LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Kebutuhan BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi bagi nelayan Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) tergantung pada kapasitas mesin kapal (armada tangkap) yang dimiliki nelayan.
Demikian Sarifudin Malik, Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Tangkap pada Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Mabar, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kepada Florespos.net, belum lama ini di Labuan Bajo.
Namun, demikian Malik, tentang hitungan dan harga BBM bersubsidi, itu ada pada PT. Migas/Pertamina yang punya BBM. Hitungan mereka berdasarkan kapasitas mesin armada tangkap (kapal) milik para nelayan Mabar.
DKPP Mabar selaku instansi teknis pemerintah di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, hanya mengeluarkan rekomendasi kebutuhan BBM bagi nelayan Mabar, dan itu berdasarkan kapasitas/ kekuatan mesin kapal/ armada tangkap dari nelayan setempat Mabar.
“Mesinnya berapa PK, maka Kebutuhan BBM-nya sekian,” ujar Malik yang eks Lurah Labuan Bajo Kecamatan Komodo-Mabar itu.
Diungkapkan, DKPP Mabar instansi teknis dibawah Kementerian Kelautan dan Perikanan hanya memprediksikan pencarian nelayan dalam sebulan 21 hari, walau BBM-nya tetap jata sebulan penuh. Dihitung 21 hari kerja/aktivitas karena sekitar 9 hari lainnya jedah, entah untuk doking, istirahat atau aktivitas lainnya.
Contoh, kata Malik, perahu berdaya mesin 28 PK tetapi memiliki 2 mesin. Maka yang 2 mesin, 28 PK kapasitasnya, kenanya 1.094 liter solar. Tetapi kalau 1 mesin, maka kenanya 547 liter solar/bulan, karena bagi dua, yaitu 1.094 bagi 2= 547 liter solar. Pengoperasian selama 21 hari.
“Semakin banyak gunakan mesin, makin banyak pula mendapatkan solarnya. Harga BBM subsidi sekarang tidak tahu, itu urusan Pertamina,” tutur Malik.
Dilansir media ini sebelumnya, semua alat tangkap di Mabar ramah lingkungan, kata Malik. *
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando










