Kebohongan yang Membara: Ketika Energi “Bersih” Mencemari Lewat Kata-Kata - FloresPos Net

Kebohongan yang Membara: Ketika Energi “Bersih” Mencemari Lewat Kata-Kata

- Jurnalis

Sabtu, 5 Juli 2025 - 21:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pascual Semaun, SVD

Pascual Semaun, SVD

Oleh: Pascual Semaun, SVD

DALAM beberapa tahun terakhir, wacana mengenai “transisi energi”, “pembangunan berkelanjutan”, dan “energi bersih” semakin sering kita dengar.

Istilah-istilah tersebut disebarluaskan melalui media, kebijakan publik, bahkan masuk ke dalam ruang-ruang pertemuan desa.

Proyek-proyek seperti eksploitasi panas bumi (geothermal), yang diklaim sebagai solusi hijau untuk krisis iklim, tidak hanya membawa alat berat, tetapi juga membawa bahasa yang dipoles rapi untuk menyembunyikan tujuan kekuasaan.

Bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi. Ia digunakan sebagai alat kontrol sosial.

Seperti yang pernah dikatakan George Orwell, politik kerap memakai bahasa untuk “membuat kebohongan terdengar benar dan kekerasan terlihat terhormat.”

Maka, tidak heran jika banyak masyarakat diyakinkan bahwa apa yang merusak tanah, air, dan tubuh mereka adalah bagian dari kemajuan.

Komunikasi untuk Menguasai: Warisan Model Lama yang Masih Digunakan

Bagaimana cara kebohongan ini disampaikan? Salah satunya adalah melalui pendekatan komunikasi yang masih digunakan hingga kini, meskipun lahir pada abad ke-20, yakni model komunikasi behavioristik-fungsionalis.

Dalam model ini, negara, perusahaan, dan lembaga-lembaga besar bertindak sebagai pengirim pesan (emiten) yang menyampaikan informasi secara satu arah kepada masyarakat sebagai penerima (responden) yang dianggap pasif.

Baca Juga :  Kuasa Yang Membunuh Tanpa Menyentuh: Membaca Tragedi dr. Ica

Pesan-pesan seperti “energi bersih”, “solusi perubahan iklim”, atau “proyek ramah lingkungan” disampaikan dengan harapan menghasilkan respons yang sesuai: penerimaan dan persetujuan. Model ini berpijak pada prinsip stimulus–respon, seperti dalam psikologi perilaku.

Namun kenyataannya, masyarakat tidak selalu merespons seperti yang diharapkan. Sebaliknya, banyak komunitas lokal justru mulai menyadari adanya manipulasi melalui bahasa.

Bahasa sebagai Wilayah Perjuangan

Akhir-akhir ini, tokoh-tokoh adat, petani, dan warga kampung di banyak daerah di Flores dan beberapa daerah lain di Indonesia mulai menyadari bahwa perlawanan tidak hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga dalam medan bahasa. Mereka menolak istilah-istilah teknokratik yang tidak mencerminkan kenyataan di lapangan. Mereka mulai membangun narasi sendiri yang lebih jujur dan dekat dengan kehidupan mereka.

Ungkapan seperti “satu sakit, katong semua sakit” dan “nai ca anggit agu tuka ca leleng” bukanlah sekadar pepatah atau ungkapan adat. Ia merupakan pernyataan politik yang kuat, yang menyuarakan rasa senasib, solidaritas, dan perjuangan lintas budaya serta lintas batas geografis.

Seperti dikatakan filsuf politik Jacques Rancière, politik yang sejati dimulai ketika mereka yang selama ini dianggap “tidak layak bicara” mulai menuntut hak untuk menyuarakan pengalaman mereka dan mendefinisikan dunia dari sudut pandang mereka sendiri.

Baca Juga :  Dari Abu Dhabi Menuju Asisi dan Dari Roma Menuju Indonesia

Menolak Propaganda, Membangun Komunikasi yang Setara

Model komunikasi top-down yang digunakan untuk mempromosikan proyek geothermal sesungguhnya adalah bentuk propaganda. Ia mengabaikan konteks sosial,
budaya, dan sejarah lokal. Ia memperlakukan masyarakat sebagai objek yang harus diyakinkan, bukan sebagai subjek yang memiliki pengetahuan dan hak untuk menentukan arah pembangunan.

Oleh karena itu, kita perlu membongkar model komunikasi yang menyesatkan ini, dan menggantinya dengan komunikasi yang partisipatif, setara, dan berpihak pada kehidupan.

Komunikasi yang membuka ruang dialog, mengakui perbedaan pengalaman, dan mendorong lahirnya solidaritas lintas wilayah.

Penutup: Kata-Kata Bisa Membebaskan

Bahasa tidak pernah netral. Ia bisa digunakan untuk menipu, tapi juga bisa menjadi alat pembebasan. Dalam konteks konflik geothermal, memahami cara bahasa digunakan untuk menyembunyikan kekerasan struktural adalah langkah penting dalam membangun perlawanan.

Kini saatnya kita merebut kembali makna. Bukan hanya menolak narasi palsu, tetapi juga menciptakan narasi baru—yang lahir dari pengalaman nyata, keberanian kolektif, dan semangat menjaga kehidupan. Karena sesungguhnya, kata-kata bisa mencemari, tetapi juga bisa menyembuhkan. *

Penulis: Coordinador Pastoral Social de la Diócesis de Canindeyú, Paraguay, tinggal di Paraguay

Berita Terkait

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores
Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP
Bencana, Apakah Membawa Berkah?
Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Urgensitas Solidaritas Kemanusiaan Gempa Tektonik Flores dan Manajemen Kesiapsiagaan Bencana
‘Ketika Gempa Berlalu, Siapa yang Peduli pada Mama Imelda?’
Berita ini 672 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 09:18 WITA

Gempa dan Gempar: Dari Guncangan Alam Menuju Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat Flores

Senin, 7 September 2026 - 08:03 WITA

Catatan Kemanusiaan Pascagempa Flores 2026: Tenda Pengungsian Bukan Tempat Aman bagi Perempuan dan Anak

Kamis, 3 September 2026 - 17:41 WITA

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3TP

Rabu, 2 September 2026 - 19:43 WITA

Bencana, Apakah Membawa Berkah?

Selasa, 1 September 2026 - 18:16 WITA

Gempa Tektonik Flores, Jurnalisme Terlibat, dan Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi

Berita Terbaru

Advertorial

Tiga DTW Rusak Berat, BPOLBF, Pariwisata Flores Normal

Kamis, 10 Sep 2026 - 11:15 WITA

Plt. Direktur Utama (Dirut) Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy M. T. Marpaung,

Advertorial

BPOLBF Dorong Pemda Flores Kembangkan Destinasi Alternatif

Kamis, 10 Sep 2026 - 11:10 WITA