarkan surat edaran untuk semua puskesmas jika ada pasien dengan keluhan demam, maka tata laksana yang pertama adalah dicurigai DBD.
“Nanti penegakan diagnosanya hasilnya lain kita syukuri. Kita antisipasi jangan sampai ada korban lagi selain satu korban di pertengahan Januari kemarin,” ungkapnya.
Petrus menerangkan, untuk fogging pihaknya tetap melakukan dimana setiap ada kasus DBD di wilayah tersebut maka dilakukan penyelidikan epidemilogi 125 dan setiap ada kasus fogging adalah tindakan terakhir.
Apabila kasus meningkat di wilayah itu maka fogging harus dilakukan jika hasil dari penyelidikan epidemiologi yang cukup dengan 125 bisa berjalan dengan baik.
Ia mengakui tahun 2025 kemarin Sikka masuk siklus KLB DBD namun pihaknya bergerak mengantisipasi sehingga kasusnya bisa diturunkan dan tidak ada kasus kematian.
“Kita lakukan gerakan massal kesadaran bersama untuk kebersihan lingkungan minimal di setiap rumah kita. Nanti gerakan lintas sektor di luar rumah itu menjadi koordinasi institusi bersangkutan,” terangnya.
Petrus berharap di masing-masing rumah pastikan bahwa tidak ada genangan air, tidak ada sampah-sampah yang menjadi tempat pembiakan nyamuk.
Pihaknya menghimbau apabila setiap keluhan pasien demam maka harus segera dibawa ke puskesmas, jangan ditunda-tunda.
“Nanti disana di tata laksana untuk maintenance dari DBD dilakukan oleh Nakes. Kesadaran kita lebih optimal lagi untuk masyarakat,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando










