Memaknai Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi, Jurnalisme Terlibat dan Voice of the Voiceless - FloresPos Net - Page 3

Memaknai Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi, Jurnalisme Terlibat dan Voice of the Voiceless

- Jurnalis

Jumat, 22 Agustus 2025 - 08:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Walburgus Abulat, S.Fil

Walburgus Abulat, S.Fil

Pada pihak lain, lanjut Mgr. Paul Budi Kleden, media massa pun mendekatkan pembaca dan pemirsa pada realitas. Orang tidak lagi bersikap indiferen tetapi mengambil posisi tertentu terhadap realitas yang diperantarai oleh media yang dibaca, didengar atau yang dilihatnya.

Di sini kita dapat berbicara mengenai dimensi formatif dari media massa. Bahan yang diterima menjadi elemen pembentukan wawasan dan kepribadian dari pemirsa atau pembaca. Komitmen pembaca atau pemirsa digugah. Pada dimensi ini kita serentak melihat keberpihakan dan kepentingan dalam penyelenggaraan sebuah media massa.

“Tanggung jawab ditunjukkan media massa dalam memilih cara untuk mencapai kedua tugas ini, terutama tugas kedua di atas.

Sebuah media massa disebut bertanggung jawab apabila dia memperlakukan para pemirsa dan pembaca sebagai manusia yang sanggup berpikir mandiri dan mengambil keputusan bebas. Maka dorongan untuk mengambil sikap didasarkan pada informasi yang memadai,” demikian Mgr. Paul Budi Kleden.

Baca Juga :  Euthanasia Dalam Pandangan Gereja Katolik Menurut Ensiklik Evangelium Vitae

Mgr. Paul Budi Kleden menggarisbawahi bahwa kedua dimensi di atas diperhatikan secara proporsional dalam relasi yang benar. Keputusan yang benar dan bertanggung jawab dibangun atas dasar informasi yang memadai dan dapat dipertanggung jawabkan.

Perhatian akan proporsionalitas dan relasi kedua dimensi ini akan menentukan sebuah media massa membaca realitas ke dalam kehidupan warga dan mendekatkan warga pada realitas.

Kedua, membangun kesadaran kritis dalam diri pembaca. Kendati tidak selalu mudah bagi pembaca atau pemirsa untuk cross check atas setiap detail pemberitaan. Sebagaimana sudah dikatakan di atas, namun diperlukan sebuah sikap kritis untuk menangkap kejanggalan-kejanggalan yang terdapat sebuah pemberitaan.

Sikap kritis ini memungkinkan seorang pembaca atau pemirsa untuk tidak menjadikan media massa sebagai satu-satunya sumber kebenaran dari realitas sosial. Pembaca atau pemirsa seperti ini mengambil distansi kritis terhadap berita sehingga dengan lebih mudah dia menerima koreksi atas informasi lebih dahulu diperolehnya.

Baca Juga :  Krisis Pangan di Lumbung Pangan

Dia tidak bisa melakukan penelitian secara cermat entahkah apa yang dibacanya sungguh benar, namun dia tidak berpegang pada apa yang dibacanya seolah itu adalah dogma yang tidak dapat digugat lagi. Tingkat kekritisan pembaca atau pemirsa mempunyai pengaruh pada peran formatif media massa.

Semakin kritis para pembaca atau pemirsa, maka semakin besar pula tuntutan yang mesti dipenuhi oleh media massa untuk meyakinkan pembaca atau pemirsa agar dapat menjatuhkan keputusan terhadap realitas sosial yang diberitakan.

Hal ini selanjutnya berpengaruh pada peningkatan mutu penyelenggaraan media massa. Porsi pembaca atau pemirsa yang kritis dalam sebuah masyarakat akan menentukan kualitas penyelenggaraan media massa di dalam masyarakat tersebut.

Secara teoretis memang seorang jurnalis atau pekerja media memang telah dituntun untuk selalu menyajikan informasi/berita yang berbasis pada realitas sosial, menyajikan berita secara faktual, berimbanbg, dan selalu berpihak pada kaum marjinal/option for the poor.

Berita Terkait

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern
Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan
Tanah yang Menolak Dibungkam
Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik
Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)
Menjaga Ruang Digital Tetap Bernas, Ketika Literasi Mengajak Kita Menebar Kebaikan Bukan Memadamkan Harapan
Antara Panggung Sandiwara, Fenomena Ijazah, dan Filosofi Non Scholae Sed Vitae Discimus
Menutup Celah Calo dan Membuka Akses Kerja: Urgensi Kolaborasi Lintas Kecamatan dalam Sosialisasi dan Mini Job Fair Dinas Nakertrans Sikka
Berita ini 613 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 13:33 WITA

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:11 WITA

Langit Flores Mengabur: Masa Depan Lingkungan Dipertaruhkan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:14 WITA

Tanah yang Menolak Dibungkam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:10 WITA

Ketika Sekolah Tidak Lagi Memanusiakan Peserta Didik

Rabu, 14 Oktober 2026 - 09:49 WITA

Menemukan Kembali Harapan Yang Hilang (Menelisik Praktik Judi Online dalam Perspektif Ajaran Sosial Gereja)

Berita Terbaru

Bentara Net

BENTARA NET: Mitos Energi Bersih dan Ancaman Ekologis

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:03 WITA

Opini

Quo Vadis Benih Pangan Lokal di Era Pertanian Modern

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:33 WITA

Pembicara dan Petinggi Stipas Kupang pose bersama usai kuliah umum.

Nusa Bunga

Membangun Pendidikan yang Humanis dan Ekologis di Era Digital

Jumat, 16 Okt 2026 - 07:46 WITA