Pesan Penting Uskup Ruteng Mgr. Sipri Hormat Soal Festival Golo Curu Maria Ratu Rosario

- Jurnalis

Rabu, 8 Oktober 2025 - 09:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RUTENG, FLORESPOS.net-Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat memimpin perayaan ekartisti puncak Festival Golo Curu Maria Raru Rosario di Gereja Katedral Ruteng, Selasa (7/10/2025).

Dalam homilinya, Mgr. Siprianus Hormat menggarisbawahi beberapa nilai di balik Festival Golo Curu. Ia menyebut ajang berahmat ini sebagai jembatan persaudaraan lintas iman, dan festival ini adalah sekolah doa rosario yang mengajarkan kita merenungkan misteri kehidupan Kristus bersama Maria.

Berikut pesan penting yang dikutip lengkap dari homili Uskup Keuskupan Ruteng Mgr. Siprianus Hormat.

Homili Festival Maria Ratu Rosari Golo Curu (8 Oktober 2025 – Katedral Ruteng)

Ziarah dalam Pengharapan bersama Bunda Maria di Tahun Ekaristi Transformatif

Pembukaan: Dari Katedral Menuju Bukit Doa

Saudara-saudari yang dikasihi Allah,
Hari ini kita berkumpul di Katedral Ruteng—rumah Bapa kita, tempat di mana kita merayakan Ekaristi sebagai satu keluarga Allah.

Dari sini, sebentar lagi, kita akan berjalan bersama menuju Golo Curu, bukit doa yang telah menjadi saksi bisu jutaan doa yang pernah dipanjatkan, air mata yang pernah ditumpahkan, dan harapan yang pernah dibisikkan di sana selama berabad-abad.

Hari ini, kita tidak hadir sebagai wisatawan rohani yang mencari pemandangan indah. Kita adalah peziarah—orang-orang yang meninggalkan zona nyaman untuk mencari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Seperti Abraham yang meninggalkan Haran tanpa tahu tujuan pasti, seperti Maria yang meninggalkan Nazaret menuju Yudea untuk mengunjungi Elisabet, kita pun akan meninggalkan katedral ini untuk berjumpa dengan Allah di bukit doa.

Perhatikan perjalanan kita hari ini: kita mulai dari altar Ekaristi di katedral, kemudian berjalan menuju altar doa di
Golo Curu. Ini bukan kebetulan! Ini adalah simbol kehidupan Kristen yang sejati: dari meja Tuhan kita menerima kekuatan, lalu kita berjalan membawa Kristus ke dunia.

Tema kita hari ini bukan sekadar slogan: “Ziarah dalam Pengharapan bersama Bunda Maria di Tahun Ekaristi Transformatif.” Ini adalah undangan untuk masuk ke dalam misteri yang telah mengubah dunia—misteri seorang gadis muda dari Nazaret yang berani mengatakan “ya” kepada Allah, dan misteri Ekaristi yang setiap hari mengubah roti menjadi Tubuh Kristus, dan kita menjadi tubuh mistik-Nya.

Bacaan Pertama: Ruang Atas yang Mengubah Dunia (Kis 1:12-14)

Bayangkan sebuah ruang sederhana di Yerusalem, dua ribu tahun yang lalu. Tidak ada mikrophone, tidak ada sound system, tidak ada kursi yang nyaman. Hanya sebuah ruang atas yang mungkin berdebu, dengan beberapa orang yang berkumpul dalam ketakutan sekaligus pengharapan.

Para rasul baru saja menyaksikan hal yang mustahil: Yesus yang telah mereka lihat mati di salib, bangkit dan naik ke surga. Namun sekarang mereka sendirian. “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa, bersama-sama dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus…”

Perhatikan kata-kata ini dengan seksama: “bertekun dengan sehati.” Dalam bahasa Yunani, kata “sehati” adalah homothumadon—yang artinya: bukan hanya satu pikiran, tetapi satu napas, satu degup jantung, satu irama kehidupan.

Para rasul tidak hanya duduk berdampingan; jiwa mereka menyatu dalam satu kerinduan yang sama.
Dan di tengah-tengah mereka, hadir sosok yang luar biasa: Maria. Bukan sebagai ratu yang duduk di singgasana, tetapi sebagai seorang ibu yang berdoa bersama anak-anaknya. Ia yang pernah mengatakan “ya” di Nazaret, kini mengajarkan Gereja perdana bagaimana mengatakan “ya” dalam doa.

