Di era teknologi canggih seperti saat ini, seorang jurnalis juga tidak sekadar sosok yang mampu menguasai teknologi informasi, transaksi elektronik sehingga memudahkan akses berita ke publik.
Sebaliknya, sosok pekerja pers, ada pengakuan universal yang menggarisbawahi pers sebagai pilar keempat demokrasi, maka hendaknya profesi mulai ini harus memiliki kualitas yang tidak saja mahir menyusun kata atau kalimat menjadi sebuah berita yang siap dipublikasikan, tetapi juga seorang jurnalis harus menjadi model yang menerapkan nilai-nilai positif dari apa yang diberitakannya.
Ia menjadi model untuk memerangi narkoba/tidak mengonsumsi narkoba, tidak menenggak miras, tekun berdoa, peduli sesama, selalu membina kerukunan dan kedamaian, menjunjung toleransi,bekerja keras, disiplin, gemar menabung, beretika, dan nilai-nilai positif lainnya.
Dalam pengertian yang tegas, seorang jurnalis mesti mampu menerjemahkan hal-hal yang positif ke dalam perilaku kesehariannya dan menjadi contoh yang bisa menjadi teladan bagi banyak orang.
Kalau seorang jurnalis menulis tentang risiko narkoba, risiko perjudian, risiko kegemerlapan kehidupan malam, tentang perselingkuhan, setidaknya jurnalis sendiri tidak terlibat dalam hal-hal yang ditulisnya itu yang bersifat minor bagi kalangan umum.
Artinya, seorang jurnalis juga harus memiliki kualitas plus seperti beriman/berdoa, pekerja keras, memiliki moral yang baik, memiliki attitude yang baik, dan aneka kualitas hidup lainnya.
Dalam pengertian tertentu, seorang jurnalis dalam seluruh karya jurnalistiknya harus memberikan dampak positif bagi kehidupan orang banyak, khususnya kaum marjinal.
Seorang jurnalis juga harus memiliki jiwa kepekaan soal, sepenanggungan dengan sesama korban ketidakadilan apa pun bentuk, korban kekerasan, keangkuan kekuasaan dan korban ketidakadilan pembangunan di segala lini kehidupan manusia.
Demikianlah secara sekilas esensi pers sebagai pilar keempat demokrasi, dan kiprah jurnalis (karya jurnalistik) terlibat dan selaras zaman yang mesti dinyalakan dan dipraktikan seorang jurnalis dalam karya-karyanya.
Bila nilai-nilai ini diaktualisasikan maka dengan sendirinya kita mengafirmasi bahwa pers sebagai pilar keempat, dan esensi jurnalisme terlibat untuk menyuarakan aspirasi kaum tak bersuara (voice of the voiceless) memang bukan sekadar lip service (ucapan pemulut manis), tetapi suatu keniscayaan yang terus dinyalakan dan diaktualisasikan oleh insan jurnalis melalui karya-karya jurnalistik mereka yang selaras zaman, baik atau tidak baik waktunya (opportune importune).
Tidak bisa-belajarlah. Tidak dapat-bersungguhlah. Mustahil- Cobalah. Ad Majorem Dei Gloriam (Untuk keagungan Allah yang lebih besar). *
Penulis adalah, Jurnalis Florespos.net; Penulis Buku, dan Pernah Dipercaya Menjadi Fasilitator Kegiatan Literasi dan Bengkel Bahasa Kantor Bahasa NTT










