Memaknai Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi, Jurnalisme Terlibat dan Voice of the Voiceless - FloresPos Net - Page 7

Memaknai Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi, Jurnalisme Terlibat dan Voice of the Voiceless

- Jurnalis

Jumat, 22 Agustus 2025 - 08:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Walburgus Abulat, S.Fil

Walburgus Abulat, S.Fil

Di era teknologi canggih seperti saat ini, seorang jurnalis juga tidak sekadar sosok yang mampu menguasai teknologi informasi, transaksi elektronik sehingga memudahkan akses berita ke publik.

Sebaliknya, sosok pekerja pers, ada pengakuan universal yang menggarisbawahi pers sebagai pilar keempat demokrasi, maka hendaknya profesi mulai ini harus memiliki kualitas yang tidak saja mahir menyusun kata atau kalimat menjadi sebuah berita yang siap dipublikasikan, tetapi juga seorang jurnalis harus menjadi model yang menerapkan nilai-nilai positif dari apa yang diberitakannya.

Ia menjadi model untuk memerangi narkoba/tidak mengonsumsi narkoba, tidak menenggak miras, tekun berdoa, peduli sesama, selalu membina kerukunan dan kedamaian, menjunjung toleransi,bekerja keras, disiplin, gemar menabung, beretika, dan nilai-nilai positif lainnya.

Dalam pengertian yang tegas, seorang jurnalis mesti mampu menerjemahkan hal-hal yang positif ke dalam perilaku kesehariannya dan menjadi contoh yang bisa menjadi teladan bagi banyak orang.

Baca Juga :  Antara Lari 5 Menit, Slot Judol dan Etika Pejabat

Kalau seorang jurnalis menulis tentang risiko narkoba, risiko perjudian, risiko kegemerlapan kehidupan malam, tentang perselingkuhan, setidaknya jurnalis sendiri tidak terlibat dalam hal-hal yang ditulisnya itu yang bersifat minor bagi kalangan umum.

Artinya, seorang jurnalis juga harus memiliki kualitas plus seperti beriman/berdoa, pekerja keras, memiliki moral yang baik, memiliki attitude yang baik, dan aneka kualitas hidup lainnya.

Dalam pengertian tertentu, seorang jurnalis dalam seluruh karya jurnalistiknya harus memberikan dampak positif bagi kehidupan orang banyak, khususnya kaum marjinal.

Seorang jurnalis juga harus memiliki jiwa kepekaan soal, sepenanggungan dengan sesama korban ketidakadilan apa pun bentuk, korban kekerasan, keangkuan kekuasaan dan korban ketidakadilan pembangunan di segala lini kehidupan manusia.

Demikianlah secara sekilas esensi pers sebagai pilar keempat demokrasi, dan kiprah jurnalis (karya jurnalistik) terlibat dan selaras zaman yang mesti dinyalakan dan dipraktikan seorang jurnalis dalam karya-karyanya.

Baca Juga :  Catatan Reflektif 78 Tahun Indonesia Merdeka

Bila nilai-nilai ini diaktualisasikan maka dengan sendirinya kita mengafirmasi bahwa pers sebagai pilar keempat, dan esensi jurnalisme terlibat untuk menyuarakan aspirasi kaum tak bersuara (voice of the voiceless) memang bukan sekadar lip service (ucapan pemulut manis), tetapi suatu keniscayaan yang terus dinyalakan dan diaktualisasikan oleh insan jurnalis melalui karya-karya jurnalistik mereka yang selaras zaman, baik atau tidak baik waktunya (opportune importune).

Tidak bisa-belajarlah. Tidak dapat-bersungguhlah. Mustahil- Cobalah. Ad Majorem Dei Gloriam (Untuk keagungan Allah yang lebih besar). *

Penulis adalah, Jurnalis Florespos.net; Penulis Buku, dan Pernah Dipercaya Menjadi Fasilitator Kegiatan Literasi dan Bengkel Bahasa Kantor Bahasa NTT

Berita Terkait

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Berita ini 612 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:56 WITA

Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan

Berita Terbaru

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA

Pembicara dan Petinggi Stipas Kupang pose bersama usai kuliah umum.

Nusa Bunga

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:46 WITA