Tahukah Anda mengapa Roh Kudus turun pada hari Pentakosta? Bukan karena mereka pandai berdoa, bukan karena mereka banyak, tetapi karena mereka sehati. Kesatuan hati inilah yang membuka pintu surga.

Pesan untuk kita: Katedral ini hari ini adalah “ruang atas” kita. Di sinilah kita berkumpul sebagai satu keluarga, sehati sejiwa dalam Ekaristi. Dan dari kesatuan di katedral ini, kita akan berjalan bersama ke Golo Curu—membawa doa yang sehati itu ke bukit yang telah dikuduskan oleh doa-doa generasi sebelum kita.

Ketika nanti kita tiba di Golo Curu, pertanyaannya bukan hanya: “Sudahkah kita berdoa?” tetapi “Sudahkah kita berdoa dengan sehati seperti para rasul bersama Maria?”

Intermezzo: Hati yang Hadir, Bukan Sekadar Tubuh Saudara-saudari, bicara soal doa yang sungguh-sungguh, saya teringat cerita jenaka tentang seorang Romo yang datang ke rumah umat. Ia sudah ketuk pintu lama sekali, tapi tidak dibukakan. Akhirnya ia tinggalkan catatan kecil di pintu: ‘Wahyu 3:20 — Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok…’

Minggu berikutnya, catatan itu kembali masuk ke kotak kolekte, tapi ditambahi tulisan tangan umat tadi: ‘Kejadian 3:10 — Aku mendengar suara-Mu, tapi aku telanjang, maka aku bersembunyi…’
Lucu ya? Tapi jangan-jangan itu juga teguran bagi kita. Kadang kita hadir dalam misa, hadir di festival, bahkan nanti kita akan hadir di Golo Curu, tapi hati kita seperti jemaat tadi—mengumpet dari Tuhan. Kita berdoa, tetapi tidak sungguh sehati. Kita ada di ruang doa, tapi hati kita masih sibuk dengan urusan lain.

Maka, ketika nanti kita berjalan ke Golo Curu, mari kita pastikan: bukan hanya kaki kita yang berjalan, tetapi juga hati kita yang bergerak menuju Allah.

Baca Juga :  Kisah Perjuangan Situasi Terbatas Siswa SLB Karya Murni Ruteng Bikin Warga Reo Berlinangan Air Mata

Bacaan Injil: Nazaret yang Mengubah Sejarah (Luk 1:26-38)

Sekarang, mari kita beralih ke sebuah kampung kecil yang bahkan tidak pernah disebut dalam Perjanjian Lama: Nazaret. Jika pada zaman itu ada GPS, mungkin aplikasi itu akan bilang: “Destinasi atau tujuan anda tidak ditemukan.” Nazaret begitu tidak terkenal hingga Natanael pernah bertanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

Namun Allah memilih tempat yang sederhana ini untuk memulai rencana penyelamatan-Nya. Di sebuah rumah sederhana, kepada seorang gadis muda yang mungkin sedang menenun atau memasak, malaikat Gabriel datang dengan kabar yang akan mengubah alam semesta.

“Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau!”
Bayangkan Maria pada saat itu. Ia bukan tokoh terkenal, bukan anak raja, bukan sarjana Taurat. Ia hanyalah seorang gadis biasa dari keluarga biasa di kampung yang biasa-biasa saja. Namun di mata Allah, ia luar biasa karena hatinya yang murni dan imannya yang sederhana.

“Ia terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.”

Maria terkejut—dan itu wajar! Siapa yang tidak akan terkejut jika malaikat tiba-tiba muncul? Tetapi perhatikan: ia tidak lari, tidak berteriak histeris, tidak menyangkal. Ia bertanya dalam hatinya. Ini adalah tanda kedewasaan iman: ketika menghadapi hal yang tidak dipahami, ia tidak langsung menolak, tetapi merenungkan.

“Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.”
Allah tahu bahwa manusia cenderung takut pada hal-hal besar. Itulah mengapa hampir setiap kali malaikat muncul dalam Alkitab, kata pertama mereka adalah: “Jangan takut!”

