Lanjutnya, faktor lainnya yakni banyak pembeli di pasar berasal dari Aparatur Sipil Negara (ASN) sebab mereka tidak memiliki kebun.
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi,tingkat inflasi dan kemajuan di berbagai macam sektor,mestinya pendapatan ASN harus lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya.
“Tapi hari ini kalau kita ukur dari pendapatan ASN kita dengan biaya yang dikeluarkan dalam sebulan, tidak cukup.Untuk itulah pemerintah mengambil kebijakan dengan memberikan tambahan penghasilan lewat Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP),” ungkapnya.
Namun di Sikka ungkap Stef, TPP ASN saja meski pemerintah komitmen pembayarannya setiap bulan tapi dalam kenyataan baru dibayar hanya sampai bulan Maret 2025 saja dan itu berpengaruh terhadap daya beli ASN.
Menjual ke Pemukiman
Ketua DPRD Sikka menambahkan, sepinya pasar juga dipengaruhi oleh banyaknya kendaraan yang menjual sembako,sayuran dan ikan hingga ke pemukiman warga bahkan pembeli hanya menunggu di depan rumah sudah bisa berbelanja.
“Meski belum dikaji secara ilmiah namun asumsi saya ini berpengaruh terhadap animo orang untuk berbelanja ke pasar,” tuturnya.
Stef menerangkan, setelah ia mengecek ternyata kendaraan-kendaran tersebut juga dimiliki oleh para pedagang di pasar-pasar tradisional dan ini bisa menjadi alasan kenapa masyarakat tidak berbelanja ke pasar.
Menurutnya, alasan pertama karena pasar sepi sehingga pedagang menjual hingga ke perumahan warga dan kedua akibat mereka menjual ke rumah-rumah sehingga pasar menjadi sepi.
“Kenapa pembeli ikan lari ke pasar Wuring?. Bisa saja karena persediaan ikan yang dijual oleh mobil-mobil yang datang ke perumahan terbatas ataukah ikan yang dijual pedagang di Pasar Wuring lebih murah dan lebih segar,” ucapnya.
Stef menjelaskan, waktu Robi Idong menjabat Bupati Sikka sudah direncanakan Pasar Alok menjadi pasar induk sehingga pedagang eceran berbelanja di Pasar Alok dan menjualnya di pasar-pasar kecil ataukah di perumahan warga.
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya










