Kesederhanaan dalam sepak bola (umpan pendek, kerja sama, saling percaya) merupakan sebuah ‘puisi lapangan hijau’ yang padanya kitab isa bercermin tentang masyarakat yang kohesif. Jika yang terjadi demikian adanya maka liga ini bukan hanya ajang mencari juara, tetapi ruang belajar untuk hidup bersama dalam harmoni.
Peradaban sepak bola tumbuh dari akar. Ia bermula dari lapangan-lapangan sederhana, dari pelatih yang sabar, dari penonton yang menghargai permainan. Ia tidak hanya melulu bersandar pada stadion megah atau trofi berkilau.
Sekiranya, Liga I ASKAB PSSI Flores Timur menjadi fondasi bagi impian akan peradaban itu. Di atasnya, generasi baru akan membangun mimpi, disiplin, dan solidaritas. Sekiranya pula, ajang sepakbola bergengsi di Flores Timur ini dapat menjadi sebuah deklarasi irama pembangunan peradaban masa depan.
Dalam konteks ini, kata-kata penyair Amerika, Maya Angelou, bisa menjadi ‘penyemangat nyala sepakbola’ di hati dan pikiran laskar sepakbola Lewotanah Flores Timur. “Everything in the universe has rhythm, everything dances.” “Segala sesuatu di alam semesta memiliki irama, segala sesuatu menari.”
Bahwasanya sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan tarian semesta yang menyatukan ritme tubuh, jiwa, dan harapan. Karena itu, benar adanya: puisi kehidupan di lapangan hijau telah dibuka dan tengah bergulir di Flores Timur.
Semoga ia menjadi laboratorium nilai dan jalan menuju peradaban. Tugas berat menanti para pesepakbola dan para suporternya: menjaga nyala semangat itu tetap hidup di lapangan, di tribun, dan dalam hati setiap anak yang bermimpi menggiring bola menuju masa depan dengan irama yang tak pernah padam.*
Penulis adalah Staf Pengajar Stipar Ende
Halaman : 1 2