Takut adalah reaksi manusiawi, tetapi iman mengajari kita untuk melampaui rasa takut.
“Bagaimanakah hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”
Maria bertanya—dan ini bukan pertanyaan karena tidak percaya, tetapi pertanyaan seorang yang mau memahami. Ia tidak berkata: “Tidak mungkin!” seperti Zakharia, tetapi “Bagaimanakah hal itu mungkin?” Perbedaannya adalah antara keraguan dan rasa ingin tahu yang lahir dari iman.
“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

Inilah kunci seluruh Injil: tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kata “mustahil” dalam bahasa Yunani adalah adunatos artinya: yang tidak memiliki kekuatan. Tetapi Allah di sisi lain adalah sumber segala kekuatan. Yang mustahil bagi kita, mungkin bagi Allah. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu.”

Dan sampailah kita pada puncak iman: “Ya” Maria. Bukan “ya” yang pasrah tanpa harapan, tetapi “ya” yang penuh kepercayaan. Ia tidak berkata: “Baiklah, aku pasrah,” tetapi “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan”—pengakuan identitas yang mulia. Menjadi hamba Allah bukanlah penghinaan, tetapi kehormatan tertinggi.

Refleksi: Tiga Pelajaran dari Maria untuk Perjalanan Kita

1. Maria Bunda Doa: Kesatuan yang Melahirkan Mukjizat

Dalam Kisah Para Rasul, kita melihat Maria sebagai ibu rohani yang mengajarkan Gereja cara berdoa. Ia tidak memimpin doa dengan suara keras, tetapi dengan kehadiran yang menyatukan. Kehadirannya mengubah sekelompok orang yang ketakutan menjadi komunitas yang sehati.

Santo Yohanes Krisostomus mengamati: “Lihatlah bagaimana para rasul berkumpul bersama Maria! Mereka tidak malu untuk belajar dari seorang perempuan tentang cara berdoa, karena mereka tahu bahwa ia adalah guru doa yang terbaik.”

Pesan pastoral: Festival Maria ini bukan sekadar acara seremonial. Ini adalah panggilan untuk memperbaharui cara kita berdoa bersama.

Di katedral ini, kita merayakan Ekaristi sebagai satu keluarga. Sebentar lagi, kita akan berjalan bersama ke Golo Curu—bukan sebagai kelompok-kelompok yang terpisah, tetapi sebagai satu umat yang sehati. Ketika kita tiba di bukit doa itu, biarlah doa kita bersatu seperti para rasul di ruang atas: satu napas, satu hati, satu kerinduan.

Maria mengajarkan kita bahwa doa sejati lahir dari kesatuan hati, bukan dari keseragaman gerakan.

2. Maria Bunda Iman: Keberanian Mengatakan “Ya”

Di Nazaret, Maria menunjukkan bahwa iman bukan soal mengerti segala sesuatu, tetapi soal berani mempercayai Allah meskipun tidak mengerti segalanya. Ia tidak menunggu sampai semua pertanyaannya terjawab. Ia mengatakan “ya” dalam iman.

Pesan pastoral: Kita hidup di zaman yang penuh ketidakpastian. Pandemi covid, misalnya, telah mengajarkan kita bahwa hidup tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi. Tetapi seperti Maria, kita dipanggil untuk mengatakan “ya” kepada Allah dalam setiap keadaan:
“Ya” pada panggilan melayani meskipun risiko besar. “Ya” pada kejujuran meskipun merugikan secara material
“Ya” pada iman yang autentik meskipun budaya sekular menggoda. “Ya” pada pengampunan meskipun sakit hati belum hilang.

Dan hari ini, kita mengatakan “ya” dengan cara yang konkret: kita berjalan dari katedral ke Golo Curu. Berjalan di bawah terik matahari atau gerimis hujan. Berjalan meski kaki lelah. Ini adalah “ya” yang bukan sekadar kata-kata, tetapi tindakan nyata.

3. Maria Bunda Pengharapan: Transformasi yang Berkelanjutan

Maria tidak hanya mengatakan “ya” sekali, lalu selesai. Sepanjang hidupnya, ia terus mengatakan “ya”: ketika melahirkan Yesus, ketika mengungsi ke Mesir, ketika kehilangan Yesus di Bait Allah, ketika melihat Yesus disalib, ketika hadir di ruang atas menantikan Roh Kudus.

