Jumat 10 Oktober 2025, ia kembali ke rumah kenangan yang kini tinggal terlihat dua tiang bekas kebakaran.
Ia memegang satu tiang, melihat sekeliling dan meneteskan air mata. Hasrat kembali ke rumah belum terwujud. Hanya kalimat pendek keluar dari mulutnya
“Saya pingin tinggal di sini walau hanya satu kamar berdinding bambu,” katanya sambil mengusap air mata.
Rupanya tekanan kehidupan sudah ia rasakan. Uang bayar kos jadi beban hidupnya karena hanya mengharapkan penghasilan jualan kue itu pun ia titipkan di warung.
Kini Asra menggugah hati dan memohon uluran tangan dari sesama untuk menghadirkan sebuah pondok diatas puing bangunan lama untuk berteduh dari terik mentari, hujan dan dinginnya malam.
Getir hidupnya, ia ceritakan ke beberapa jurnalis di Ende dan sesama yang peduli. Ia hanya meminta bantuan bangunan sederhana di atas tanah itu.
Para jurnalis dan tetangga yang peduli kemudian berniat menggalang bantuan mengurai getir hidup Asra Dewi dan anak dalam komunitas peduli” Koin Untuk Ende, Panggilan Kemanusiaan untuk Janda Azra Dewi”.
Mari kita membantu Asra Dewi dalam bentuk material bangunan dan uang. Hari ini dia, mungkin besok kita.*
Penulis : Willy Aran
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










