Ini yang membuat setiap ada perlombaan maka pihak sekolah akan mengumumkan dan anak-anak dibebaskan mendaftarkan diri dan ikut berkompetisi.
Sekolahnya tidak terlalu repot dengan juara meskipun sering meraih berbagai juara dan piala yang banyak tidak ditempatkan di ruangan kepala sekolah tapi di perpustakaan.
“Piala itu harus berada di ruang perpustakaan. Tidak ada hubungannya kehebatan kepala sekolah dengan piala itu.Piala itu kan kehebatan anak dan guru pada momen tertentu. Tidak harus dibanggakan tapi disyukuri,” ungkapnya.
Suster Marselina pun merubah ruangan kepada sekolah menjadi ruangan yang sederhana tidak menjadi ruangan yang elit karena menurutnya ruangan kepala sekolah adalah ruangan untuk guru,anak murid dan orang tua.
Ia menegaskan, dunia pendidikan itu tidak usah dibuat terlalu berbelit-belit, simpel dan sederhana.
Suster Marselina mengaku kagum dengan metode pendidikan pada Sekolah Montessori di Filipina yang menerapkan metode pendidikan yang berpusat pada anak.
Sekolah ini dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori dimana metode pembelajarannya menekankan pembelajaran mandiri, kebebasan dalam batasan dan pengembangan potensi.
“Saya tergila-gila pada metode pembelajarannya sehingga mencoba untuk menerapkannya di sekolah kami,” ungkapnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