Baca Juga :  Rektor IFTK Ledalero Raih Penghargaan The Best Paper HAM Internasional yang Diikuti Ratusan Penulis dari Belasan Negara

Pesan pastoral: Tahun Ekaristi Transformatif bukan program sekali jalan, tetapi undangan untuk transformasi berkelanjutan.

Setiap kali kita menerima Komuni, kita dipanggil untuk berubah:
Dari sikap masa bodoh menuju kepedulian aktif
Dari iman yang pasif menuju pelayanan yang konkret
Dari harapan yang samar menuju komitmen yang jelas
Dari cinta yang selektif menuju cinta yang universal

Perjalanan kita hari ini dari katedral ke Golo Curu adalah simbol transformasi itu: kita menerima Kristus dalam Ekaristi di sini, lalu kita membawa-Nya dalam doa di bukit sana. Dari altar ke jalan, dari misa ke misi, dari menerima ke memberi.

Penutup: Dari Altar Menuju Jalan, dari Katedral Menuju Bukit

Saudara-saudari yang terkasih,

Dalam beberapa saat, kita akan meninggalkan katedral ini dan berjalan menuju Golo Curu. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah ziarah iman—perjalanan hati untuk semakin dekat dengan Allah bersama Maria.

Festival Maria Ratu Rosari ini adalah tanda bahwa Allah masih peduli pada tempat-tempat sederhana dan orang-orang biasa. Seperti Ia memilih Nazaret yang tidak terkenal dan Maria yang sederhana, Ia pun memilih Ruteng dan kita semua untuk menjadi bagian dari rencana penyelamatan-Nya.

Tetapi festival ini lebih dari sekadar perayaan religius. Ini adalah perayaan kehidupan yang utuh: Festival ini adalah syukur atas budaya Manggarai yang telah membesarkan kita.

Tarian caci yang gagah, lagu danding yang merdu, tenun ikat yang indah, compang yang megah—semua ini adalah anugerah Allah yang diberikan melalui leluhur kita. Maria memuji Allah dengan Magnificat-nya; kita memuji Allah dengan magnificat versi Manggarai kita.

Festival ini adalah dukungan konkret bagi ekonomi kerakyatan. Para ibu yang menjual jagung bakar, bapak yang menjual kopi manggarai, kakak-adik yang menenun songke, anak muda yang berwirausaha—mereka semua adalah wajah Kristus yang bekerja dengan tangan-Nya sendiri.

Ketika kita berbelanja dari mereka, kita sedang menghidupi perintah: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Festival ini adalah jembatan persaudaraan lintas iman. Saudara-saudari kita yang Muslim, Protestan, Hindu, dan kepercayaan lain tidak melihat kita sebagai ancaman, tetapi sebagai sahabat.

Mereka membantu kita, melayani kita, berdoa bersama kita dengan cara mereka. Ini adalah Gereja sinodal dalam aksi nyata—berjalan bersama, bukan sendirian; membangun, bukan memisahkan; merangkul, bukan menolak.

Festival ini adalah sekolah doa rosario yang mengajarkan kita merenungkan misteri kehidupan Kristus bersama Maria. Setiap misteri gembira, terang, sedih, dan mulia adalah cermin kehidupan kita sendiri. Rosario bukan sekadar pengulangan doa, tetapi perjalanan rohani yang mendalam.

Dari katedral ini, kita membawa lebih dari sekadar berkah dan doa. Kita membawa Kristus yang baru saja kita sambut dalam Ekaristi. Kita membawa api pengharapan yang menyala—api yang sama yang menyala di hati Maria ketika ia mengatakan “ya” kepada Allah, api yang sama yang turun di ruang atas pada hari Pentakosta.

Santo Ignatius dari Antiokhia pernah berkata: “Jadilah api yang membakar, bukan abu yang dingin. Bawalah Kristus ke mana pun kaki kalian melangkah.”

