Perwakilan RCS, Usep, menyebutkan, data populasi Elang Flores di Nusa Tenggara hanya 300 ekor atau 150 pasang.
“Elang Flores merupakan jenis hewan monogami yang beranak satu hanya sekali dalam dua tahun, itupun kalau hidup atau mati,” kata Usep.
Tantangan Konservasi, sebab utama penurunan populasi raptor yang utama, kata Usep, adalah hilangnya habitat, terutama jenis-jenis raptor mendiami pulau-pulau kecil, dimana populasi asalnya tersisa sedikit dan tak memiliki tempat lain untuk didiami.
Selain itu, pemakaian bahan-bahan kimia untuk membunuh mangsa raptor yang dianggap hama juga masalah serius kelestarian burung.
“Penangkapan raptor untuk diperdagangkan secara ilegal masih sering terjadi, juga di Indonesia. Pasar-pasar burung besar biasanya masih menjual raptor secara langsung,” ujar Usep.
Usep menegaskan, peran keterlibatan masyarakat dan organisasi lokal dalam upaya konservasi Elang Flores sangat penting dalam melindungi lokasi sarang burung Elang Flores karena masyarakat tinggal di sekitar lokasi tersebut.
Pengetahuan masyarakat lokal juga merupakan informasi berharga bagi ahli biologi dan peneliti raptor.
“Sangat strategis jika ada kolaborasi antara masyarakat lokal, peneliti, perguruan tinggi, LSM, lembaga pemerintah bahkan korporasi perlu didorong. Para pihak memiliki profesionalisme dan keterampilan atau sukber daya yangvtelevan untuk disumbangkan,” ujarnya.
Perwakilan KPH Mabar, Hasan menyebutkan luas kawasan hutan Mbeliling sebanyak 24.000 hektare, salah satu kawasan terluas di Mabar selain kawasan hutan Bowosie 20.000 hektare.
Beragam flora dan fauna yang ada di dalam jawasan hutan Mbeliling yang dilindungi, salah satunya Elang Flores. Karena itu, berharap kepada berbagai pihak untuk bekerja sama melestarikan burung dan ekosistem hutan sebagai habitatnya.
Penulis : Andre Durung
Editor : Wentho Eliando
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya










