Lusia menyebutkan, dirinya hanya berjualan di Pasar Alok selama 3 hari saja dari Minggu hingga Selasa lalu pindah berjualan ke Pasar Wairkoja di hari Jumat dan Sabtu atau ke Pasar Nangahale.
“Tahun sebelumnya dalam sehari bisa mendapat pemasukan Rp500 ribu namun sekarang sehari hanya Rp200 bahkan kalau lagi mujur bisa laku hingga Rp300 ribu sejak berjualan dari jam 7 pagi hingga jam 3 sore,” ungkapnya.
Yovita Sanggo, pedagang sayur mayur,bumbu dapur, tempe dan tahu pun mengaku pendapatannya menurun drastic sejak awal tahun 2025 dan diperparah dengan munculnya Pasar Wuring.
Yovita menyebutkan, para pedagang di sekitarnya banyak yang membiarkan losnya kosong dan memilih berjualan di tempat lain atau mencari pekerjaan lain karena selain sepi pembeli, pedagang pun kehabisan modal usaha.
“Tahun sebelumnya hingga tahun 2024 lalu, dalam sehari saya bisa mendapatkan pemasukan Rp2 juta dari modal pembelian dagangan sebesar Rp1 juta lebih.Saya bisa menyekolahkan 3 anak hingga tamat kuliah bahkan membeli satu buah mobil dan sepeda motor,” ucapnya.
Yovita meminta pemerintah Kabupaten Sikka menutup pasar-pasar liar termasuk menutup aktifitas Pasar Wuring yang menurutnya memberi andil atas sepinya Pasar Alok.
Dirinya memilih tetap berjualan di Pasar Alok namun mulai mengurangi barang dagangan agar tidak mengalami kerugian sebab meski hari Selasa merupakan hari pasar mingguan namun tetap sepi pembeli.
“Shari dapat uang Rp500 ribu saja susahnya minta ampun.Kalau Bupati Sikka tidak bertindak, lama-lama semua pedagang hengkang dari pasar ini karena tidak ada pembeli yang berkunjung ke pasar ini,” pungkasnya. *
Penulis : Ebed de Rosary
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2