Maka, ketika kita berjalan dari katedral ke Golo Curu, kita adalah:
Pembawa api Kristus dari altar menuju jalan

Saksi Ekaristi yang tidak berhenti di dalam gereja
Peziarah pengharapan yang membawa doa sehati seperti para rasul bersama Maria
Api ini akan terus menyala jika kita seperti Maria: Berdoa dengan sehati di tengah perbedaan dan konflik

Berani berkata “ya” meskipun tidak mengerti sepenuhnya
Percaya bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil, termasuk membaharui Gereja di Keuskupan Ruteng
Membiarkan Ekaristi mentransformasi hidup kita dari hari ke hari
Bersama Maria, marilah kita menjawab panggilan Allah dengan iman yang sama:
“Sesungguhnya kami ini hamba-hamba Tuhan. Jadilah pada kami menurut perkataan-Mu.”

Dan biarlah jawaban itu bukan hanya terucap di bibir, tetapi terpancar dari seluruh hidup kita—dari katedral ini hingga ke Golo Curu, dari Golo Curu hingga kembali ke rumah kita, dari rumah kita hingga ke seluruh dunia yang membutuhkan Kristus. Amen.

Doa “Bunda Maria, Ratu Rosari, kami yang akan berjalan menuju bukit doa, mohon bimbinglah kami. Ajari kami berdoa seperti bunda mengajarkan para rasul. Ajari kami beriman seperti bunda beriman kepada Allah. Ajari kami berharap seperti bunda berharap pada janji-janji Allah.

Dari katedral ini, kami membawa Kristus yang baru kami sambut. Kiranya setiap langkah kami menjadi doa, setiap napas kami menjadi pujian, dan setiap detak jantung kami menjadi ungkapan cinta kepada Allah.

Temani kami dalam perjalanan ini, ya Bunda, seperti bunda menemani para rasul di ruang atas. Semoga tiba di Golo Curu, kami semakin sehati dalam doa dan pengharapan. Amen.”

Mgr. Siprianus Hormat
Uskup Ruteng

Berita Terkait

Trash Hero Larantuka Gelar Aksi Bersih Pantai ke-151: Edukasi Masyarakat dan Orang Muda Kurangi Sampah Plastik
Bupati Sikka Terima 56 Peserta Tur Wisata Literasi dari Dari Mi Al Muhajirin Perumnas Maumere
HPN 2026, PWMB Serahkan Sembako kepada Warga Menjaga
Kuasa Hukum Eltras Akan Somasi 12 Pekerja Agar Segera Lunasi Cash Bon
Manfaatkan Lahan Tidur Dua Hektar, Etwar Atuna Tanam Semangka dan Sayuran Gunakan Irigasi Tetes
Kuasa Hukum Eltras Persoalkan Penyidik Polres Sikka Keluarkan Tersangka TPPO dan Mengawal Saat Berhubungan Badan di Hotel
Romo Ephy Tegaskan Dugaan Adanya Rekayasa Laporan Kasus TPPO yang Menjerat Pemilik Eltras
Jelang HPN 2026, PAWE Ziarah ke Makam Senior dan Silaturahmi dengan Keluarga
Berita ini 275 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 16:54 WITA

Trash Hero Larantuka Gelar Aksi Bersih Pantai ke-151: Edukasi Masyarakat dan Orang Muda Kurangi Sampah Plastik

Senin, 9 Februari 2026 - 12:18 WITA

Bupati Sikka Terima 56 Peserta Tur Wisata Literasi dari Dari Mi Al Muhajirin Perumnas Maumere

Senin, 9 Februari 2026 - 11:08 WITA

HPN 2026, PWMB Serahkan Sembako kepada Warga Menjaga

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:11 WITA

Manfaatkan Lahan Tidur Dua Hektar, Etwar Atuna Tanam Semangka dan Sayuran Gunakan Irigasi Tetes

Sabtu, 7 Februari 2026 - 21:44 WITA

Kuasa Hukum Eltras Persoalkan Penyidik Polres Sikka Keluarkan Tersangka TPPO dan Mengawal Saat Berhubungan Badan di Hotel

Berita Terbaru

Wartawan Manggarai Barat bagikan Semabko.

Nusa Bunga

HPN 2026, PWMB Serahkan Sembako kepada Warga Menjaga

Senin, 9 Feb 2026 - 11:08 WITA

Opini

Pers, Pelita Abadi dan Wahyu Keindahan

Senin, 9 Feb 2026 - 08:23 WITA