Romo Gabriel menjelaskan, tema ini berangkat dari fenomena migrasi (Perantau) di pelbagai belahan bumi, di satu sisi mengungkapkan eksistensi manusia sebagai makhluk peziarah (homo viator).
Di sisi lain, sebuah realitas kontenporer yang kompleks dari sudut pandang sosial, budaya, politik, HAM, agama, ekonomi, lingkungan hidup dan pastoral.
Migrasi juga telah membawa banyak manfaat dan dampak positif, tetapi juga tidak sedikit hal-hal negatif yang ditimbulkannya. Seperti human trafficking, pelecehan dan kekerasan, masalah kesehatan (stunting, HIV-Aids), minimnya akses pendidikan formal, penyakit sosial, kematian dan persoalan pastoral lainnya. Akar dari migrasi antara lain adalah kemiskinan, perubahan iklim dan migrasi ilegal (non prosedural).
Bagi Gereja, kata Romo Gabriel, migrasi adalah tanda-tanda zaman (bdk. GS art.4); yang tidak hanya dilihat dari aspek antropologis atau sosiologis, tetapi juga direfleksikan dari aspek biblis, teologis, dan eklesiologis.
Kita semua sebagai Umat Allah, adalah para migran di bumi ini, yang sedang dalam perjalanan menuju “tanah air sejati” (bdk. Kel.14:15-31; Ibr.11:13-16), katanya.
Romo Gabriel mengatakan, para migran adalah ikon kontemporer Gereja dalam perjalanan. Dalam diri mereka, kita berjumpa dengan Tuhan yang setia berjalan bersama umat-Nya (bdk. LG, 49; Pesan Paus pada Hari Migran Sedunia, 29 September 2024).
Perpas XII Regio Gerejawi Nusra bertepatan dengan Tahun Yubileum adalah sebuah momentum istimewa untuk menyadari kehadiran Gereja sebagai teman seperjalanan, pemandu, dan sauh keselamatan bagi para migran dan perantau.
Mereka bukan hanya sebagai obyek tindakan karitatif gereja semata, tetapi subyek evagelisasi dalam ziarah bersama. Dalam diri mereka khususnya dengan yang paling kecil, yang miskin, terpinggirkan dan terasing, kita menemukan rahasia misteri Inkarnasi Yesus. Dengan demikian Gereja lokal se-Regio Nusra dapat menampilkan kesaksiannya sebagai Gereja yang berwajah perantau.
Kata Romo Gabriel, Perpas XII Regio Gerejawi Nusra bertujuan untuk menghidupkan kembali spiritualitas berjalan bersama para migran dari gereja lokal Nusra; memperkaya wawasan tentang karateristik migrasi dan dampaknya dalam konteks gereja lokal se-Nusra; menemukan jalan-jalan baru sebagai bentuk respons pastoral bersama gereja lokal Nusra terhadap para migran; membangkitkan aksi solidaritas bersama gereja lokal Nusra yang berkelanjutan dalam kemitraan dengan para pihak.
Harapan dari hasil Perpas XII Regio Gerejawi Nusra, kata Romo Gabriel, yakni tumbuhnya spiritualitas berjalan bersama dengan para migran dalam diri peserta; terbangunnya wawasan peserta tentang karateristik migrasi dan dampaknya dalam konteks gereja lokal Nusra.
“Dan tersedianya jalan-jalan baru sebagai bentuk respons pastoral bersama gereja lokal Nusra terhadap para migran; dan tumbuhnya aksi solidaritas bersama gereja lokal Nusra yang berkelanjutan dalam kemitraan dengan para pihak,” katanya.
Sementara Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr Fransiskus Kopong Kung pada kesempatan itu mengajak semua keuskupan se Nusra untuk bisa hadir mengikuti Perpas XII di Larantuka, Keuskupan Larantuka.
Selain itu, Uskup Frans Kopong juga mengajak semua umat keuskupan Larantuka untuk menyambut Perpas XII Regio Nusra dengan hati yang gembira.
“Semua uskup se Nusra bersama delegasi keuskupan, selamat datang di Larantuka dalam kegiatan Perpas XII Regio Nusra. Umat Keuskupan Larantuka menyambut kedatangan dengan gembira,” kata Uskup Frans Kopong. *
Penulis : Wentho Eliando
Editor : Anton Harus
Halaman : 1 2









