Tak hanya menjalankan fungsi-fungsi kemanusiaan di atas, pers dalam perannya sebagai sebagai lembaga pengontrol, lembaga menyebarkan informasi, dan lembaga yang mendidik masyarakat mestinya mampu memberi contoh untuk merasakan dan mengalami situasi orang atau kelompok yang diangkat dalam pemberitaannya dengan memberikan aksi kemanusiaan yang konkret yang bisa membebaskan yang bersangkutan dari permasalahan yang sedang dialaminya.
Ya, katakan, kalau ada oknum warga yang menderita kelaparan atau mengalami sakit dan membutuhkan pertolongan, maka insan pers setidaknya menjadi orang pertama yang melakukan aksi kemanusiaan dengan melakukan aksi konkret seperti memfasilitasi para pihak untuk memberikan bantuan material, finansial, moril dan bantuan kemanusiaan lainnya.
Hemat, saya nilai-nilai kemanusiaan dan pembebasan seperti ini juga menjadi panggilan yang termuat dalam setiap agama samawi apa pun dari diwariskan oleh Tuhan atau adikodrati dalam setiap kitab sucinya masing-masing.
Dalam konteks ini, seorang jurnalis, apa pun agamanya dalam dirinya sendiri (in se) dan melalui dirinya (per se) dan karya-karya jurnalistiknya harus menjadi sosok yang terlibat dalam segala misi kemanusiaan yang membebaskan sesama yang menjadi fokus pemberitaan dan tulisannya.
Seorang jurnalis dan karya jurnalistiknya harus mampu membebaskan sesama, khususnya kaum terpinggirkan dan kaum tak bersuara yang luput dari perhatian para penentu kebijakan.
Seorang jurnalis dan karya jurnalistiknya harus menjadi media dan medium yang bisa menjembatani kaum tak bersuara untuk menyuarakan jeritannya ke pentas publik, dan terlibat aktif dalam pelbagai upaya pembebasan yang diperjuangkan melalui tulisan atau pun lewat aksi kemanusiaan baik yang dilakuan oleh jurnalis maupun melalui tanggapan otoritas berwenang.
Di sinilah peran jurnalis dan karya jurnalistiknya, tidak sekadar sebagai media yang memberikan informasi, dan advokasi, tetapi lebih dari itu sebagai media dan medium yang terlibat dalam pelbagai aksi kemanusiaan yang membebaskan sesamanya, terutama yang mengalami situasi terbatas. Inilah panggilan seorang jurnalis dan karya jurnalistiknya yang penulis sebut sebagai Jurnalisme terlibat.
Butuh Aksi Konkret
Dalam ziarah perjalanan bangsa ini, ada banyak jurnalis dan karya jurnalistiknya terlibat aktif dalam karya kemanusiaan yang menyuarakan suara kaum tak bersuara (voive of the voiceless), atau yang peduli terhadap kaum yang terpinggirkan dengan melakukan sejumlah aksi konkret mengangkat harkat dan martabat kaum sederhana.
Ada banyak jurnalis dan karya junalistiknya peduli terhadap korban bencana alam, gempa bumi, kaum terlantar, kaum difabel, dan kaum papa lainnya.
Kepedulian seperti ini juga ditunjuk oleh jurnalis yang bertugas di Kabupaten Sikka yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) dalam beberapa tahun terakhir.
Di antaranya AWAS pernah memberikan bantuan kemanusiaan untuk anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus di Panti ALMA Maumere, anak-anak berkebutuhan khusus dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Panti Santa Dymphna Maumere, memberikan bantuan untuk mendukung atasi stunting, dan aneka kegiatan kemanusiaan lainnya baik secara lembaga AWAS, maupun otoritas pada media masing-masing.
Seorang jurnalis juga tidak sekadar sosok pekerja yang hanya mengetahui teori seputar dunia jurnalisme dan tulis menulis dengan menghafal UU Pers atau teori-teori pers yang dihasilkan para pakar atau otoritas media.










